Review – Loving Vincent (2017)

Movie title: Loving Vincent

Movie description: Seorang anak dari sahabat pergi ke daerah kecil di Perancis untuk mengantarkan surat -dan mempelajari kehidupan serta kematian pelukis Vincent Van Gogh, yang satu tahun lalu meninggal akibat bunuh diri.

Director(s): Dorota Kobiela, Hugh Welchman

Actor(s): Douglas Booth, Jerome Flynn, Robert Gulacyzk

Genre: Drama, Animation, Biography

More...

4

Tribute  yang memukau, para pencipta film ini menempatkan sosok Vincent Van Gogh  bukan hanya sebagai pelukis hebat, namun juga seorang pujangga. Sepertinya jelas, that everyone involved in the making of this film, is Loving Vincent.

Apakah kita perlu membahas Loving Vincent sebagai proyek besar dengan aspek teknis yang kuat alih-alih sebagai sebuah film, terlebih dahulu ?, jawabannya iya. Tentang 94 menit mahakarya yang “baru pertama kali ada dan diragukan untuk ada lagi”, jawabannya akan selalu iya. Let’s face it, Loving Vincent adalah entitas seni yang kompleks, dan membahas substansialnya saja akan sangat tidak adil. Mari kita mulai membahas satu yang paling menggelitik untuk kau cari tahu ketika kau melihat filmnya : Proses produksi yang penuh trivia menarik.

Merupakan film pertama sepanjang sejarah yang digarap seluruhnya hand-painted, Loving Vincent diproduksi disebuah basecamp di Gdansk, Polandia. Adalah sebuah tim ‘Painting Animation’ yang terdiri dari pelukis-pelukis hebat dikepalai Sarah Wimperis, di sisi lain sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menyadari bahwa film yang akan mereka buat adalah proyek yang lebih besar daripada sumber daya yang ada. Maka proses painters recruitment dilakukan diseluruh dunia untuk proyek ini dan menghasilkan 45 kepala tambahan dari 5000 aplikan yang telah mendaftar, menggenapkan aset pelukis demi film ini mencapai 100 orang lebih. Unit tim pelukis akhirnya bercabang ke Athens dan Wroclaw.

And it’s a massive works for sure. 65,000 frame tercipta dan seluruhnya dikerjakan lewat olah cat minyak diatas kanvas. Kau bisa bayangkan betapa rumitnya itu, apalagi ketika aku mendengar bahwa unit di Gdansk akan mengirim kembali lukisan dari unit lain yang sedikit saja belum sempurna. Loving Vincent mungkin bukan hanya tentang uang ya, lebih dari itu dia membutuhkan keterampilan dan tenaga yang teramat banyak.

Namun nyatanya ini bukanlah sebuah animated feature, seperti film The Lord of The Rings (1978) milik Ralph Baksi, Loving Vincent digarap melalui kombinasi live action lewat proses rotoskop. Para aktor-aktor bersandiwara di depan green screen untuk ditangkap gerakannya dan diolah di komputer dan di cetak, yang kemudian para pelukis-pelukis yang telah kuceritakan tadi, melakukan pekerjaan mereka dengan memberikan sentuhan senjata utama. Itulah mengapa kau bisa mengenali beberapa wajah karakter-karakter yang ada, seperti karakter Margaurite Gachet yang diperankan oleh Saoirse Ronan. Para pelukis ini melakukan re-imagine daripada lukisan-lukisan Van Gogh yang terkenal, filmnya sendiri mengikuti kisah hidupnya dan ini sejalan karena apa yang dijadikan Van Gogh sebagai objek lukisan merupakan potret dan lanskap daripada orang-orang dan pemandangan yang ia temui dalam hidup. Ada sekitar 90-an (pada sumber yang berbeda sekitar 120-an) referensi lukisan asli yang digambar ulang di film ini, Van Gogh’s famous paintings,  mulai dari ‘Cafe Terrance at Night’, lukisan terakhirnya ‘Wheatfield’, ‘Poitraits of Dr.Gachet’ juga tak lupa ‘The Starry Night’ yang hadir paling dini di awal. Semuanya digambar ulang dengan teknik sama persis digunakan Van Gogh.

Dan hasilnya menakjubkan, it is beautifully crafted. Setiap frame filmnya tampak nyata akibat cat-cat yang basah, dan mataku tak bisa berhenti untuk mengitari layar dan sesekali mem-pause filmnya untuk melakukan observasi yang mendetil. Detil potret wajah yang tajam dari dekat, kemudian kamera mulai menjauh dan tiba-tiba wajah-wajah itu hilang dan merata. Scenery sekitar bagaikan entitas yang terus bergeming, frame per frame terlihat begitu hidup dan berubah mencolok. Adapun garis-garis tegas terkadang digunakan untuk membentuk lekuk-lekuk pakaian para karakternya. Satu lagi, usaha para seniman yang jumlahnya hampir sepuluh lusin ini adalah sesuatu yang ajaib, ketika mereka sukses merealisasikan mimik dan ekspresi wajah karakter yang berubah dinamis dalam satu scene.

Sekarang kita beralih ke ceritanya, yang ternyata ber-setting setahun setelah kematian Vincent Van Gogh (Robert Gulazyck) yang memilukan akibat bunuh diri. Postman Roulin (Chris O’Dowd), salah seorang sahabat mendiang menugaskan sang anak, Armand Roulin (Douglas Booth) untuk mengantarkan surat terakhir mendiang Vincent untuk sang adik, Theo Van Gogh. Rupanya usaha Armand untuk menemui Theo mengalami deadlock dan ia harus mengemudikan dirinya untuk mencari resipien lain, mengantarkannya di daerah kecil bernama Auvers-sur-Olse untuk menemui salah satu rekan terdekat Vincent semasa hidup, Dr.Gachet (Jerome Flynn). Dikarenakan Dr.Gachet sedang tidak ada di rumah, Armand terpaksa tinggal di desa itu untuk beberapa hari, dan dari sana ia bertemu orang-orang yang mengenal Vincent semasa hidupnya.

Armand adalah seseorang yang tidak tahu apapun, ia hanya anak dari kenalan sang pemilik surat, namun entah mengapa tiba-tiba ia tertarik dengan cerita-cerita berhembus mengenai almarhum Vincent. Pertemuan dengan seseorang mengantarkannya untuk menemui yang lain. Ia seperti menjelmakan dirinya sebagai detektif tak resmi, melakukan investigasi, ia bertemu banyak orang dan menemui banyak versi cerita, perspektifnya terhadap sosok Vincent bertahap berubah dari seorang individu merepotkan dengan mental tak waras menjadi seorang pemimpi yang kurang beruntung secara sosial. Intinya, ia menduga dan memiliki firasat yang kuat : Vincent Van Gogh mungkin tidak meninggal akibat bunuh diri.

Walaupun memang teknik narasinya kurang efektif dan kurang rapi (mengadaptasi metode instant-flashback lewat monolog karakter-karakter baru yang Armand temui, flashback demi flashback memberikan gambaran lebih besar untuk Armand dalam mencari kebenaran). Ah lagi pula flashback section daripada film ini menawarkan hal yang baru pula, ia dirupakan melalui lukisan greyscale dengan teknik penggambaran yang berbeda, semacam lebih pencil-ish (aku tidak yakin), bagian ini menyajikan gambar yang less abstract daripada suguhan utama. Menarik melihat bagaimana goresan tinta hitam bergerak merapat dan semakin banyak menutupi kanvas putih untuk merepresentasikan pencahayaan yang meredup.

Bagaimanapun, kisah teremban biografikal Vincent Van Gogh patut diberi jempol. Ini merupakan progresi yang thoughful, dan itu adalah resolusi yang menentramkan, bukan tentang semata-mata pencarian kebenaran, bukan tentang apakah Vincent memang belum sembuh dari masalah psikisnya ; tapi lebih ke proses membijaki keadaan. It’s look like Loving Vincent tells a lot about dead, but it’s actually a learning about life. Kita belajar mengenai Van Gogh, sebagai seniman dan manusia, dan kau juga akan bersedih untuk memahami betapa kurang beruntungnya dia, betapa dirinya kurang diapresiasi semasa hidupnya. Ini seperti menonton dokumenter Finding Vivian Maier (2013) tentang kisah pribadi yang menjadi terkenal, justru setelah ia meninggal.

Tribute yang memukau, para pencipta film ini menempatkan sosok Vincent Van Gogh bukan hanya sebagai pelukis hebat, namun juga seorang pujangga. Sepertinya jelas, that everyone involved in the making of this film, is Loving Vincent.