Review – Kung Fu Panda 3 (2016)

3.5

Hebatnya, Kung Fu Panda yang melulu memberikan tipikal setting tempat dan pesan moral itu-itu saja, masih terasa begitu kaya.

Re kp 3

Pernah kepikiran kenapa animated franchise semacam Madagascar atau Ice Age bisa sampai merentangkan sekuelnya hingga banyak kali ?. Dugaan paling dekat adalah karena kita semua tahu, warna yang ditawarkan setiap filmnya berbeda. Madagascar mengajak jalan-jalan ke Afrika lalu ke Eropa, sedangkan Ice Age memberikan korden yang berbeda-beda dalam mewarnai jaman-jaman es dengan kembali ke jaman dinosaurus atau ketika semua es mencair saat musim panas. Aku menegaskan bahwa ini adalah senjata agar penonton tidak jatuh dalam kebosanan. Senjata ini memang tak selalu efektif, kritik masih mungkin datang, tapi untuk penonton tak serius, petualangan visual terhadap hal baru mungkin sudah cukup.

Kung Fu Panda sudah dua kali merilis sekuelnya, dan hasilnya tidak pernah mengecewakan, certified fresh disematkan Rottentomatoes untuk tiga filmnya, ajaibnya, suksesor sutradara Osborne/Stevenson (Kung Fu Panda 1) , Jennifer Yuh Nelson (Kung Fu Panda 2 & 3) tidak menggunakan ‘senjata’ ini untuk mencapai achievement dalam mengarahkan sekuelnya itu. Begitupun pada Kung Fu Panda 3 yang alih-alih menggunakan ‘senjata’, susunan komposisinya masih merengkuh apa-apa yang telah ada dan kita lihat di film pendahulunya.

Gambaran awalnya masih dalam formula Po yang tetap memimpin kawanan The Furious Five (Tigress, Monkey, Viper, Mantis, dan Po sendiri ) dalam menjaga desa Valley of Peace sebagai sang Dragon Warrior dan sesekali Master Shifu mengintip latihan mereka. Suatu bab baru bagi Po ketika Shifu menugaskannya untuk menjadi guru bagi teman-temannya. Seperti yang kita duga, Po menganggap bahwa ia sama sekali tak pantas.

Untuk bagian isi film ini, atau main events nya, kurasa Kung Fu Panda sudah memiliki cirinya sendiri. Ada dua hal yang selalu ditawarkan film ini, satu adalah antagonis yang juga jago beladiri dan melegenda dimana backstory nya cenderung digambarkan dalam monolog panjang dengan visual 2D yang entah kebetulan atau tidak, semua villain dalam Kung Fu Panda memiliki masa lalu yang tidak terlalu bagus. Yang kedua adalah sajian sub kasus akan suatu hal yang diwariskan film sebelumnya sebagai unanswered question, atau maksudku adalah rasa penasaran yang masih ada. Kung Fu Panda 1 menyematkan Po sebagai Dragon Warrior, film keduanya membuat kita membayangkan Po untuk lead the lads. Kung Fu Panda 2 lebih kuat lagi, ia meninggalkan isu tak terjawab tentang ‘orang tua sebenarnya’ Po, ditambah adegan akhir Kung Fu Panda 2 yang bikin gemas dan bertanya-tanya.

Tentu saja dua hal diatas adalah sesembahan utama di film ini, kita akan dipertemukan dengan super-villain (tentu saja ia lebih kuat daripada yang sudah sudah) bernama Kai (suara oleh J.K. Simmons) yang telah lama terjebak kedalam dunia arwah bernama Spirit Realm dan berusaha kembali ke dunia manusia untuk menjadi lebih kuat. Kai dulunya adalah musuh bebuyutan legenda Kung Fu di bukit damai, Oogway. Sampingannya, kisah tentang Po yang bertemu bapaknya untuk membawanya pulang ke Secret Village of Pandas akan jadi hal yang memuaskanmu lewat lusinan wajah panda. Cuteness overload.

Namun sebenarnya satu hal yang menjadi kunci film ini, yaitu esensial film paling pertamanya yang masih dipegang : Percaya pada diri sendiri. Tidak heran jika Kung Fu Panda telah dikenal dalam mempromosikan pesan tentang confidence dan believe. Dalam film ini sub pesannya adalah : Turning you into you. Well, kau tau arti alegori itu. Dan ini juga jawaban dari sinopsis satu paragraf yang kuutarakan di tiga paragraf sebelumnya.

Masih dalam formasi yang sama, rasanya kurang fair mengumbar kesuksesan film ini tanpa menyebut nama-nama mewah yang berada dibelakangnya. Kung Fu Panda adalah film mahal jika kau menilik para pengisi suaranya, Jackie Chan, Angelina Jolie, Dustin Hoffman, Seth Rogen, dan dipimpin Jack Black dengan totalitasnya sebagai Po. Semuanya fasih dalam memeragakan quote-quote lucu masing-masing, intonasi dan energi mereka dalam mengutarakan dialog sesuai dengan ekspresi wajah yang karakter dalam suasana yang bermacam.

Yang cukup notable, tidak lupa ada komedinya, dialog dalam naskah Jonathan Aibel dan Glenn Berger penuh kejenakaan yang mengena. Aku bersungguh-sungguh, Kung Fu Panda 3 tidak cuma bikin meringis, tertawa lepaspun akan sangat sering. Diantara dua sebelumnya, untuk urusan komedi, film ketiga ini yang paling menghibur. Semua karakternya punya selera humor bagus, kadang celetukan pun bisa membuatmu tertawa. Keberadaan karakter Li (Bryan Cranston), ayah Po dan juga para panda-panda baru yang kelewat naif adalah amunisi bahan tawa tambahan. Ah lagipula, sang antagonis Kai pun juga memiliki momen yang menggelikan.

Yang terakhir, untuk merangkum semuanya, Kung Fu Panda 3 adalah film yang solid dan terfokus, disajikan lebih komikal dan artistik. Atmosfir China dipegang dengan kuat, knowledge tentang Kung Fu terus digali. Kali ini elemen fiksi baru dipersembahkan, sesuatu bernama ‘Chi’ adalah (kau bisa bilang) jurus baru yang harus dipelajari Po, dimana diperlukan latihan untuk menguasainya. Sangat mengingatkan tentang tipikal manga-manga Jepang. Ditutup dengan OST yang masih sama. Kung Fu Panda 3 komplit.

Tapi kemudian, kabarnya sang produser mengumumkan bahwa Kung Fu Panda masih punya ‘beberapa’ film lagi kedepannya. Perasaanku mendengar itu, aku sendiri tak terlalu ambil pusing. Apakah Kung Fu Panda akan mulai mempertimbangkan menggunakan ‘senjata’

35

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick