Review – Justice League (2017)

3.5

Cepat dan tepat. Zack Snyder kini sudah tidak sekeras kepala dahulu, ia mengantarkan Justice League sebagai tontonan yang cenderung melepaskan diri, dibawa dengan singkat, luar biasa fokus dan dikuatkan dengan dialog efektif. No Backstory Needed.

Personally, aku menyukai film ini. Memang tidak sepraktis itu untuk menyukainya, ada beberapa persiapan, atau mindset setting sebelum menontonnya : “Jangan terlalu berharap atau jangan berekspektasi sama sekali”. Anggap dia akan segagal Dawn of Justice atau Suicide Squad, dan tiba-tiba, dalam banyak aspek, Justice League surprisingly was not that bad.

Bukan hanya tidak buruk, namun juga mengalami perkembagan. Kita tidak mendiskusikan substansi daripada ceritanya dulu, tapi dengan gamblang bisa dilihat bahwa Zack Snyder bisa meminggirkan blunder lampaunya terhadap satu aspek, narasi. Justice League betul-betul rapi dan fokus dalam proses penceritaan, anggap saja ceritanya masih nol, setidaknya ini adalah narasi memuaskan. Dan sejak The Dark Knight Rises, Justice League adalah film DC pertama yang tidak terlalu mengusik pikiranku akibat menyesal karena menontonnya di bioskop.

Snyder kali ini tidak kolot, super-straight, sama sekali menghindari origins story yang time-consuming, ia sadar itu tak efektif dalam film dengan banyak karakter utama, seluruh karakter baru yang hadir (Aquaman, Flash dan Cyborg) cukup dikenalkan masing-masing dengan sepotong scene efektif. Ketika Bruce Wayne harus mengumpulkan mereka, urgensinya terletak pada ancaman masif oleh musuh yang datang. Wayne hanya peduli dengan kekuatan mereka, tentang asal usul hampir sama sekali masa bodoh, bahkan Flash milik Ezra Miller tidak pernah disebut namanya. Apakah ini hal baik ?, dalam banyak kesempatan memang tidak, misalnya untuk DC Fanboy, atau sekurang-kurangnya, jika kau antisipatif untuk mendalami tiap atau salah seorang karakternya. Kau tidak akan puas, dan menganggap film ini memiliki lubang besar. Lantas menurutku, adalah justru Snyder gets it right, kita tidak mencari cerita lebih dalam tentang Batman atau Wonder Woman, ini bukan sekuel dari kisah mereka.

Justice League adalah satu episode kecil, kali ini lawannya adalah makhluk demi-god yang mencoba mengambil alih dunia dengan mengumpulkan kembali tiga kotak misterius yang pernah direnggut darinya oleh kekuatan persatuan tiga ras : Amazon, Atlantis dan Manusia. Kotak-kotak ini konon mengemban suatu kekuatan besar yang jika tiga kotak tersebut disatukan, maka kekuatan dahsyat kegelapan akan merubah dunia perlahan menjadi kegersangan, dan merubah makhluk didekatnya menjadi Parademons, serangga humanik ala robot yang tunduk kepada kapak tuannya. Scene awal menunjukkan bagaimana Batman mempelajari kedatangan mereka di bumi, di Gotham City dan di kota-kota lainnya. Misterius, namun Batman tahu bahwa ada satu hal yang bisa memancing mereka, ‘ketakutan’. Setelah Wayne bersua dengan Diana, ia mengerti, Parademons hanyalah figuran dari induk kekuatan jahat besar yang ternyata tidak sedang dalam perjalanannya untuk datang, ia sudah disini, sebut saja raja kegelapan, Steppenwolf bangkit lagi setelah kekalahan pertamanya ratusan (atau ribuan, aku tak yakin) tahun yang lalu.

Betul sekali bahwa kadang kekontrasan alam dan juga ketidakjelasan universe di dalamnya masih ada. Gotham yang terlalu kelam dan tampak selalu malam, dibandingkan Metropolis yang dipenuhi gedung-gedung modern. Kali ini ditambahi dengan eksistensi dunia mistikal baru, Atlantis. Manusia biasa dan keturunan dewa memang sulit diceritakan secara berbarengan. Hasilnya adalah transisi yang cukup kasar. Tiba-tiba CGI memenuhi seluruh layar dimana sebelumnya sama sekali tak ada. Snyder tak terlalu memperhatikannya, tentu saja. Ia lebih fokus dalam proses bercerita alih-alih membangun warisan atas kedetilan universe-nya. Berbicara geografis atau kemasukakalan terhadap nalar tentang semesta, level Justice League masih dangkal. Lagi-lagi aku tak masalah.

Durasi yang cepat (hanya dua jam) memaksa Snyder memangkas hal-hal yang eksesif : Dialog. Justice League sudah tidak sentimentil dan secara logis, konfliknya dapat diterima (aku menyindirmu Dawn of Justice !). Snyder kali ini tidak jatuh kepada dialog atau momen yang hanya menunjukkan justifikasi tentang perasaan (walaupun masih ada, tapi itu sangat sedikit). Jika Snyder kelewatan sedikit saja dalam mengeksplor hubungan Bruce dan Diana lebih jauh, aku yakin filmnya justru akan terjebak disana. Analoginya, katakan saja menjadi superhero adalah sebuah pekerjaan, mereka melakukannya dengan professional. Tidak ada dialog tentang bias moral dan nurani, atau diskusi tentang benar atau salah yang dramatis, namun jauh lebih teknis : Bagaimana caranya mengalahkan musuh ?.

Aku akan bilang bahwa penggunaan sumber daya di film ini begitu tepat guna. Kau tidak perlu banyak waktu atau momen untuk memperkenalkan para karakternya. Persona para superhero kita sudah kelihatan tegas lewat eksposur yang minim. Khususnya si Bruce Wayne milik Affleck, menurutku ini adalah titik balik daripada karakterisasinya. Akhirnya ia tampil rasional, dan bagaimana ia menyadari bahwa kekuatannya sudah tak relevan dengan ancaman yang kini datang. “Kita butuh Superman”, katanya pesimis terhadap kemampuannya. Ketika Wonder Woman dan Aquaman sibuk melawan Steppenwolf, Batman sedang kesusahan melawan seekor Parademons. Alfred berkata bahwa semuanya jauh lebih menyulitkan sejak kejahatan adalah membereskan bom oleh Penguin. Batman seperti sudah saatnya pensiun dengan luka-luka itu, dan tentang bagaimana sikap leadershipnya tidak ditunjukkan lewat kekuatan, bagiku itu sangat menggugah. Kita semua tahu bahwa Batman adalah pahlawan regional Gotham, dan ketika ia harus keluar untuk berhadapan dengan para dewa, Snyder memberikan ia peran yang masuk akal dan dengan sangat baik. Christian Bale akan selalu menjadi Batman paling favorit untuk disegani semua orang, namun bagiku, Ben Affleck akhirnya mulai mendapatkan keseganan itu disini.

Justice League memang tidak memorable, it is literally a pop corn movie. Itu tidak akan memuaskan fan boy, tapi ia telah menciptakan baseline yang sudah cukup sebagai flashlook film-film mendatangnya. Masih tetap dibalut dengan adegan gelut chaotic yang khayalnamun setidaknya tidak semena-mena dengan memperlihatkan Justice League bagaikan tim dengan struktur daripada perkumpulan para petarung keadilan. Flash tak bisa bertarung jadi yang ia lakukan hanya menyelamatkan sandera, Batman terlalu lemah sehingga ia hanya berperan sebagai pengalih perhatian para Parademons. Asal usul Cyborg menjelaskan bahwa ia mungkin memiliki bakat untuk menggagalkan misi penggabungan tiga kotak kekuatan. Wonder Woman dan Aquaman memang lulusan terbaik dari bangsanya, tapi Steppenwolf masih terlalu kuat, mereka butuh Superman yang telah mati, namun bagaimana caranya ?. Keimbaan memang masih ada, namun setidaknya konsep kerelatifan kekuatan sudah terjelaskan dengan baik disini.

Lantas, mengapa filmnya terasa buruk ?, itu adalah hasil dari suatu paradigma. Dimasa persaingan DC-Marvel, hampir tidak ada orang yang hanya menonton salah satunya. DC yang baru saja merangkak, terkena damprat akibat penonton yang membandingkannya dengan Marvel yang memang sudah lama matang. Tentu saja DC kalah telak, apalagi ketika Thor : Ragnarok sangat lumrah dijadikan perbandingan relatif karena release date-nya berdekatan, Justice League yang belum punya basis dan momentum terhadap perkembangan universe-nya, terpaksa harus tercela.

Ketika trailer Infinity War menjadi hype, kau akan tahu bahwa DC akan semakin tertinggal. Tapi tak mengapa, DC pun pasti menyadarinya pula. Mereka memang kalah start, dan sedang berusaha untuk mengejar jarak. Setidaknya, mereka melakukannya dengan benar.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick