Review – Moonlight (2016)

4

Sama seperti 12 Years A Slave , Moonlight  adalah ‘Film Terbaik’ tahun ini, yang mungkin bukan untuk semua orang, jika kau tidak mengharapkan atau mempersiapkannya.

re moonlight

Aku berjanji akan me-revisit Moonlight suatu saat nanti, bukan besok, atau secepatnya, itu karena Moonlight adalah satu yang hard to watch. Dan pada saat itu, aku akan mengagumi filmnya lebih dari saat ini. Aku meyakini itu, dan aku meyakini pula siapapun yang mengatakan bahwa ini adalah film yang sempurna sama sekali tidak salah, sangat mudah untuk mengerti mengapa Moonlight akan begitu saja masuk, dan mungkin akan tinggal di benak audiences-nya.

Filmnya sendiri mencuri perhatianku lewat posternya, nyala neon yang terkembang dalam poster karakternya, terbagi menjadi tiga warna dan tiga karakter. Ekspektasiku adalah film omnibus, tetapi alih-alih ingin menyajikan film demikian dengan multi-character, Moonlight sesungguhnya adalah film tentang single-personcoming-of-age yang terpapar pada tiga chapter. Menceritakan kehidupan seorang bocah Afrika-Amerika yang hidup ditengah-tengah neighborhood-nya, tapak-tapak seorang bernama Chiron, dipersembahkan Barry Jenkins -serta naskah yang diekstrak dari story oleh Tarell Alvin McCraney, dari saat ia bocah, remaja dan dewasa. Diperankan oleh tiga aktor berbeda (Alex Hibbert, Ashton Sanders, dan Trevante Rhodes), dan ketiganya, secara magis bisa menanam karakterisasi yang solid dan melekat bagi karakter yang mereka bagi bersama, tiga orang untuk karakter tunggal, dieksekusi oleh akting yang membaurkannya menjadi satu, dan mengena.

Ada ambisi yang bagus dari naskahnya, bukan jalan cerita yang penuh kejutan atau kerumitan, ia tidak kompleks, dan tidak bermuluk-muluk, entahlah, siapapun pasti merasa bahwa naskah film ini memiliki keinginan yang besar, kau akan merasakannya begitu saja. Bukan tentang plot sama sekali, Moonlight adalah tontonan serius dan patut direnungkan, dan ambisinya dibayar dengan sempurna oleh pengerjaan depan layar penuh kehati-hatian serta fokus. Apa yang diceritakan Barry Jenkins terasa sebagai satu alkisah yang murni.

Filmnya sendiri sangat personal, Chiron dan kebimbangan terhadap satu isu tentang self-discovery. Film ini dibagi tiga, namun menawan di semuanya, chapter pertama adalah Chiron kecil, selalu menjadi bully-an, ia membenci teman-temannya, selalu diganggu hingga ia lari bersembunyi di dalam sebuah bangunan kecil kosong, tak sengaja bertemu seorang tengah baya bernama Juan (Mahershala Ali), yang selanjutnya menjadi teman dekatnya, pertemanan tak biasa yang memancarkan unsur kemanusiaan. Juan adalah pengedar narkoba, memang hal yang tidak benar, tetapi untuk keadaan yang sulit kita tahu itu hanya sebatas pekerjaannya, dan kepeduliannya terhadap Chiron menunjukkan bahwa ia adalah manusia biasa yang humanis. Chiron bagaikan keponakan kesayangan Juan dan Teresa (Janelle Monáe) yang tidak sengaja bertemu. Bagian kedua adalah kehidupan sekolah menengah, Chiron sudah remaja dan ia masih diganggu, ibunya sebagai orang tua tunggal juga masih memakai narkoba, menjadi labil dan menggila setiap saat. Hidup Chiron sepertinya tidak terlalu berubah, kecuali hubungannya dengan teman sepermainannya, Kevin, yang dihadapkan pada tingkatan baru.

Bab pertama dan kedua Moonlight adalah narasi dengan kualitas, yang kuat dan membangun, namun aku harus akui bahwa bab ketiga sebagai bagian penutupnya -mengkisahkan Chiron dewasa dengan gambaran kehidupan yang berbeda, adalah bagian paling dahsyat dan menggetarkan jiwa. Aku tak akan bilang kali ini tentang apa, namun Chiron sekarang kekar, berkalung perhiasan dan memiliki mobil sendiri, dia sudah menghasilkan uang sendiri, namun jauh dibawah, jiwanya mungkin masih dihantui oleh masa lalu, tampilannya mungkin berubah, namun bisa jadi ia masih berjuang untuk menemukan jati dirinya.

Sulit mendeskripsikannya, Moonlight bahkan barely a dialogue movie, Barry Jenkins menyemburkan determinasinya melalui frame-frame potrait. Mendekap lekat wajah-wajah karakternya, kulit hitam dengan mata putih, kadang penuh keringat, dan mereka jelas tidak dalam suasana yang membahagiakan. Moonlight adalah film bagi semua karakternya, Juan milik Mahershala Ali yang sayangnya berlalu begitu cepat, Naomi Harris yang memerankan seluruh karakter ibu Chiron untuk setiap Chapter dengan totalitas, dan juga Kevin (diperankan oleh tiga aktor pula) sebagai satu-satunya teman Chiron. Semuanya di-highlight dengan porsi yang pas, mengelilingi kisah utama karakter intinya, Chiron, yang depresif dan menyakitkan.

Moonlight diumumkan sebagai jawara Best Picture Academy Awards tahun ini, dan kita harus menyadari bahwa itu beralasan kuat, sesuatu yang mungkin butuh direnungkan, bahwa Moonlight adalah film yang amat penting. Tidak untuk penikmat film, tapi seluruh orang, dan siapapun yang merasa sebagai manusia. Ingat-ingat ketika 12 Years A Slave memenangkan penghargaan yang sama, ini adalah hal yang relatif mirip, Moonlight tidak ditujukan untuk memperkaya kantong para produser, atau pamer teknologi dan desain produksi, Barry Jenkins tahu, kisah Moonlight perlu ia ceritakan. Sebuah pesan yang perlu menyebar, yang mungkin bukan karena kita tak mengetahuinya, tetapi karena kita mungkin luput tak memperhatikannya.

Seperti tagline-nya : This is The Story of A Lifetime. Bayangkan film Boyhood dengan durasi yang lebih pendek, dan juga keberanian yang lebih tinggi. Moonlight memberikan wawasan, studi masif tentang human-psychology. Chiron adalah bocah yang hampir tidak pernah berbicara, ia kadang hanya termenung dalam sakitnya batin oleh keadaan, sementara pula bergulat dengan seksualitasnya. Betapa insightful-nya film ini mungkin saja bisa merubah persepsi kita semua.

Harus kukatakan bahwa Moonlight selalu berhak dan pantas menerima segala yang telah mereka raih setelah semua ini. Walaupun aku sendiri merasakan bahwa durasinya yang terhitung pendek belum bisa menangkap dan menarikku lebih masuk, aku tahu betul dan sadar terhadap takdir dan nasib. Terkadang hidup bisa sangat jelek dan pahit, dan kekuatan dibutuhkan, bukan selalu untuk membalikkan keadaan, namun sekedar untuk bertahan dalam menjalaninya.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick