Review – La La Land (2016)

4

Menjanjikan suatu musical experiences yang istimewa, teman-teman, inilah film dengan 7 Golden Globes , La La Land.

re lala

Kemarin malam, La La Land memecahkan rekor dengan mendapatkan 14 nominasi Oscar…

Seperti duo Steven Spielberg-John William, hingga Christopher Nolan-Hans Zimmer, aku yakin, pasangan Damie Chazelle bersama komposer muda Justin Hurwitz dalam beberapa tahun, akan masuk hall of fame (atau semacamnya) sebagai partnership director-composer yang terbaik, diingat dan akan dielu-elukan sepanjang masa. Kolaborasi kedua mereka kali ini begitu mengejutkan banyak pihak, merengkuh banyak trofi, bahkan akhirnya La La Land terpaksa tayang lebih luas di Indonesia.

Dibuka dengan opening menjanjikan, suatu filler penting, La La Land sudah sempurna bahkan dalam urusan first impression. Lagu ‘Another Day of Sun’ menjadi pembuka riang dinyanyikan berbarengan a la flashmob dengan tarian ditengah-tengah kemacetan dan diakhiri title card yang amat sangat klasik, di momen paling awal ini, setidaknya dalam hati, kau akan tersenyum dan bertepuk tangan.

La La Land adalah kisah cinta musikal antara Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia (Emma Stone), dua insan yang tidak terlalu beruntung dalam urusan pekerjaan atau urusan ‘menggapai mimpi’. Sebastian adalah pianis tidak tetap di rumah makan elit milik Bill (J.K Simmons), yang selalu bermimpi untuk mendirikan kelabnya sendiri. Dinyawakan oleh Ryan Gosling, karakternya adalah seorang proud Jazz-head, yang keras kepala dan terlalu fanatik. Sedangkan Mia milik Emma Stone terlihat lebih mandiri, walaupun sering sial dan juga kurang tertarik dengan orang-orang, ia hanya pelayan di kedai kopi, namun mimpinya sebagai aktris selalu dijaganya tetap hidup dengan mengikuti audisi-audisi rekrutmen yang ada.

ini adalah kedua kalinya Gosling dan Stone menjadi lover sejak Crazy, Stupid, Love. Keduanya mampu menghidupi watak karakter mereka yang tidak bisa serius, tidak khawatir untuk bersikap konyol dan teramat menjaga gengsi, namun idealis dan gigih. Perisa romance-comedy hadir gara-gara mereka, apalagi ketika naskah Chazelle menyatukan mereka dalam skenario dimana keduanya secara kebetulan bertemu dan bertemu lagi, dan bertemu lagi, mengubah yang awalnya tak acuh menjadi saling acuh, benci menjadi cinta.

Damien Chazelle mulai memberikan coraknya sebagai sutradara, filmnya yang selalu music-oriented dan menempatkan pemeran utamanya sebagai pemain musik lihai. Film miliknya sebelum ini, Whiplash, memberikan gebukan perkusi Jazz oleh Milles Teller, sedang La La Land lebih bebas dalam mengekspresikan segala jenis musik, tersusun dalam alur dan kisah tentang musical histories, terms dan acknowledgement. Dan tidak seperti Whiplash yang thrilling dan dark, tentu saja kita tahu, La La Land jauh, jauh lebih riang. Adapun secara teknis, kita tetap bisa melihat trademark direksi Chazelle yang mengena, camera movement khas ketika ia bergerak dengan cepat bergantian , adalah ketika menyunting permainan piano Sebastian dibarengi satu dansa oleh Mia di sudut lain, dan ini juga telah kau temui di Whiplash di beberapa menit terakhir film. Yang baru, adalah sinematografi Linus Sandgren yang impresif dan hampir-mustahil, scenes menyanyi di film ini seluruhnya disunting melalui teknik single-shot sulit yang menawan. Dijamin clip film ini, untuk beberapa bulan kedepan akan laris dikunjungi saat Youtube merilisnya nanti.

Sama halnya dengan Milles Teller, Ryan Gosling juga terlihat total dalam mengeksekusi permainan piano. Ya, semua permainan indah itu dilakukannya sendiri, bahkan John Legend, sebagai supporting actor kejutan dalam film ini, merasa iri. Track ‘City of Stars’ akan sering dimainkan, dan walaupun ia tidak sebaik itu dalam aspek menyanyi, suara lumayan Emma Stone menutupinya. Fairly, keduanya pantas mendapatkan puluhan nominasi mengingat peran multi-task mereka.

La La Land diwarnai dengan gubahan musik Kurwitz yang indah dan desain produksi yang bahkan lebih indah lagi. Mendefinisikan istilah ‘La La Land’ sebagai universe mewah nan glamor, yang sepertinya didalamnya hanya hidup industri-industri seni. Ini adalah era modern yang dikemas dengan frame dan transisi old-school, seperti layaknya terinspirasi oleh nuansa film-film klasik sejenis, Singin’ in the Rain, khususnya. La La Land membutuhkan banyak penari dan banyak latihan pula, mengantaran pengalaman teatrikal bak opera, yang kadang tak membutuhkan kemasuk-akalan. These peoples just dance and sing.

Tidak ada masalah untuk drama romansanya, walaupun tidak spesial juga. Kisah cinta tipikal yang fluktuatif, sesuatu yang sering diberikan Woody Allen dalam filmography-nya atau malah lebih baik. Tapi tak usah khawatir, jika memang tawaran cerita cintanya belum bisa memuaskanmu, segera kau akan jatuh cinta dengannya oleh super-powerful ending film ini, yang terbaik dalam memberikan resolusi, betapa dahsyatnya ego, dan bagaimana takdir bisa sangat kecut, terbalut dalam suatu gambaran ‘efek kupu-kupu’. Kau bisa tentukan sendiri ingin menganggap ini suatu ‘sad’ atau ‘happy’ ending

Seperti seluruh orang dalam film ini saling memberikan usaha terbaik mereka. Dan dengan koreografi serta penampilan memesona juga karismatik, La La Land adalah penegasan, bahwa film musikal murni belum mati.

Engineering student but movies way more than manufactures