Review – Midnight Special (2016)

3

Midnight Special  tidak memiliki banyak dialog, sebagai ganjaran, ia bisa mencengkrammu kuat dengan rasa penasaran yang tidak berhenti.

re-midnight

Midnight Special bukanlah -walaupun terdengar seperti -sebuah promo daripada restoran makanan cepat saji yang hanya datang satu atau dua kali dalam satu bulan. Aku sendiri tak merasa title nya merepresentasikan film ini secara integral, baik isi maupun penyelesaiannya. Apapun itu, aku lebih yakin bahwa Jeff Nichols menujukannya sebagai suatu catchy headline, penarik perhatian yang efektif. Termasuk bagiku. Wellit’s Midnight Special, so why not !?.

Aku sedang demam dengan sutradara-sutradara seperti Jeff Nichols, Jeremy Saulnier (Blue Ruin, Green Room), Duncan Jones (Moon), atau David Gordon Green (Washington, Prince Avalanche). Mereka muda, kurang populer namun menjanjikan, tidak sering membuat film, tetapi film mereka yang sedikit itu mampu mendeskripsikan signature yang kuat akan kendali penuh sutradaranya, baik cerita ataupun direksi. Bicara Jeff Nichols sendiri, aku akan bilang bahwa Midnight Special lebih mirip dan terarah seperti Take Shelter (2011) daripada Mud (2012), yang dua-duanya sama sama ia arsiteki.

Yakni unsur thriller yang lezat, dan sifatnya yang membangkitkan rasa kepenasaranan. Walaupun masih kurang menawan ketimbang betapa provokatifnya Take Shelter, film Nichols kali ini masih sangat lihai dalam menjaga kemisteriusannya. Nichols seperti sangat tega, seluruh film -dari awal hingga akhir -tampak seperti sebuah sobekan kecil paling terakhir daripada timeline peristiwa di dalam kisah yang diembannya. Tensi sudah naik sejak awal, konflik sudah masuk, dan penonton masih buta terhadap protagonis atau antagonis. Tidak, penonton masih buta terhadap apa yang sebenarnya terjadi !.

Namun, kujamin ini menjadikannya semakin menantang. Setiap penontonnya boleh memberikan analisisnya tentang ini dan itu. Interpretasi berbeda di tiap babak film karena nyatanya Midnight Special juga tak terlihat berusaha untuk membeberkan petunjuk tentang akar permasalahan pada film atau hal tentang latar belakang karakter-karakternya, yang sebenarnya akan terasa lebih mengiluminasi jika diulas.

Dibuka dengan scene breaking news tentang penculikan anak berumur sekitar 10 tahunan bernama Alton (Jaeden Lieberher) yang ternyata diketahui tersangkanya merupakan ayah kandungnya sendiri bernama Roy (Michael Shannon). Namun polisi tetap mengejarnya karena mereka tahu Alton bukanlah anak biasa. Intelijen telah mempelajari kemampuan supranaturalnya dan menganggap bahwa ia akan berada ditangan yang salah jika tidak digenggam oleh pemerintah. Di tempat lain, suatu komunitas kultural sebut-saja ‘peternakan’ juga mengejar Alton yang menganggap kekuatannya sebagai firman Tuhan. Proses kejar-kejaran berlangsung hingga akhir.

Lalu, siapa Roy, sang ayah ini sendiri ?. Dengan sedikit petunjuk, Roy merupakan caring father, memang ia membawa kabur anaknya, tetapi hubungan dengan anaknya sangat dekat, bisa dibilang sang anak Alton juga setuju dengan pelarian ini. Ditemani dengan teman Roy, Lucas (Joel Edgerton) yang protektif dan bisa diandalkan dan juga eksistensi Kirsten Dunst yang muncul pada paruh kedua sebagai ibu Alton yang khawatir tapi tidak kehilangan kepercayaan. Mereka bertiga adalah sentral kubu baik yang harus mengamankan Alton.

Jika Take Shelter lebih bermain psikologi dan ketakutan terhadap suatu disaster, Midnight Special melakukan blending unsur supernatural-spiritual dengan elemen sci-fi dan sedikit cipratan darah. Shannon sebagai customer sejati Jeff Nichols (ia muncul di semua film Nichols termasuk Loving yang tayang lebih lambat daripada film ini) memberikan determinasi langka akan karakternya yang luar biasa dingin, ia ketakutan dibelakang mimik wajahnya yang selalu serius, tidak banyak bicara namun bersikeras. Iya, cukup langka untuk seorang tokoh utama. Nichols berhasil mengembangkan potensi Shannon yang sebenarnya lebih sering digunakan sebagai karakter antagonis (Premium Rush, Man of Steel, 99 Homes). Midnight Special lebih memilih bertindak daripada banyak berbicara, bahkan Alton juga seringkali memutuskan apa yang harus dilakukan. Agak mirip karakter The Rainmaker pada film Looper, berkekuatan spesial namun memiliki kelemahan, pun mereka juga bisa memutuskan tindakan.

Yang kupuji dari Midnight Special ialah ketika ia menggunakan sains fiksi dengan cara sebijak mungkin. Sci-fi yang mampu dihidangkan sebagai materi kejutan. Menegaskan bahwa Midnight Special tidak terburu-buru dan fokus. Ending scene yang powerful, walaupun tidak bisa memuaskan semua penontonnya (sebenarnya bagus, tapi bukan konklusi yang menusuk), dan akupun sadar tentang hal itu. Midnight Special tetap film yang menggugah. Anggaplah ending film ini memang tidak bisa membayar ekspektasi, misal. Jeff Nichols, bagaimanapun tetap berhasil dalam “membangun pondasi” keseluruhan Midnight Special. This movie is a sure nailbiter.

3