Review – Manchester By The Sea (2016)

4.5

Manchester by the Sea  adalah film tentang tragedi dan luka batin yang mendalam, memoir pahit tentang keluarga, dan rumah tangga.

re manchester

Terpujilah Keneth Lonergan karena film ini, yang mana bukan hanya merupakan suatu film ordinary yang memiliki cerita ‘luar biasa’, ia juga mampu menanamkan segenggam moral value yang bisa kupelajari dan kupahami telak, ‘jangan pernah menghakimi seseorang dari luar’. Manchester By The Sea memicu prasangka penontonya yang pada akhirnya, mereka tidak cukup berkutik untuk tak hanyut dalam nuansa filmnya hingga akhir. Penonton menunggu-nunggu titik dimana film ini bisa begitu mengena, hingga mereka sadar bahwa selama itu, mereka sudah diombang-ambingkan.

Disini, Casey Affleck adalah Lee Chandlerhandyman penyendiri yang juga lebih memilih untuk tidak banyak bicara. Seorang janitor yang sehari-harinya membetulkan lampu, membenahi kebocoran kamar mandi bahkan menyedot WC. Dia lakukan ini untuk hidup, tak terlalu ada keluhan, ia adalah pegawai yang dependable bagi boss-nya. Ketika itu, Lee yang sedang mensekop salju yang mengepul di depan apartemennya yang benar-benar kecil (seperti flat bahkan indekos), mendapat telepon bahwa kakaknya baru saja mendapatkan serangan jantung. Lee pulang ke kampung halamannya dari tempat ia bekerja di Boston. Mengendarai mobil merah tua-nya yang akan sering kita lihat hingga akhir film, mengemudikannya dalam perjalanan satu-setengah jam menuju hometown-nya dahulu, di Manchester-by-the-sea, Massachusetts (aku sangat kaget mengetahui bahwa judulnya ternyata nama sebuah tempat).

Joe Chandler (diperankan oleh Kyle Chandler), kakak Lee, meninggal sebelum dirinya sampai di rumah sakit. Mengharuskannya melakukan hal yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya, ia harus mengurus jenazah mendiang kakaknya dan menjenguk Patrick (anak Joe, keponakan Lee, diperankan oleh Lucas Hedges) dan menemaninya dalam masa-masa kritis ini. Awalnya Lee pamit absen kerja hingga sekitar seminggu, namun ketika ia mengetahui hal yang mengejutkan -bahwa dalam wasiat kakaknya, ia ditunjuk sebagi wali dari Patrick (atau dalam kata bahasa Inggris sebagai Guardian), sepertinya ia harus menetap lebih lama.

Tema filmnya adalah tentang grief, rasa duka karena Lee dan Patrick sebagai kendali film ini, telah kehilang bagian vital hidup mereka, seorang kakak dan ayah. Lee merupakan paman yang lekat dengan Patrick waktu kecil, bermain dan tertawa, akan tetapi Lee telah lama pergi dan Patrick baru saja beranjak dewasa, ini adalah periode lain bahwa kerekatan mereka tak bisa muncul seperti dulu begitu saja. Itu sudah sangat lama, dan pertemuan mereka adalah karena hal lain.

Kadangkala, Lee terngiang oleh masa-masa lama, terlamun ketika menatap jendela, mengendarai mobil atau ketika menunggu di dalam elevator. Itu adalah kenangan masa lalu bersama orang-orang yang kini telah menghilang, dalam konteks seluruhnya, pergi dan mati. Kenangan bersama Joe dan mantan istrinya, Randi. Kenangan bersama Patrick kecil dan ketika hidup adalah tentang, menaiki boat dan memancing. Mungkin Lee menyadari betapa berbedanya keadaan diantara dinding waktu, atau memikirkan bagaimana cara menghidupi realita dan keadaan saat ini yang tak akan seperti dulu lagi. Lee bersedih, dan kita akan tersentak. Lonergan menvisualisasikan lamunan Lee itu dalam beberapa flashback sisipan yang nyata, bahagia namun lebih banyak sedih. Atau kubilang benar-benar brutal, sangat membungkam. Lee Chandler, seseorang yang diawal adalah pendiam, terlihat antisosial dan misterius itu, ternyata telah melalui banyak, terlalu banyak.

Sebagai wali yang diamanati, artinya Lee harus mengurus apa-apa mengenai Patrick yang baru berumur 16, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, termasuk manajemen keuangan atas segala warisan yang langsung terlimpahkan dari mendiang ayah. Ibu Patrick telah berpisah dengan almarhum ayahnya, dan tidak ada yang tau dimana ia sekarang, cerita ini pula digambarkan melalui kilas balik yang memilukan. Lee melarang Patrick untuk menemui ibunya karena suatu alasan, dan ia juga mengatakan bahwa Patrick harus ikut dirinya pindah ke Boston, namun Patrick merasa bahwa meninggalkan pekerjaan dan menetap di Manchester adalah hal yang lebih baik untuk pamannya dan mereka berdua. Hubungan keduanya memanas, mereka saling bertengkar dan saling egois, Lee yakin bahwa tak ada tempat lagi bagi jiwanya di Machester-by-the-sea, setelah semua ini, kenangan yang baik akan terasa menyakitkan, dan kenangan buruk akan lebih menghantui. Sedangkan Patrick melihat bahwa masa depannya sudah tertata rapi disana, cinta, teman dan sahabat, sekolah dan olahraga. Diantara argumen mereka berdua yang belum mufakat, untuk sementara itu, Lee mendampingi Patrick untuk mengantarkannya ke sekolah dan ke rumah pacarnya, atau kadang mendiskusikan sesuatu dengan kerabat dekat keluarga, George (C.J Wilson).

Screenplay Kenneth Lonergan sebenarnya sangat sederhana, dramanya seperti hasil etasan kehidupan sehari-hari dan bagaimana hal yang sama bisa terjadi pada siapa saja. Kisahnya terasa amat nyata dan jujur pula, dieksekusi dengan sinematografi yang serta merta cukup dan free-flowing dalam menguntit apa yang akan dilakukan para karakternya saat ini dan selanjutnya. Apa yang terjadi selanjutnya lebih nyaman untuk ditunggu daripada di tebak. Manchester-by-the-sea memperlihatkan kerendahan-hati juga kehangatan seorang Lonergan untuk menyuguhkan tema filmnya secara komprehensif, dan tolerable. Momen ketika Lee salah mengartikan kata ‘Let’s just go’ Patrick, saat Patrick meminta ijin untuk tidur dengan pacarnya pada Lee. Masih banyak momen seperti ini, yang bagiku natural serta jujur, dan entah kenapa menurutku sangat penting untuk membangun ‘life vibes’ film ini.

Casey Affleck tidak melakukan akting yang berlebihan, namun ia jelas telah memberikan semuanya, bahkan jiwanya untuk film ini. Manchester by the Sea adalah film yang mempedihkan, tergamblang melalui sorot kehidupan Lee. Tetapi dibangun tanpa terlalu sentimentil, film ini berada ditengah-tengah antara simpati penontonnya dan antipati yang mungkin dicurahkan oleh beberapa karakternya. Mungkin karena Lee sendiri bukan karakter ideal disana, ia tersakiti namun sadar bahwa ia juga bagian dari pesakitan. Bukan melulu menjadi korban atas jahatnya kehidupan, Lee juga pernah melakukan dosa yang mengoyak kehidupan orang lain.  Kompleksnya perasaan dan emosi lebih dari cukup untuk memberitahu bahwa karaktek Affleck satu ini telah memikul beban batin yang sangat berat dan deras. Ia mencoba melarikan diri dengan menjadi pendiam, namun kadang itu tidak cukup untuk menenggelamkan sifat tempramentalnya yang kadang muncul sekonyong-konyong, membanting dan merusak ini itu, jika belum cukup, ia bisa saja memukul orang tanpa alasan ketika sedikit mabuk.

Manchester by the Sea berhasil mengambil hati siapapun saat ini, 99 awards dimenangkan serta 223 nominasi. Yang paling notable adalah ia juga mengantri untuk memenangkan Motion Picture terbaik di Oscar beserta 5 nominasi lainnya, termasuk Affleck, Hedges, dan Michelle Williams (pemeran Randi, Lee’s ex-wife). Tiga nominasi pemeran terbaik dalam satu film, Lonergan tidak bisa lebih puas, tapi kami tak akan mempertanyakannya. Manchester by the Sea memiliki aspek keterhubungan antar manusia yang dahsyat.

Manchester by the Sea membawamu pada potret syahdu, salju, dermaga dan burung camar, mendeskripsikan keintiman karakternya dan kadang tragedi dibaliknya. Dengan tangan oscar-worthy-director Keneth Lonergan, Manchester by the Sea memaparkan drama dimana dalam suatu konversasi, seseorang bisa tiba-tiba diam dan merenung, lalu kembali berbicara lagi. Drama dimana bersahut-sahutan dalam nada tinggi terjadi ketika terjadi ketidaksepakatan. Kita akan mengikuti sepenggal kehidupan Lee Chandler, unstable man yang mencoba sangat keras untuk terus melanjutkan hidup. Kita juga akan mengikuti sepenggal kehidupan Lee Chandler, yang mungkin hanya sekitar satu atau dua minggu dalam aspek length of time disini, tetapi imbas yang kita dapatkan adalah refleksi dan pengalaman yang akan tinggal selamanya.

Backup_of_re2

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick