Review – Nausicaä of the Valley of the Wind (1984)

5

Jika kau ingin mengerti hakikat paling sejati seorang tuan putri maka film ini bisa memberikannya. Nausicaä adalah satu personifikasi karakter paling dahsyat yang pernah diciptakan didepan kisah dengan keniscayaan.

Ya, dan aku tidak pernah merasa begitu tercengang atau takjub oleh penggambaran sifat seonggok karakter fiksi-pun yang sehebat ini. Nausicaä memiliki hati yang paling besar, kelembutan yang paling murni, keberanian yang paling hebat, dan cita-cita yang tanpa ada pura-pura. Filmnya akan begitu signifikan dalam memberi konflik yang mendebar, tapi entah bagaimana caranya satu perwakilan tokoh dengan mandiri bisa mengimbanginya. Aku menyebut Nausicaä sebagai insan sempurna.

Nausicaä of the Valley of the Wind adalah film post-apocalyptic dengan konsep yang mantap dan terasah baik. Seluruh ceritanya seperti telah direnungkan sebelumnya. Dengan runtime yang hanya 117 menit, secara implisit filmnya sebenarnya mengemban semesta yang betul-betul besar. Ambil contoh seperti The Lord of The Rings, ia hanya bercerita tentang Frodo tapi secara tak langsung filmnya menunjukkan bahwa banyak hal yang sebelumnya telah terjadi di semesta Middle Earth, ratusan hingga ribu tahun yang lalu.

Nausicaä of the Valley of the Wind atau dalam versi lokalnya Kaze no Tani no Naushika menggesturkan perihal yang sama pula. Lewat pembicaraan mengenai sejarah kau bisa merasakan vibes universe yang masif. Kisah disini adalah mengenai dunia yang hampir di seluruh belahannya punah sejak pergolakan industri 1000 tahun yang lalu. Semenjak perang paling berpengaruh di muka bumi, Seven Days of Fire; kini bumi hanya seperti tempat sementara bagi yang beruntung selamat, sebelum gelombang spora yang muncul dari bangkai serangga-serangga bergerak sebagai Fukai dan meracuni udara. Serangga-serangga di dunia kini memegang kendali, dan ukuran mereka berkali-kali lipat, ukiran kisah mengatakan bahwa perang antara kedua makhluk (manusia dan serangga) sudah sering terjadi tak terelakkan.

Seluruh umat manusia memikirkan bagaimana untuk merubah ini semua, memutarbalikkan takdir seperti seharusnya. Dan sepertinya solusi mereka semua tak akan lebih bijak dan penuh pemikiran nurani daripada Nausicaä. Mungkin benar seperti katanya, kekacauan masal didunia terjadi karena keegoisan, mengedepankan pemusnahan daripada jalan tengah. Seluruh kaum di dunia, mulai dari Pejite hingga Tolmekia bertindak secara parsial dan justru membuat semua memburuk. Dan itu semakin memburuk pula dan menjadi diluar batas untuk situasi di Lembah Angin, dimana Nausicaä dan bangsanya hidup. Pasalnya, tanahnya yang subur dan aman itu kini terancam.

Diadaptasi dari manga-nya sendiri, Hayao Miyazaki menjanjikan penceritaan tentang fase kritis yang bisa mempengaruhi penontonnya dalam merasakan pelik kekhawatiran yang luar biasa. Kadang-kadang titik di filmnya bisa sangat mencemaskan dan empatis untuk diikuti, untuk melihat nasib-nasib diujung tanduk para masyarakat Lembah Angin itu.

Salah satu kreasi awal Miyazaki ini telah menunjukkan sebongkah taji mengenai ide dan pembawaan cerita. Alurnya bergerak dramatis dengan atmosfir “peperangan yang menunggu” yang mendegupkan jantungmu. Tema sosio-politik yang dibawakan, serta isu lingkungan ditambah dengan fantasi imajinatifnya seakan-akan membuatmu berpikir: tak mungkin cerita ini bisa terbentuk tanpa suatu ilham.

Nausicaä of the Valley of the Wind, walaupun mungkin saja kau tak semengagumi filmnya setinggi aku dalam memuja ini, setidaknya tidak ada seorangpun yang akan membencinya. Filmnya melambangkan kekuatan kendati sedikitnya harapan, ini adalah kisah besar tentang keniscayaan.

Engineering student but movies way more than manufactures