Review – Magic In The Moonlight (2014)

3

Tidak ada yang salah dalam Magic In The Moonlight, namun ia juga tidak spesial.

While far from a failure, Magic in the Moonlight is too slight to stand with Woody Allen’s finest work.

Critic Consensus di Rottentomatoes, entah kenapa, kali ini benar-benar terdengar akurat, untuk merepresentasikan perspektif mayoritas akan pengukuran kualitas film ini. Mengapa Magic In The Moonlight terasa sangat biasa namun tidak gagal terdengar jelas dimana kelebihan dan kekurangan film ini sama sekali tidak bisa disembunyikan. Berani bertaruh, dikatakan jelek atau bagus-pun, Magic In Moonlight pasti tidak jauh dari nilai tengah-tengah.

Tidak bisa disandingkan dengan karya Woody Allen sudah mutlak jika membawa nama film ini. Namun tidak kehilangan sentuhannya, Magic In The Moonlight juga bisa melebihi ekspektasi dalam membawa kesan charming, sosok Woody Allen tidak hilang dari gaya penataan set berlokasi di French Riviera, lantunan jazz saxophone, dan yang paling terhilat, warm romance. Tapi tetap, betapapun itu mengingatkanmu akan (mungkin) Midnight In Paris, Magic In The Moonlight tidak bisa disejajarkan disana, film ini lebih seperti quick entertainment, tidak membekas tapi lumayan melihat Emma Stone disana.

Woody Allen mengirim kita ke tahun 1928 tepatnya, seorang illusionis terkenal bernama panggung Wei Ling Soo sedang mengadakan pertunjukan sulap di Berlin. Turun minum melakukan pertunjukan, kolega lamanya Howard Burkan (Simon McBurney) membawakannya tugas baru. Ia menyarankan Wei Ling Soo yang disini bernama asli Stanley (Colin Firth), orang Inggris, untuk memecahkan kasus cenayang palsu yang begitu hebat yang mana sedang tinggal sementara bersama keluarga kaya Amerika, The Catledges, di Côte d’Azur, Perancis. Stanley terkenal sebagai pembuka kedok cenayang palsu, karena alasan jelas, ia tidak percaya hal mistis, namun cenayang yang akan ia hadapi saat itu, Sophie (Emma Stone) memiliki kemampuan mental impression yang tidak mungkin bisa dipalsukan. Seiring berjalannya film, penonton akan berdiri bersama Stanley disana, tercengang akan sihir pemanggilan roh dan lama kelamaan akan mempertanyakan akal sehatnya, apakah selama ini ia salah, apakah Sophie adalah seorang supernatural asli.

Chemistry mulai tertata, dan sedikit demi sedikit kita dibawa kesuatu pengembangan karakter kecil-kecilan yang rapi, itu adalah tentang film ini yang mengalami transformasi akan sifat-sifat para tokohnya. Dipegang teguh oleh Colin Firth dan Emma Stone, Stanley adalah seorang sarkastis level tinggi, keras kepala, sombong, kata-katanya keluar begitu saja ketika bicara, dan skeptismenya akan hal-hal spiritual dan apapun itu yang terdengar seperti indra keenam tidak ada tandingannya. Sophie-nya Emma Stone adalah gadis elok berasal dari desa, kemampuan baca kepribadian mengarahkannya ke keluarga kaya yang begitu kagum dengan kemampuan spektakuler ini, ia adalah perempuan cantik , humoris, terbuka dan selalu menginginkan pendapat akan penampilannya. Sophie akhirnya bertemu Stanley, bukan pertemuan awal yang baik karena tujuan Stanley untuk jauh-jauh terbang ke Perancis hanya ingin membuktikan bahwa Sophie adalah seorang penipu dengan mengolok-olok kemampuan yang ia selalu anggap trik palsu, tentu saja dengan kata-kata manis penuh sarkasme.

Disana kau bisa merasakan nikmatnya menonton film ini, whimsical, Allen tahu bagaimana untuk tetap membawakan romance dengan tema yang berbeda-beda, film ke 44-nya ini membuktikan masih ada inspirasi dan imajinasi layak tulis di sosok tuanya itu. Allen tidak terlalu berambisi di film-nya ini, dan apa yang diberikan Magic In The Moonlight dengan baik menggambarkan bahwa film ini lebih dari cukup untuk apa yang coba ia berikan. Storyline yang tidak mengesankan, namun begitu linier dan mudah dipahami, dengan sentuhan transisi yang begitu cepat, Magic In The Moonlight cocok dengan karakter diembannya, Colin Firth dengan perannya sebagai motormouth yang suka menghujat.

Negatifnya, seperti yang sudah kukatakan, sangat terlihat. Substansi film yang diberikan sangat sederhana, minim usaha dalam memberikan sesuatu yang kompleks, dan perbedaan umur antar para cast-nya yang begitu terlihat, di satu sisi semua ini kadang agak terasa menyesalkan.

Well, walaupun bukanlah Woody Allen’s finest work, Magic In The Moonlight tetaplah karya yang fancy, klasik dan whimsical, usahanya masih mampu membuatmu terhipnotis untuk duduk disana dan menyelesaikan film ini.

3

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick