Review – Minions (2015)

2

Minion adalah kreatur yang tak sanggup bertahan dan cenderung kebingungan tanpa adanya sosok Bos. Dan sepertinya, ‘Minions’ adalah hal yang sama. Film ini tak pergi kemana-mana

re minions

Sesuatu yang mengingatkanmu akan sebuah film tidak selalu datang dari narasi cerita atau plot, karakter-karakternya bisa pula jadi modal jual. Ketika karakter bisa jadi sesuatu yang ikonik, maka orang-orang melihatnya sebagai financial benefit. Adaptasi tokoh superhero sudah menjalani beberapa kali remake. Dan semuanya tahu, itu karena karakter mereka yang sudah mengakar dan mengena. Untuk hukum film animasi, karakter ikonik berarti keuntungan tambahan bagi produser/director, hasilnya : project film sekuel yang siap digarap dengan bekal yang sudah ada. Namun jika tokoh ikonik justru jatuh pada karakter non-utama, produser juga tak akan habis pikir sebuah film spin-off lah yang jadi jawaban.

Penguins of Madagascar, dan Minions adalah contohnya. Tapi hadirnya installment ini bukan didasari karena film induk mereka jatuh gagal. Baik Madagascar dan Despicable Me sudah sama-sama merajut trilogi mereka, dan mungkin juga tidak berhenti disana. Justru film induk ini berhasil mengeksplorasi karakter sampingannya menjadi potensi duit. Karakter Minion adalah pencuri perhatian ditengah cerita Gru dalam Despicable Me, yang melahirkan pertanyaan : Bagaimana jika para minion memiliki filmnya sendiri dimana makhluk kuning ini adalah kawanan utamanya ?

And they’re nailed it !. Minions menang besar di pasar, menjadi salah satu animasi terlaris dengan highest grossing di berbagai tempat. Indonesia dan Malaysia bisa diambil contoh. Minion telah hidup menjadi pop kultur, kekuatan seni dan karakterisasi yang smart telah memaksa Minion akan tetap digemari, walaupun filmnya sendiri, duh, tak akan ragu kusebut gagal.

Pierre Coffin harus sadar PR-nya akan film ini, Minions memberikan narasi paling berantakan dan seperti tak disusun dengan baik. Melantur. Kadang satu momen terasa terlalu pendek dan satu momen lainnya kelamaan. Tapi yang pasti, semuanya tidak bisa memberikan suatu yang mengena.

Awalnya terlihat asyik, Minions mengambil waktu sebelum Despicable Me dimulai. Coffin mengajak penonton untuk mempelajari segalanya tentang minion dari awal. Opening credit dilatar belakangi grafis protozoa yang saling membelah diri dan menciptakan mahkluk kuning bermata satu (dan kadang-kadang dua), berkoloni dan terus bertahan hidup sejak jaman purbakala. Kurasa rubrik ‘Minion’ di Wikipedia harus diperbarui setelah adanya film ini. Beberapa informasi memperkaya background si fiksi satu ini, bahwa mereka adalah makhluk nomaden, berumur panjang (sepertinya juga tidak mengalami mati) dan sepertinya juga tidak berkembang biak. Tetapi sifat para minion yang cenderung tak bisa mandiri, mengemudikan premis kepada perjalanan kawanan minion untuk selalu mencari sosok ‘bos’. Sajian keteledoran dan kenaifan si kuning berkacamata yang membuat bos-bos terdahulu mereka harus mati konyol, menutup pembukaan film dalam memperkenalkan ikonnya.

Lalu Minions mengalami ‘kebuntuan’

Penonton harus terpaksa menerima narasi yang ampun membosankan, tepat setelah para Minions bertemu antagonis utama Scarlett Overkill (Sandra Bullock), film ini mengalami penurunan kualitas. Agaknya plot turn yang diberikan terasa aneh dan tak masuk akal sama sekali. Scarlett yang saat itu mengangkat tiga minion untuk menjadi ajudannya (katakanlah begitu), mengutus mereka untuk merampas harta terbesar Inggris, mahkota Diana. Anehnya, ketika sang tiga minion berhasil mencurinya, tiba-tiba Scarlett merasa ia dikhianati. Oke Coffin, atau entah siapa yang menggagas cerita ini, darimana letak logika seperti itu !. Really grind my gears.

Pokoknya, Minions yang berhasil meraup keuntungan itu, tetap saja mengecewakan. Bingung juga kenapa ia bahkan tidak bisa sebaik film-film animasi umum milik Disney atau Pixar. Setiap karakter baru yang muncul tidak bertahan lama, tidak terlalu memberikan kesan, jatuhnya malah setiap adegan film yang sudah-sudah bukan tidak menarik lagi, bahkan untuk bisa dibilang tidak penting untuk plot-nya sendiri. Apakah memang ini standar produksi Illumination Entertainment ?. Semoga saja tidak karena aku cukup mengantisipasi The Secret Life of Pets.

Ah, lagipula ini bukanlah film minion yang kompleks. Mayoritas dari keseluruhan film hanya tentang Stu, Kevin dan Bob, tiga minion yang justru sudah melegenda di Despicable Me. Kualitas kekonyolan yang dihadirkan agak berkurang walaupun entitas usaha Coffin dalam menggelakkan tawa lewat kepolosan Minion menjadi lebih sering. Ah, lagipula merekapun tak sepolos itu di film ini. Mungkin karena menjadi tokoh sentral, minion jauh terlihat lebih mandiri, mengerti dan fasih berkomunikasi. Momen-momen precise seperti adegan dua minion tertawa karena kata ‘bottom’ di Despicable Me 2 bisa jadi tidak kau temukan disini, karena kau pasti sudah bosan duluan dari awal film melulu tentang minion.

Jadi, kisah macam apa yang bisa kau harapkan dari film ini ?, sesaat kupikir semuanya adalah awal mula kisah bagaimana para Minion bertemu dengan Gru. Dan mungkin memang bisa dikatakan begitu, namun cerita Gru bertemu minion bukanlah integral dari keseluruhan film, bahkan hanya disajikan di beberapa menit terakhir. Seperti memaksakan saja agar minion mempunyai koneksi dengan Despicable Me. Diluar hal itu, seluruh storyline film sama sekali tak berhubungan dengan Despicable Me, bahkan bisa dikatakan tidak ada unsur cerita yang bisa dikatakan integral.

Suka atau tidak, minion tetaplah favorit mengabaikan filmnya. Tetap dipoles dengan kenaifan dan tingkah laku yang sembrono dan juga kemampuan mereka dalam mendalami seluruh bahasa di dunia (mungkin), minion tetaplah lucu. Sangat lega mendengar mereka berbicara dalam ‘bahasa’ untuk sesekali.

2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick