Review – Leave No Trace (2018)

4

Drama kejiwaan yang hebat. Leave No Trace membenturkan hubungan keluarga kecil pada keadaan yang dilematis dan menguras tenaga serta perasaan.

Drama psikologis adalah studi paling bagus untuk melatih empatimu. Dan cara mereka bisa berbeda-beda untuk membuat penontonnya mengerti situasi batin apa yang sedang mereka lalui dan perangi.

Kita telah menjumpai film-film “perang batin” yang hebat dan terus mengalir sepanjang tahun. Ada Moonlight, First Reformed hingga You Were Never Really Here. Semuanya menunjukkan kondisi perilaku manusia yang tidak lazim karena suatu akibat. Dikarenakan pengaruh konstan yang ekstrim dari lingkungannya, hingga peristiwa masa lalu yang begitu membekas.

Adapun Manchester by the Sea memberikan contoh tentang efek traumatis yang mendalam dan bagaimana kejadian buruk di masa lalu bisa membuat pandangan orang tentang suatu tempat berubah 180 derajat. Di Leave No Trace, kita mendapatkan hal yang sama, namun ia melakukannya tanpa satu-pun adegan flashback.

Ceritanya, Will (Ben Foster) dan anak gadis tiga-belas-tahunnya bernama Tom (Thomasin McKenzie) telah begitu lama tinggal di suatu vast urban park. Mereka berdua menganggap hidup di alam adalah sesuatu hal yang ideal. Babak awal adalah tentang bagaimana mereka berdua lihai dan cakap dengan gaya hidup seperti itu. Membuat apimu sendiri dan latihan bersembunyi di semak-semak. Disisi lain para penontonnya akan terus menebak, sebenarnya apa alasan mereka tinggal dengan belukar-belukar itu ?.

Alasan dan petunjuk mulai terlihat ketika permasalahan terjadi. Tempat dan eksistensi mereka diketahui oleh pihak berwenang. Mereka diringkus, namun ditangani khusus penuh perhatian. Seorang Polisi bernama Jean (Dean Milican) membantu keadaan sosial Will dan anaknya, membawa mereka pada cara hidup baru yang lebih normal. Mereka ditempatkan di sebuah pemukiman kecil, memberikan mereka rumah, memberikan Will pekerjaan, dan kemungkinan bagi Tom untuk bersekolah.

Tapi itu tak berjalan mulus, bagi Will. Ini bukan keinginannya, dan keadaan itu membuatnya tidak nyaman. Kita akan mempelajari bahwa Will memang memiliki permasalahan dengan dirinya sendiri. Itu adalah PTSD, ia adalah seorang veteran perang, dan bagaimanapun pengalamannya mempengaruhinya, kini hidup disekitar orang-orang selalu terkesan tidak bagus baginya.

Seperti Manchester by the Sea, Leave No Trace menubrukkan kepentingan dua pribadi dengan hubungan. Kita tahu di Manchester by the Sea, Lee tidak bisa kembali ke kampung halamannya itu, namun pada saat yang sama, keponakan yang harus ia urus memiliki masa depan disana.

Dilema yang berat. Di film ini, pun Will tidak bisa hidup di keramaian lagi, namun ia tidak bisa hidup pula tanpa keberadaan anaknya. Ini semakin miris ketika sutradara Debra Granik mampu mengeksplor personality dan interest Tom sang anak dengan cukup mendalam hingga pada akhirnya ia dan sang ayah berpapasan pada kondisi yang tidak sepakat satu sama lain. Tom tak bisa terus hidup seperti cara ayahnya. Ia tak hidup dengan ketakutan yang sama dengan ayahnya.

Menurutku, kisah yang diadaptasi dari novel dengan judul ‘My Adbandoment‘ ini, walaupun bercerita tentang penderitaan, ia memaparkan keoptimisan hidup dengan apik. Lewat mata Tom, filmnya menuturkan keindahan kehidupan sosial dan interaksi, apa-apa yang mungkin ia tidak dapatkan selama ini.

Father-and-daughter bonding yang tulus, cara Tom mengerti ayahnya adalah sesuatu yang spesial. Kisah keduanya mengesankan hal baik tentang anggota keluarga yang senantiasa suportif.

Pada akhirnya, Leave No Trace memberikan konklusi yang baik pada orang-orang kita di film ini. Mengenyuhkan dan menguras hati lewat suatu jalan tengah yang berat namun paling adil. Film ini mengajarkanku tentang memahami masalah personal, dan mental orang-orang di luar sana. Tentang pergolakan diri, dan bahwa problematikanya bisa sehebat itu.

Engineering student but movies way more than manufactures