Review – Looper (2012)

3

Full-packed action science fiction movie yang akan membuatmu terpaku di kursi bioskop sepanjang film selagi mempertanyakan standar moralitasmu

Sekali lagi tema Time-Travel diangkat ke layar lebar oleh Rian Johnson; yang mungkin lebih populer ketika menyajikan Star Wars: The Last Jedi, atau Brick yang memenangkan  Special Jury Prize for Originality of Vision pada Sundance Film Festival 2005. Kali ini narasi yang ia bawa ialah  subset yang menggiurkan dari tema sci-fi diawali oleh Joe (Joseph Gordon-Levitt) yang bekerja sebagai seorang asssasin satu-kali-tembak; re: looper; dipekerjakan oleh organisasi kriminal di masa depan tanpa perlu melakukan apapun, tawanan dipersiapkan dan dikirim melewati waktu dengan bounty berupa perak dipunggungnya dalam keadaan terikat.

Sebuah narasi yang menggiurkan, right?

Namun, reward yang menggiurkan datang dengan sebuah konsekuensi pelik, yakni bahwa hidupmu sudah berada digenggaman organisasi tersebut dan akan ditagih setelah 30 tahun setelah event penting muncul, yakni tawananmu memiliki bounty berupa emas alih-alih perak, yang menandakan sang looper diharuskan membunuh raganya sendiri, dan konsekuensi jika lari dari tanggung jawab ialah ragamu diambil saat itu juga.

Konflik datang dengan munculnya Old Joe (diperankan oleh Bruce Willis sebagai future Joe), yang datang dari masa depan namun tanpa ikatan seperti biasanya. Selain itu film ini dibawakan dengan character development yang tidak berlebihan dan tetap menampilkan sisi humanis dari sang protagonis yang digambarkan berprinsip live fast die young digambarkan dengan kehidupan seorang junkies. Konflik mencapai klimaks ketika, Old Joe memiliki tujuan utama membunuh The Rainmaker;  orang yang nantinya akan menjadi sang diktator-leader dari organisasi kejahatan; yang secara leksikal berusaha menutup loop secara massal.

Meskipun, eksekusi yang disajikan seharusnya mampu ditampilkan lebih kompleks maupun lebih apik lagi, karena masih banyak narasi yang terlalu sederhana, seperti terlihat dalam berbagai scene kejar-kejaran dan yang lainnya yang kadang membuat penonton bertanya-tanya karena penyelesaian mudah seharusnya dapat diambil, tanpa memanjangkan konflik. Meskipun, durasi yang ada tidak cukup untuk memberikan banyak maklumat, namun penghindaran cerita mengenai konsep time-travel seperti ketika digambarkan di Diner dan keberadaan Deus ex-machina mengenai lokasi keberadaan rainmaker tidak dapat dijustifikasi.

Namun, tensi yang berusaha dibuild up secara perlahan dengan pemilihan tona warna yang baik, juga eksekusi yang nyaris sempurna dan eagerness audience yang berasa dimaintain sepanjang durasi. Apart from technical aspect, ini cerita tentang bond pertemanan yang diputus, story yang secara konsensus-humanis menarik, dan ending yang akan membuatmu menanyakan kembali konsepsi moral personal.

Terlepas dari semua itu, hal yang sangat disesalkan  ;geek alert; ialah konsep time travel yang tidak didefinisikan dengan jelas. Pada umumnya, konsep time travel yang digunakan pada konten pop culture ialah salah satu dari 2 konsep yakni parallel universe atau alternative histories. Kedua konsep tersebut sering dianggap synonymous dan dapat digunakan interchangeably. Namun, ada perbedaan secara fundamental yakni pada alternate universe yang akan muncul pada konsep parallel universe berdampak pada existnya dimensi kehidupan baru yang tidak menghapus dimensi awal sang tokoh. Disisi lain, pada konsep alternate universe ada perbedaan signifikan pada implikasi tidak adanya dimensi eksis baru yang muncul sehingga perilaku yang dilakukan sang tokoh akan benar-benar merubah sejarah pada dimensi yang sama di masa depan. Dalam mayoritas konten yang diadaptasi pada pop culture, memlih salah satu sangat dianjurkan apabila tidak diwajibkan. Johnson disini berusaha menggabungkan kedua konsep tersebut dan cenderung kehilangan pijakan seimbang yang membuat audiences khususnya geeks mengernyitkan alisnya seperti ketika adegan self-harm di tangan sang tokoh mampu merubah kondisi tangan sang future-tokoh secara simultaneously yang mendukung konsep alternate universe. Lalu, ada scene dimana kedua Joe bertemu disebuah diner yang me-negasi konsep alternate universe sepenuhnya. Hal ini cukup mengecewakan apabila tidak menjijikan, jika digunakan hanya untuk kontruksi cerita tanpa mengajukan narasi baru.

Namun, keberanian Rian Johnson mengambil tema Time Travel. yang memiliki banyak flaw yang mudah dikritisi oleh sci-fi geek, dengan eksekusi yang cukup baik patut diapresiasi. Membahas kembali tentang moral, kutipan dari sang protagonis utama yakni Joe mampu menutup narasi film dan men-summary konsep yang dibawa di film ini “Then I saw it. I saw a mom who would die for her son. A man who would kill for his wife. A boy, angry and alone. Laid out in front of him, the bad path. I saw it. And the path was a circle. Round and round. So I changed it.”