Review – Midnight in Paris (2011)

4.5

Midnight in Paris laksana surat cinta untuk sang kota. Dan dengan menambahkan masa lalu, ini adalah surat cinta yang romantis.

Setelah menyelami Netflix dan mempertimbangkan koleksi film romance-nya yang minim judul-judul besar, akhirnya aku memilih menonton Midnight In Paris lagi. Setelah tiga atau empat kali menontonnya, tak sekalipun ini membosankan.

Barangkali memang karya Woody Allen ini memiliki unsur yang terasa personal bagi pribadiku. Unsur yang melekat pada inti ceritanya, tentang seorang novelis dan kota Paris. Dulu ketika masih awal remaja nan naif, baik menjadi penulis dan mengunjungi Menara Eifel adalah cita-citaku. Setidaknya bayangan untuk mencapai dua hal itu selalu mampir lewat dipikiran. Bayangkan jika sebuah film memiliki paket komplit yang merefleksikan apa yang kau sukai, yang memiliki minatmu, maka tiba-tiba filmnya terasa spesial. Disitulah Midnight in Paris terasa personal. Kalian semua pasti mengerti perasaannya.

Gil Pender (Owen Wilson) dan tunangannya, Inez (Rachel McAdams) sedang numpang ikut liburan ke Paris karena kebetulan ayah Inez sedang ada urusan bisnis disana. Kebetulan, Gil yang sedang menyusun draft novelnya butuh refreshing dan sedang mencari inspirasi. Paris tidak bisa lebih baik untuk hal ini.

Namun seiring waktu, Gil tampak terdistraksi dengan itinerari liburan mereka, apalagi ketika mereka bertemu teman lama Inez, Paul (Michael Sheen), semacam sejarawan yang menawari mereka sebagai tour guide untuk situs-situs penting di seputaran Paris. Gil tak memiliki reaksi yang sama dengan Inez ketika Paul menyampaikan pengetahuan-pengetahuan. Inez mengganggap hebat, tapi menurut Gil, Paul adalah seorang pedantic alias bengah, si pseudo-intellectual alias sok mengerti.

Pada satu malam, Gil memutuskan melipir dari agenda mereka, ia ijin tunangannya untuk pulang saja. Sembari jalan-jalan kearah hotel, Gil tersesat, masuk kesebuah gang berpaving cukup sempit yang sepi. Ia yang tak tahu dimana ia sekarang, rebahan sejenak. Lonceng tengah malam berbunyi, dan tiba-tiba sebuah mobil Peugeot tua lewat dan berhenti. Sekumpulan orang di kursi penumpangnya meneriaki Gil, mengajaknya untuk ikut pergi ke pesta yang sedang dituju. Gil yang agak mabuk setuju akibat keramahan mereka.

Sampai di tujuan, Gil mendapati dirinya di sebuah lounge dengan dekorasi klasik yang dikumpuli orang-orang dengan penampilan vintage. Gil mengobservasi sekelilingnya, wajahnya kebingungan. Lalu seorang pasangan menghampirnya, berkenalan, Zelda dan Scott Fitzgerald (Alison Pill dan Tom Hiddleston) nama mereka. Gil kaget, kebetulan sekali mereka memiliki nama itu. Namun reaksi Scott dan Zelda bukanlah yang diharapkan Gil, mereka tidak yakin apa yang dimaksud dengan ‘kebetulan’ oleh Gil. Gil kembali memproses keadaan.

Owen Wilson memerankan karakter paling bingung sepanjang pengalamannya mungkin di Midnight in Paris. Ia terkejut, matanya berkaca-kaca, mimiknya kebingungan, bicaranya gagap, setiap kali dia bertemu orang dengan nama-nama yang tak asing ditelinganya. Ia kemudian menyadari bahwa ia telah kembali ke masa lalu di era 1920 an, bagaimana bisa ia tak tahu, tapi ia sadar ini bukan mimpi. Gil senang bukan kepalang.

Mulai saat itu, tiap tengah malam Gil selalu kembali ke gang sempit sepi itu, walaupun sendirian, walaupun Inez tak membeli ceritanya. Ia terus kembali. Mendapatkan wejangan dari Ernest Hemingway (Corest Stoll), mendapatkan novelnya diulas oleh Gertrude Stein (Kathy Bates), hingga duduk bareng Salvador Dali (Adrien Brody). Namun lebih utamanya, ia merasa perjalannya mengunjungi periode itu sangat berarti baginya ketika ia bertemu Adriana (Marion Cotillard), wanita yang membuatnya jatuh hati seketika.

Siapapun yang memiliki ketertarikan terhadap seni dan sejarah akan merasakan gejolak keriangan yang sama dengan Gil. Memang Gil sudah jatuh cinta dengan Paris dari awal. Perjalanan waktu itu bisa saja diinterpretasikan sebagai hal-hal figuratif, tapi sepertinya Woody Allen memang ingin menunjukkan keindahan berekspresi dengan bumbu fantasi disini. Tanpa perlu penjelasan kenapa bisa begini begitu. Ini salah satu kenapa aku mencintai filmnya.

Aspek ke-punjangga-an film ini berhasil mendapatkan perhatianku ketika menontonnya pertama kali dahulu. Namun ketika menontonnya lagi kemarin, aku mendapatkan nilai lain, yang baru kudapatkan dari film ini. Konflik Midnight in Paris muncul ketika ia mengutarakan sebuah ide: Bahwa seseorang selalu melihat masa lalu memiliki karisma, kemenarikan yang lebih daripada masa sekarang, masa yang kita tinggali.

Hal tersebut dirasakan Gil, ia ingin tinggal di masa lalu saja, berteman dengan legenda-legenda sastra yang tidak ada tandingannya bahkan di hingga masa kini yang semakin membosankan. Memang, di masa sekarang-pun kau masih bisa mempelajari sejarah, namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan ketika di masa lalu kau bisa melihat langsung sejarah itu. Dan itu barangkali yang kurasakan secara pribadi. Aku pikir memang selera seni (musik khususnya) jaman sekarang justru mengalami kemunduran yang kentara. Kadang aku juga berimajinasi jika saja lingkunganku adalah lingungan masa lalu, dan kami semua mendengarkan lagu yang sama dari masa lalu yang memang lebih baik. Itu akan terasa sempurna. Aku merasakan apa yang dirasakan Gil ketika ia mengucapkan kata-kata itu, “Aku telat lahir”.

Indah dan sempurna. Midnight in Paris adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Woody Allen mungkin sangat keasyikan dengan imajinasinya tentang masa lalu, namun resolusi filmnya mengingatkan, menegur bahwa apa yang kita miliki sekarang, adalah yang terbaik. Ini adalah proses penemuan diri yang bagus, terpersepsikan pada karakter Owen Wilson, yang walaupun pahit, setidaknya ia bisa lepas dari kepura-puraan dan dengan bebas menentukan apa yang ia rasa terbaik untuknya.

Midnight in Paris laksana surat cinta untuk sang kota. Dan dengan menambahkan masa lalu, ini adalah surat cinta yang romantis.