Review – Lion (2016)

4.5

Kisah hidup penuh ketakjuban Saroo Brierley  bahkan terlalu ‘ajaib’  untuk dianggap sebagai pengalaman nyata, menangis akan sangat dimaklumi.

re lion

Garth Davis membuka feature debut-nya dengan pasti, limited release pada saat-saat awal tidak membuntukan jalannya. Dan aku sangat beruntung bisa mencicipinya dalam perhelatan acara tahunan Festival Sinema Australia Indonesia 2017 kemarin di Surabaya, dimana Lion sempurna dihadirkan sebagai sesembahan penutupan acara, dan tentu saja ini adalah salah satu finest movie milik Australia.

Walaupun di produksi oleh negara kanguru, bisa kutegaskan bahwa Lion memiliki tone India yang kuat dan meresap (namun tidak sampai ada adegan berjoget massal). Mungkin karena kita salah kira (tentu saja termasuk diriku) ketika -kisah seorang adopsi yang mencari keluarganya setelah hilang selama 25 tahun ini,hanya fokus pada kisah ‘pencarian’ saja. Film yang diadapsi dari buku milik Saroo Brierley berjudul “A Long Way Home” mengkisahkan liku kehidupan yang dialami penulisnya sendiri. Saroo terpisah dengan kakaknya ketika umurnya baru lima tahun, ia tersesat, terbawa oleh kereta api yang menjauhkannya dari rumah, sangat-sangat jauh. Bayanganku, itu adalah suatu gambaran tentang asal-usul yang pendek, dimana setelah itu kisahnya akan bertransisi oleh suatu timeskip yang signifikan dan darisana mulai menuturkan kisah lebih inti. Nyatanya aku salah, bukan hanya tentang mencari, Lion juga menceritakan potongan yang kompleks tentang kisah masa kecil, kisah akan keterpisahan, kisah akan bertahan hidup, hingga kisah tentang bertemu keluarga baru dan memulainya dari awal.

Lion adalah dua bagian yang kontras secara visual, pertama adalah kisah Young Saroo yang dikemudikan oleh pemeran cilik India, Sunny Pawar. Bagian ini dipenuhi kesengsaraan, peran yang natural dari aktor-aktor belianya, kepolosan dan ketulusan hati seorang Saroo kecil. Dan atmosfer serta pembawaannya mewarisi nuansa film-film produksi lokal di India mungkin. Sebuah gambaran besar tentang latar belakang, India disunting secara detil, panorama dan budayanya, lebih-lebih adalah keadaan lingkungan yang kumuh, ekonomi yang masih dibelakang dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Saroo kecil hidup sehari-hari dengan ibu, adiknya Shekila dan kakaknya Guddu (satu keluarga ini saling menyanyangi). Saroo dan kakaknya mencari uang, mencuri batu bara dari kereta, dan kadang-kadang yang lain. Mereka miskin, sang ibu adalah pengangkat batu, suatu hari, kakaknya akan pergi lagi untuk beberapa hari, mencari rezeki lain, Saroo tidak diijinkan ikut, Saroo terlalu lemah, Saroo meyakinkan kakaknya dengan mengangkat kursi dan sepeda dengan tangannya sendiri, bahwa ia anak kecil yang kuat. Saroo Brierley pun sudah hidup begitu keras bahkan sebelum ia harus hilang dan terpisah oleh takdir.

Bagian keduanya punya warna berbeda, dimulai ketika Saroo pertama kali menginjakkan kakinya di Australia, hingga tiba suatu timeskip 20 tahun setelah itu. Kali ini frame-frame pantai biru luas, arsitektur gedung modern dan hutan-hutan yang menjulang tinggi menjadi media ceritanya. Saroo terentas pada kehidupan baru, disini karakter-karakter baru muncul dan menggantikan. Dev Patel menggantikan Sunny Pawar, hidup bersama loving family anyar dan merupakan mahasiswa hotel management di Melbourne. Suatu saat kebimbangan datang, memori akan masa lalunya muncul sekonyong-konyong, ia digentayangi kepahitan kenangan kecilnya yang membisik lewat scene flashback yang menonjol pada bagian ini. Jika karakter Dev Patel di Slumdog Millionaire harus mengingat masa lalu untuk memenangkan satu juta dolar, ia melakukan hal yang sama untuk mencari keluarga aslinya.

Kontrasnya dua bagian ini, dari aspek apapun, menyatakan suatu pengalaman yang bizzare dan miraculous.

Lion mengusung tema yang universal, kehilangan dan harapan, juga kasih sayang dan balas budi. Moralnya begitu tersampaikan, seluruh karakternya menunjukkan hakikat manusia yang jujur dan tulus. Nicole Kidman memerankan Sue Brierley, melakukan sebuah amazing job, sosoknya memurnikan kepercayaan pada humanity. Sue dan suaminya, John (David Wenham), menyelamatkan kehidupan dua bocah asal India, Saroo dan Mantosh (saudara Saroo diadopsi setelah dia), dan mencintai mereka layaknya anak kandung mereka sendiri, tak kenal kondisi. Karakter ibu tegar diperankannya dengan hati dan lebih dari cukup untuk mengantarkannya pada nominasi Academy Awards untuk peran itu.

Pesanku, terima film ini dengan tangan terbuka, jangan terlalu kritis dengan permainan emosionalnya yang bertubi-tubi, bisa jadi kau akan menganggap film ini sebagai sajian yang sappy, dan menurutku itu salah kaprah. Lion adalah biopic, semuanya benar-benar terjadi dan ini nyata, semua kejadian didalamnya, seluruh perjalannya, kepahitan bersamanya. Berikan sisi empatismu untuk tenggelam bersama kisahnya, yakni kisah coming-of-age Saroo Brierley yang kompleks dan disajikan dengan amat baik, dengan drama tambahan Saroo versi Dev Patel yang timbul oleh konflik antar karakter-karakternya yang tidak pernah salah sasaran, tidak pernah miss oleh Garth Davis.

Yang terakhir, film ini membuatku mengagumi personifikasi Saroo sendiri, sebagai anak kecil, ia luar biasa kuat dan stabil secara psikologis dan mental, tak tergoyahkan, walaupun sejak ia terpisah, Saroo telah melihat cukup banyak hal yang mungkin bisa jadi efek traumatis bagi anak seusianya. Film ini amat menyentuh, membuatku merenung betapa hebatnya kisah ini, refleksi bahwa kita harus mensyukuri semuanya, dan percaya bahwa keajaiban hidup benar-benar ada, bahkan tak terasa ia terus memayungi kita sepanjang waktu. Keajaiban yang menciptakan orang-orang baik yang tiba-tiba ada disana untuk merubah nasib kita. Aku mengagumi ini semua. An uplifting.

Sejak film ini, aku menjadi tertarik untuk menilik video interview tokoh aslinya. Reaksinya dan pendapatnya tentang screenplay Luke Davies. Ia mengonfirmasi bahwa itu semua akurat, hanya saja karakter Rooney Mara sebagai Lucy tidak benar-benar ada, dan menyebutnya sebagai ‘pemampatan’ daripada orang-orang dan teman-teman suportif yang selama ini ikut andil dalam hidupnya, Ini bukan sekedar Oscar Bait, dan jika harus disebut film cengeng, maka ini ada film cengeng yang mudah untuk dimaklumi, toh kita tidak menangisi hal-hal yang fiktif bukan.

Thank You, Google Earth

Backup_of_re2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick