Review – Mad Max : Fury Road (2015)

5

Mad Max adalah film luar biasa, Road Movie yang membara. Mungkin benar dilihat dari judulnya sendiri, jauh lebih pantas untuk memanggilnya sebagai Fury Road Movie

Jangan salahkan aku yang menilai film ini tanpa sama sekali melihat Mad Max Trilogy yang mungkin sudah mengkadaluwarsa untuk beberapa dekade lalu, ini bukan tentang komparasi antara filmnya atau bagaimana aku harus memberi kesan kepada George Miller karena hal itu. Yang jelas, Mad Max baru ber subtitle Fury Road yang katanya merupakan suatu revisit akan karya lamanya ini, adalah sebungkus kebahagiaan yang bisa kau dapatkan di ujung paruh 2015 ini.

Definisi satu kata film ini adalah ‘kejar-kejaran’, 120 menit yang sekitar tiga-perempatnya adalah ‘mari kita kejar dan habisi Tom Hardy’, mungkin akan menjengkelkan bagi yang tidak mengantisipasinya, atau yang tidak terlalu suka hal seperti ini. Jangan telan Mad Max : Fury Road sebagai sesuatu yang harus bisa terkesan cerdas, ini adalah refreshing mata dan degup jantung, gambaran baru bagi film aksi, terasa inventif dan tidak bisa lebih memuaskan, ketika tahu bahwa sekuelnya sudah confirmed, ucapan terima kasih wajib kepada George Miller, terima kasih masih mau membawa kami ke perjalanan hidup-mati yang menyenangkan, lagi.

Tom Hardy memerankan Max, adalah mantan polisi yang sekarang hanya sebatas gelandangan kesepian, kerabatnya sudah lenyap, kenangannya terkubur dengan masa lalu, ia hidup di masa depan yang suram, bukan dystopian dengan ciri-ciri politik yang rusak, ataupun kecanggihan yang tak terkendali lagi. George Miller punya caranya sendiri, masa depan umat manusia adalah hidup tanpa tumbuhan hijau sepanjang mata, tidak ada bangunan, itu adalah Wasteland, gurun pasir, akan terlihat seperti jaman pra-historic, tapi dengan sentuhan sifat dan eksistensi para karakternya, George Miller memberitahu bahwa itu adalah masa depan yang amat sangat buruk untuk ditinggali. Sekarang kau tahu tentang apa itu Mad Max : Fury Road, ya, bertahan hidup, kurang lebih.

Prolognya menceritakan si Max ini sedang dalam nasib sial, sekumpulan kaum berjuluk Warboys menjarahnya dan menyanderanya. Warboys dipimpin seorang bengis bernama Immortan Joe, ia menghidupi kaumnya dengan harapan palsu, eksploitasi manusia adalah alirannya, sebagai buruh hingga budak seks, adanya sumber daya tergantung hasil jarahan. Pada saat itu right-wing Immortan Joe bernama Furiosa (Charlize Theron) ditugaskan untuk mencari sumber daya di kota sebelah dan konflik dimulai ketika Furiosa dengan rahasianya berkhianat dan kabur, menuntun Mad Max : Fury Road untuk menjadi sebuah road movie yang membara.

Mad Max : Fury Road terlihat begitu disgusting pada tampak awal, violence-nya semena-mena, karakter ciptaan Miller yang sama-sama mengerikan dan menjijikkan, anak-anak telanjang dada dengan make-up serba putih di kepala, itulah warboys, berbaris dan meneriakkan jargon, semuanya untuk memuja kedudukan sang pemimpin. Pemimpin tua dan besar, tatapan mata yang mengerikan, topeng mulut yang mengingatkanku akan Bane di TDKR, namun ini jauh lebih tua dan jelek, salah satu karakter yang membuat film ini menjadi suatu kebengisan, Immortan Joe.

Kembali lagi, sesaat setelah Furiosa diketahui kabur dari tugas, semua elemen dikirim untuk mengejarnya, Max yang saat itu berpredikat sebagai blood bag, dibawa oleh kawanan Warboys karena komposisi darahnya sempurna, donor universal. Aku suka seperti ini, ketika cerita film sejatinya bukanlah tentang sang karakter utama, namun menyisipkannya disana dan membuat kegaduhan baru, jarang ada film seperti ini dan berhasil, tidak semua berani dengan naskah seperti itu,

Sangat mudah untuk membedakan Mad Max : Fury Road dengan karya-karya mediocre film aksi diluar sana, teknik pengambilan gambarnya sulit, dan ledakan-ledakannya dibayar mahal. Tapi satu yang paling signifikan, Mad Max : Fury Road punya set tempat yang begitu minimalis dan berpotensi jatuh membosankan, hanya padang pasir berwarna coklat muda disana-sini, tapi George Miller merubah hal itu menjadi salah satu unsur pengingat dari film ini. Itu bukti Miller menghargai set-nya, eksplorasi geografis yang telak, tidak ada mobil parkir, gerobak atau tiang lampu, jika memang harus ada adegan tabrakan, maka itu terjadi dengan mobil lain. Action-meter film ini tak kunjung berhenti, menjaga bulukuduk tetap excite, explosion megahnya dibarengi dengan show-off para pengendara motorcross, tombak-tombak, suicide bomb, hingga yang paling keren, badai pasir. Ini hebat, sandstorm terakhir yang kulihat hanya di The Adventure of Tintin, dan film ini bahkan memberikannya dalam visual live-action.

Mad Max : Fury Road tidak lupa, adalah karya dengan karakter yang eksentrik, Max tergambar sebagai anti-hero kurang ajar diawal, jangan memihaknya hanya karena sebatas keren, bergeser ke Furiosa yang melambangkan revolusi, dan pada saat yang sama simbol penebusan, ada The Wives yang meneguhkan kekuatan feminisme yang kental di film ini, hingga figuran yang sosoknya ikut nge-trend bersama filmnya, flamethrower guitar guy muka pucat berbaju merah alias Doof Warrior. Ini bukti lain Mad Max akan sangat disayangkan jika harus berhenti di satu film ini.

Pada akhirnya, Mad Max : Fury Road dapat disimpulkan merupakan film blockbuster berhasil tahun ini, pertanda George Miller lahir kembali dengan universe ciptaannya. Apakah ingin menyaingi Star Wars ?, tidak tahu, tapi yang jelas kontrak tiga film Mad Max selanjutnya sudah ada dengan Tom Hardy ikut serta sebagai lakon utama. Semoga George Miller mampu walaupun untuk beberapa pemikiran, akan sulit dalam perjalanannya.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick