Review – Knives Out (2019)

4.5

Berbeda dengan film detektif kebanyakan yang mencari jawaban dari sebuah misteri, Knives Out tanpa henti mencoba mengulik apa yang masih menjadi misteri dari sebuah jawaban.

Knives Out selalu pantas untuk masuk daftar film asik siapapun. Semua yang menontonnya akan cepat menyadari bahwa film Rian Johnson ini mampu menjanjikan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Menopang banyak genre dan kuat dimasing-masingnya. Dalam thriller ia mahal, dalam mystery dia kaya, dalam comedy ia otentik. Knives Out adalah kesempatan jarang bagimu untuk berpikir keras dan kegirangan secara paralel di satu film.

Seorang novelis kondang kaya raya telah meninggal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) ditemukan tergeletak di dalam ruangan rumahnya dalam preasumsi bunuh diri pada pagi hari setelah malam ulang tahun ke-85 nya baru saja dirayakan kemarin. Polisi datang dan memanggil seluruh keluarga besar untuk menyimpulkan kasus (karena kebetulan juga mereka semua hadir dalam pesta kemarin), namun disela-selanya, terdapat seorang misterius duduk dan memperhatikan, adalah detektif investigator swasta bernama Benoit Blanc (Daniel Craig) yang dibayar untuk menggali apa yang mungkin tersembunyi dari kasus ini.

Satu per satu anggota keluarga ditanyai: Kakak tertua Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis) membicarakan kesamaan etos kerja dan tapak karirnya dengan sang mendiang, Richard Drsydale (Don Johnson) sebagai suami Linda yang tak terlalu dekat sesungguhnya dengan mertuanya, Walt Thrombey (Michael Shannon) anak laki-laki paling muda Harlan sebagai tangan kanan sang ayah untuk urusan publishing dan marketing novel-novelnya, Joni Thrombey (Toni Collette) menantu Harlan yang selama ini secara keuangan ditopang Harlan untuk membiayai sekolah Meg (anak gadis Joni, dimainkan Katherine Langford) sejak suaminya meninggal 15 tahun yang lalu. Dan ditambah beberapa kepala lagi sebagai cucu almarhum, total ada 10 orang di keluarga ini. Termasuk Ibu Harlan, Great Nana Wanetta (K Callan) dan pembantu utama Harlan, Marta Cabrera (Ana de Armas) yang turut hadir disana.

Gambaran kronologis pesta malam tadi telah disampaikan, tentang siapa melakukan apa dimana pada jamberapa. Semuanya tampak normal. Ditengah keyakinan polisi bahwa memang ini kasus bunuh diri, Blanc mengintervensi, menaruh curiga pada penjelasan-penjelasan. Pamornya sebagai detektif dibuktikan oleh kecerdasannya. Dan darisana penonton menjadi tersentak, betul saja, semua orang ini berbohong dari cerita cerita mereka. Berbeda motif namun siapapun dari mereka bisa jadi pelakunya. Harlan mungkin tidak bunuh diri.

Dan Knives Out dengan tema murder mystery-nya yang generik, tampil sama sekali tidak generik untuk hampir keseluruhan elemen, terutama berkat set filmnya tidak terasa terisolir layaknya film yang hanya sibuk dalam olah TKP. Lebih jauh, hubungan karakternya unik disini. Keluarga Thrombey tidak digiring ke permainan provokatif dimana satu sama lain menuduh sebagai pelakunya, bahkan mereka senada bahwa ini semua bukanlah pembunuhan terencana. Mereka percaya ini adalah bunuh diri biasa. Kenapa begitu? well tiap-tiap dari mereka adalah pribadi yang korup, licik, munafik. Berdalih sebagai sosok yang dekat dan menyayangi ayahnya, namun aslinya tidak terlalu. Mereka adalah sekumpulan yang tidak harmonis. Terang saja mereka tidak terlalu acuh pada segala macam investigasi ini, merepotkan saja, yang mereka inginkan hanyalah jatah paling besar akan warisan-warisan yang akan segera diumumkan. Anak-anak semrawut, mengetahui bahwa kematian sang ayah justru menjadi panggung mereka cekcok.

Knives Out memiliki cerita dan pengarahan kelas A yang membaur sempurna, yang mana jika saja filmnya disutradarai oleh orang yang berbeda dengan orang yang menulis ceritanya, filmnya tidak akan seoptimal ini. Dengan itu, Rian Johnson menunjukkan kualitas dimana penonton yang datang dengan ekspektasi apapun, akan terpuaskan.

Dipersenjatai dengan ansambel para pemain yang bombastis membuat ini semakin seru. Dengan karakter yang banyak dalam hitungan, Rian dengan pas membagi porsi untuk masing-masing. Begitu pas dan itu juga membantu menjaga kemisteriusan filmnya. Rian tahu betul takaran flashback apa saja yang perlu ia sampaikan. Ceritanya digiring dengan hati-hati seolah-olah ia sudah sering mengerjakan film sejenis ini.

Berbeda dengan film detektif kebanyakan yang mencari jawaban dari sebuah misteri, Knives Out tanpa henti mencoba mengulik apa yang masih menjadi misteri dari sebuah jawaban. Knives out membuat penontonnya terperangkap lewat penerkaan mereka sendiri, dimana ketika kita masih mencari-cari apa yang masih disembunyikan film ini, disaat itu pula tanpa disadari filmnya mengelabuhi. Narasi Rian adalah satu yang berhasil menuturkan kekacauan suasana dengan struktur yang sangat rapi.

Rapi dan tidak gampang tersingkap. Jangankan membicarakan pelaku, apa yang sesungguhnya terjadipun masih abu-abu disini. Bagi yang pertama kali menontonnya akan sulit sekali menebak siapa dan mengapa. Jika prediksimu mengenai apa-apa keliru di film ini, artinya analisamu kurang jauh, atau mungkin malah terlalu jauh.

Rian Johnson tahu bahwa kebanyakan film misteri mengajak penontonnya untuk tidak skeptis, dan ia menggunakan itu untuk memperdayai visi penontonnya. Konklusi filmnya meledak jenius, seperti puzzle yang akhirnya lengkap, atau seperti apa yang disampaikan Blanc dalam kalimatnya yang filosofis namun membingungkan: A donut hole in the donut’s hole. But we must look a little closer. And when we do, we see that the donut hole has a hole in its center – it is not a donut hole at all but a smaller donut with its own hole, and our donut is not holed at all!.

It’s a whodunit movie, talking about whose donut is it.