Review – Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)

5

Cerita yang berani, eksekusi tanpa cela, latar belakang tempat dan musik yang mahal mempertegas segala pujian film yang disebut Mouly Surya sang sutradara ini sebagai Satay Western . Sempurna di segala sisi.

Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak atau kemudian dikenal sebagai Marlina the Murderer in Four Acts karena sukses di pasar luar yang spesifik, akan lebih trivial jika lebih dahulu membahas milestones luar biasa yang berhasil dicapai film ini: Ialah sebagai film pertama Indonesia setelah 12 tahun yang berhasil muncul di Festival Film Cannes yang mahsyur itu, dan beberapa festival film belahan dunia lain. Kedua, menjadi submisi resmi Indonesia di ajang Academy Awards ke 91 tahun depan (jika ia berhasil tembus, ia akan muncul sebagai film Indonesia dalam kategori Best Foreign Movie, suksesor film “Jagal” milik Joshua Oppenheimer sekitar hampir setengah dekade lalu. Tapi ini, secara murni, ditempa oleh penulis dan sutrada Indonesia !). Yang terakhir, Marsha Timothy, aktris utama disini, berhasil memenangi kategori “Actress in Leading Role” pada Sietges Film Festival Germany 2017 menjungkalkan Nicole Kidman. Ya, Nicole Kidman !.

Tema cult-western atau yang disebut Rottentomatoes dengan Neo-Western ini amatlah melekat, apalagi dengan latar-belakang musik arahan Zeke dan Yudhi yang melodik dengan aransemen elemen Indonesia , juga adegan mengendarai keledai semakin sulit untuk menafikkan bagaimana filmnya ingin disebut sebagai demikian. Marlina mengkisahkan rape-revenge story dengan kemasan dark dan violence yang cukup. Judulnya adalah kisah seorang yang sama, Marlina (Marsha Timothy), janda yang dililit hutang, kini suaminya telah meninggal, dan didudukkan tak bernyawa di sudut rumah kecilnya. Seorang jahat yang ia kenal, Markus (Egy Fedly) datang pada suatu hari, mengatakan bahwa temannya, total tujuh orang dengan dirinya, akan merampok seluruh miliknya. “10 babi, 10 sapi dan 7 ayam”. “Kalau kita sempat, kita bertujuh akan tiduri kamu. Kamu jadi wanita paling beruntung malam ini”, kata Markus biadab. Marlina diujung nasib, dan keadaan membuatnya untuk bertindak melewati batas. Itu adalah niatnya, namun berhasilkah ia ?.

Setelah filmografi tak mudah bersama Joko Anwar di Pintu Terlarang dan Modus Anomali, Marsha Timothy sepertinya memang ditakdirkan untuk menghidupi thriller berkelas Indonesia. “Aku nggak merasa berdosa”, kata karakternya ketika Novi (Dea Panendra), semacam gadis tetangganya mengajak Marlina untuk ikut ke Gereja dan memohon ampun atas apa yang telah diperbuatnya. Ketebalan filmnya dalam menunjukkan kekejaman yang tegas dan mujarab dalam memberikan kesan, mengingatkan pada Quentin Tarantino dalam memberikan ritme (seperti pada filmnya Hateful Eight) ; pembunuhan terencana lewat sup ayam dan berkelana sembari membawa kepala manusia. Adegan Marlina yang diusik tanpa diganggu oleh bayangan mayat tanpa kepala itu, entah kenapa memberikan perasaan yang strange, darkly funny.

Potret landskap itu juga jadi poin utama para kritikus, ini Sumba yang secara geografis jarak jauh seperti antah berantah, kembali lagi kenapa ia juga disebut sebagai satay western, adalah karena kontur datarannya yang menawarkan jalanan kecil membelah savana yang luas. Satu rumah terlihat seperti berada beberapa kilometer dari yang lainnya, salah satunya digambarkan sebagai warung yang menjual sate. Truk dan motor yang di shoot dari jarak jauh, yang dengan tidak terburu-buru filmnya menunggu mereka lewat ketika muncul dari satu sisi frame filmnya, berjalan, dan menghilang di satu sisi frame lainnya. Terus terang long shot ini adalah yang aku nikmati dari filmnya, tipikal art house yang memang sengaja menggunakan teknik ini untuk bisa menenggelamkan penonton ke dalam suasananya. Jarang sekali ada close-up, Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak lebih seperti rangkaian fotografi yang memerhatikan komposisi dan estetika. Selalu berusaha menunjukkan banyak hal dalam setiap frame. Adegan dalam ruangan pun, seluruhnya diberikan dalam paparan cukup luas bagimu untuk bisa memerhatikan hal-hal detil. Tak ayal, filmnya disebut sangat terinspirasi Sergio Leone dan film Baratnya pada era 70 an itu. Akupun teringat dengan film thriller pembunuhan Once Upon A Time In Anatolia akibat itu semua.

Betapa pelannya film ini, menghidupkan segalanya. Mungkin itu adalah kekuatan utama filmnya.

Musisi yang akhirnya berbelok sebagai sutradara, Mouly Surya dengan pasti akan mendapatkan penggemar baru. Orisinalitasnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki nyali yang otentik. Parang tajam itu, dan juga bahasa Sumba yang digunakan. Dan kita harus mengakui bahwa lokasi setting ceritanya yang terpencil adalah tantangan tersendiri. Berbekal cerita episodik Garin Nugroho, Empat Babak yang ada di-filmnya juga memiliki esensial masing-masing. Dan yang menarik bahwa keempatnya mengarah pada penuturan tentang feminisme yang kuat. Diberikan bukan hanya karena karakter wanita di film ini banyak memegang peran dalam bertindak penting, selain itu juga tergambar dari bagaimana filmnya menggambarkan rendah karakter laki-laki di film ini juga menarik untuk dianalisa, mereka perampok, sebagian dari mereka adalah Polisi yang tak becus, salah satunya adalah suami tega yang dengan bodohnya percaya dengan telepon palsu. Satir terhadap sosial-kultur dan mungkin endingnya juga menunjukkan transisi moralitas yang kuat dari seorang wanita yang kontemplatif.

Apa yang bisa simpulkan dari film ini adalah bahwa Indonesia telah memberikan wakil yang baik dalam industri ini, pada akhrinya. Ini adalah yang kita butuhkan setelah kita semua sudah mentok dengan komedi penuh aktor bintang, horror bermodalkan hanya make-up atau biografi yang tak kunjung berhasil. Drama-crime yang dieksekusi dengan hati-hati ini adalah obat sempurna. Mouly Surya berada diambang status sebagai sutradara kelas dunia, bukan karena ia terinspirasi dengan karya-karya ataupun gaya penyuntingan orang-orang terkenal itu, tapi bagaimana ia bisa menerapkannya dan mengeksekusi semuanya, sebaik mereka.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick