Review – Monster University (2013)

4

Monster University dengan memuaskan memanggil kembali kenangan Monster, Inc.. Dan tidak sulit untuk mengatakan keduanya adalah tontonan luar biasa.

Terhibur di setiap menit film bukanlah hal mudah untuk dicapai, tapi Monster University tidak terlalu kebingungan untuk memberikan perasaan itu. Cara film ini memaksimalkan keberadaan film pertamanya begitu efektif dan mengena, mencoba konsisten disetiap aspek film, sebenarnya satu kalimat sudah cukup menyimpulkan film ini. Monster University (MU) adalah prequel yang sempurna.

Project-nya mengejutkan, long gap yang diberikan antara rilisan franchise ini lebih dari satu dekade, 2001 dan 2013, dan hal tersebut akan sangat aneh jika kau merupakan fan berat Monster, Inc. ketika kecil, dan baru bisa menikmati potongan selanjutnya ketika sudah kerja dikantor. Uniknya, satu tahun sebelum MU dirilis, sebuah film dari franchise sci-fi legendaris memproklamaksikan sekuel keduanya, Men In Black 3 tayang 10 tahun setelah Men In Black 2 dirilis pada 2002. Jadi aku katakan hal seperti ini memang mengejutkan, tapi hal ini sudah mulai umum, jangan kaget jika tiba-tiba Up atau Wall-E gantian seperti itu.

Yang dulunya digenggam oleh tiga sutradara, MU kini didirect sendiri oleh Dan Scanlon namun dengan komposisi screenwriters yang tidak jauh berbeda. Tapi tidak menceritakan kisah selanjutnya dimana perusahaan Monster, Inc. merubah sistem kerjanya ditangan Sullivan (akhir cerita Monster, Inc.), tapi merupakan kisah sebelumnya. Monster University mengisahkan beberapa tahun sebelum buddy Mike Wazowski (Billy Crystal) dan James Sullivan (John Goodman) bekerja di Monster, Inc., tepatnya ketika awal kuliah dimana keduanya tidak saling kenal. Sulivan digambarkan sebagai murid yang berlagak, mengandalkan fisik dan geraman khas, namun pemalas. Disisi lain, Mike punya ambisi besar, cita-citanya adalah menjadi scare monster, masuk prodi scare course dan mengedepankan penguasaan teori. Mike dan Sullivan bertemu, atau kubilang tidak sengaja bertemu, dan hubungan keduanya mengeruh karena satu sama lain dari mereka harus membuktikan ia yang lebih baik.

Yang tadi itu adalah gambaran kecil dari begitu kompleksnya film ini, Dan Scanlon begitu mempelajari Monster, Inc. dan ia tahu apa yang tidak ada disana. Monster, Inc. adalah tentang hubungan Sullivan dengan Boo, pesan film mengajarkan kasih sayang dan keimutan, sedangkan MU lain, ia seperti men-cover apa yang hilang dari sana, yaitu chemistry antara Mike dan Sullivan. Jadi jika kau kecewa akan Monster, Inc. yang tidak terlalu memperlihatkan hubungan keduanya, MU tidak bisa lebih memuaskanmu karena itu adalah perjalanan dari keduanya, yang awalnya orang asing hingga sahabat erat. Dan satu lagi, Dan Scanlon dengan cerdik memberikan sudut pandang yang membuat kedua film ini berbeda, jika di Monster, Inc. aksi Mike begitu minor dibawah karakter Sullivan, justru di MU Sullivan gantian menjadi Sidekick-nya Mike seolah monster hijau bulat ini karakter utamanya. Sangat memuaskan dan adil.

Dan yang ditawarkan MU bukan serta merta hanya persahabatan, pesan klasik tentang ‘jangan meremehkan orang’ dan ‘pembalasan para minoritas’ dibawakan dengan set college life yang begitu relevan bersama karakternya. Seperti stereotype, ada sekumpulan mahasiswa nerds dan mahasiswa kelewat populer dan disegani tapi tidak pernah keluar dari kata sombong. Tapi itu hanyalah background, jadi jangan kuatir bagi kau yang skeptis tentang movie about college karena pengembangan plot yang diberikan MU sangat nyaman dan menyenangkan untuk diikuti. Banyak turn point dan ide tentang competition itu sangat menggairahkan dan obviously amusing.

Selain itu semua, bagusnya MU adalah ia yang konsisten dalam segi movie-balance sama seperti Monster, Inc., tipikal joke yang sama, karakter-karakter monster yang tidak jauh berbeda, porsi comedy yang mengembangkan karakternya. Dan Scanlon yang walaupun ia harusnya boleh tidak peduli, berusaha keras agar bagaimana franchise ini berhubungan kuat satu sama lain, mengingatkanku bagaimana akhir The Hobbit mampu menggelitikmu untuk menonton The Lord Of The Rings lagi dan sama halnya film ini, itulah mengapa aku bilang ini prequel yang sempurna. MU mempelajari bagaimana duo pal Mike dan Sullivan bisa bekerja di Monster, Inc., hingga mengapa Randall begitu benci Sullivan.

Entah Monster, Inc. ataupun Monster University, adalah film yang sama-sama kuat, moving dan heartwarming toh terpisah 12 tahun. Sekarang kita tinggal menunggu, apakah project animasi Pixar lain, Finding Dory dan The Incredibles 2 bisa membangkitkan ‘kematian sementara’ film pertama mereka pada 2016 nanti ?

Engineering student but movies way more than manufactures