Review – Kubo and the Two Strings (2016)

4.5

Kau tidak akan pernah bisa merendahkan Kubo and the Two Strings dalam aspek apapun, tidak ada yang bisa kau cela dari ke-orisinalitasan ceritanya, pun akan selalu takjub dengan keindahan visualnya.

re kubo

Dari orang yang biasanya hanya mengurus departemen animasi -dengan rentetan film seperti Coraline dan Paranorman, akhirnya CEO rumah produksi animasi Laika Entertainment, Travis Knight (dengan bekal naskah dari Marc Haimes dan Chris Butler) menahkodai filmnya sendiri. Hasilnya tak main-main, Kubo and the Two Strings tampil lebih ekslusif, terasa well-prepared dan begitu diperhatikan dalam urusan pembuatannya. Ini spesial, yang terbaik dari usaha Travis Knight yang sebelum-sebelumnya.

Jika kau sudah menonton Coraline, atau Paranorman (The Boxtrolls juga bisa jadi referensi), darisana kau tahu karakteristik yang ditawarkan Laika : project animasi stop-motion yang sulit, namun masih kelihatan halus, frame-per-second yang dapat dibilang lebih banyak daripada film-film yang menggunakan teknik serupa. Desain karakter yang kujamin kau belum pernah temui dimanapun. Di film ini, karakter-karakternya segar, bentuk mata yang lebar hingga kontur wajah yang esentrik. Memuaskan, Kubo adalah film dibuat dengan skill craftmanship yang tinggi, dalam waktu yang lama, dan mungkin yang paling terampil untuk beberapa tahun terakhir, termasuk yang tahun 2016 lalu.

Kubo and the Two Strings memecahkan rekor sebagai film stop-motion terpanjang hingga saat ini.

Berlatar-belakang Ancient Japan, Kubo (suara oleh Art Parkinson) adalah seorang remaja muda yang tinggal dengan ibunya dalam gua di atap gunung, dipinggiran pulau. Kubo mengurusi ibunya yang melemah, sesekali pergi ke desa di tengah pulau untuk menghibur orang-orang desa dengan pantomim origami (Kubo adalah seorang paper-bender, ia bisa mengendalikan kertas, merubah bentuk dan menggerakkan kertas lewat alunan shamisen, atau semacam alat musik gitar miliknya). Kubo menceritakan kisah Hanzo (diambil dari nama ayahnya sediri), seorang single-warrior yang berpetualang mencari tiga-buah senjata pamungkas sebagai satu-satunya cara untuk mengalahkan iblis Far Lands, Moon King. Kubo digandrungi orang seluruh desa, melingkarinya, dan semuanya terhibur. Namun lagi-lagi -seperti hari-hari kemarin, Kubo tak bisa menyelesaikan ceritanya karena petang sudah menjelang. Ia pulang, memenuhi nasehat ibunya, Kubo tidak boleh berada diluar ketika malam hari, apapun yang terjadi.

Sang ibu, dulunya merupakan salah satu witch paling kuat seantero, berada dalam pihak kegelapan untuk meladeni nafsu akan kekuasaan sang ayah (kakek Kubo) bersama saudari-saudarinya. Dulu, mereka membunuh para ksatria-ksatria yang berusaha membalikkan keadaan. Hingga sang Ibu bertemu Hanzo, jatuh cinta, dan berubah menjadi baik. Sang ibu melepas diri dari kebengisan keluarganya, Kubo lahir. Sang Kakek yang marah mencoba merebut Kubo dari tangan orang tuanya, Hanzo sang ayah telah gagal, Kubo berhasil lari bersama Ibunya, bersembunyi di dalam gua, dengan Kubo harus kehilangan satu matanya akibat pelarian ini.

Penggalan cerita yang kubeberkan diatas, bukan sesuatu yang akan terjadi dalam filmnya nanti. Ia juga dijelaskan dalam suatu narasi pula. Mempertegas satu hal : bahwa Kubo memiliki background permasalahan yang kompleks untuk diangkat. Sebuah konflik keluarga yang merumit tapi tidak muiuk. Istilahnya, Kubo adalah remaja yang ditakdirkan untuk merapikan masalah yang timbul sebelum dirinya sendiri lahir.

Singkat cerita, karena ceroboh, Kubo dikirim ke dunia antah berantah oleh suatu kekuatan sihir, dimana ia bertemu dan berpetualang dengan seekor monyet (Monkey, suara oleh Charlize Theron) dan kumbang besar (Beetle, suara oleh Matthew MccConaughey). Seperti hidup dalam dongeng yang selalu ia ceritakan sendiri, dan tanpa petunjuk apapun, Kubo dan kawan-kawan mencari tiga buah senjata pamungkas untuk melawan kekuatan jahat sang kakek yang terbangun kembali. Tentu saja ini bagian film yang terkemudikan oleh suasana adventurous yang asik dan juga surprisingly funny.

Kubo and the Two Strings adalah sajian baru bagi keluarga. Kisah tentang mitologi yang kuat dengan komposisi karakter yang tidak terlalu ramai, namun tepat guna. Menyerap, menyedihkan, lewat score-nya yang menggerakkan, dan juga memiliki momen dimana filmnya bisa berubah bernuansa mencekam dan menakutkan. Memang, film ini lebih bermain dengan pewarnaan yang gelap untuk mayoritas bagian sebetulnya, Antagonis The Sisters yang diisi suaranya oleh Rooney Mara, begitu devilish dan bikin merinding. Disamping itu, film ini tetap memberikan porsi action yang cukup, dipenuhi beberapa boss battle yang membuat filmnya tiba-tiba sudah berada di ujung. Kubo and the Two Strings memberikan suatu kejutan tentang karakter-karakternya di akhir. Jika dipikirkan lagi, ini adalah suatu kisah parent-hood dan drama keluarga yang menyentuh,

Seperti -barangkali kalau kau mau mengingat kembali The Lion King yang juga bicara tentang perselisihan dalam persaudaraan, Kubo and the Two Strings sama suksesnya untuk mengukuh tema yang sama. Timeless, dan siap diganjar Oscar. Aku sangat mencintai konklusi film ini yang melakukan pendekatan ‘mendamaikan’ yang jahat daripada menyingkirkannya. Ah, pokoknya, seperti yang sudah kukatakan diawal, ini spesial.

Backup_of_re2

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick