Review – Joker (2019)

2.5

Joker akan mudah disukai abege yang sok nyaman dengan narasi kejahatan yang berisik.

Menurutku, film ini mudah digandrungi akibat beberapa aspek yang jelas: filmnya kelam, tegas dan berani, dan berfokus pada studi karakter sosok jahat, serta paling utamanya adalah bahwa film dengan nuansa seperti ini jadi sesuatu yang jarang untuk tampil sebagai feat blockbuster perfilman modern. Yang ingin kukatakan, sebenarnya kita sudah pernah mendapatkan itu, beberapa dekade lalu, dengan cerita lebih orisinil dan dampak yang lebih mengena. Dua film itu adalah Taxi Driver dan King of Comedy nya Martin Scorsese; dan hanya jika semua yang mengagumi film ini menonton 2 film itu lebih dulu, maka aku yakin sebagian dari mereka tidak akan terlalu memuja Joker pada akhirnya.

Memang Todd Phillips-pun, sang sutradara dan penulis naskah, mengakui bawa ia terinspirasi double features yang kusebut tadi, tapi beberapa kesamaannya: mulai dari penggambaran lingkungan sosial sekitar, ambisi mustahil nan sinting tokoh utama, bahkan konsep adegan yang ada di-filmnya, menegaskan bahwa ini sungguh mirip hingga kau tak bisa membedakan apakah ini terinspirasi atau plagiarisme.

Aku jadi kuatir, barangkali orang-orang menyukai Joker hanya karena dia adalah film yang lebih baru yang lebih mudah diakses.

Selain baru, alasan keberhasilannya ditengarai pula oleh usaha marketingnya yang jor-joran, dan bagaimana hype telah terlena dengan strategi jitu Todd Phillips ‘meminjam’ tokoh kultur pop yang tidak mungkin asing bagi siapapun, Joker; Musuh bebuyutan pahlawan dalam topeng paling terkenal, Batman. Siapa tak kepincut ?.

Dengan bekal itu, Todd Phillips membawakan origin story Joker versi karangannya sendiri, dan filmnya tidak lagi terlihat seperti film comic book ataupun fakta bahwa karakternya diambil dari semesta superhero. Barangkali film ini sesungguhnya bukan tentang Joker hingga menjelang akhir; ketika nama “Joker” baru digunakan dan ketika Todd Phillips berhasil menyulam benang merah kecil tentang cerita Thomas Wayne dan origin Batman yang cukup meriangkan fanbase.

Yang akan dikenal sebagai Joker, memiliki nama Arthur, diperankan oleh si fenomenal Joaquin Phoenix dengan penuh komitmen, dedikasi dan asa fisik. Dia orang yang tidak stabil, tertawa dalam kesedihan, sebagaimana ia sedang kesakitan. Orang menganggapnya tak wajar, dan menjauhinya. Beberapa bahkan memukulinya, mengucilkannya, dan lain-lain seakan filmnya tampak ingin sekali membuat Arthur sengsara. Arthur merasa situasi di luar mulai menggila, tapi bagiku lebih seperti tidak nyata dan berlebihan. Dan Arthur pun selama filmnya seperti mengonfirmasi bahwa dia memang terzalimi. Hmm, bagiku kok seperti mengemis perhatian, yah ?

Arthur menghidupi dirinya dan Ibunya sebagai badut iklan dan berada diambang kehilangan pekerjaannya itu setelah satu kesialan dan kesialan datang. Menemui psikiater secara rutin dan menelan beberapa pil. Arthur memiliki penyakit aneh ini dimana ia akan tiba-tiba tertawa ketika emosinya bergejolak. Terseok-seok dengan problematika diri dan sekitar, ia mantap untuk menjadi karir yang ia dambakan, stand-up comedian. Tapi tentu saja lingkungannya tak mendukung, seperti yang kubilang, ia tampak selalu di cemooh.

Tekanan ini membuatnya terpukul, dan kejiwaan Arthur mulai terbuka dengan pendekatan-pendekatan melewati batas. Dia ingin mulai diperhatikan, ingin orang-orang menghargai ambisinya. Satu demi satu dia membuat orang yang menyengsarakannya membayar. Arthur mencicipi kriminal dan merasakan bahwa justru itulah yang membuatnya merasa bebas dan memegang kendali. Disinilah filmnya terasa berani seperti yang kubilang; titik dimana pesan jangan bawa anak kecil menonton ini terdengar relevan. Joker adalah kisah progresif seorang sakit yang lugu bertransformasi menjadi psikopat gila.

Meskipun begitu, walaupun kekerasan yang ada difilmnya sukses memberikan efek shock, hampir semuanya terduga, dan tidak sampai memberimu perasaan yang tidak menyamankan melebihi momen ketika Joker mendapatkan kesempatan melakukan stand-up pertamanya. Satu adegan terbaik di film ini menurutku, Arthur tertawa tak bisa berhenti dalam keheningan penonton yang canggung, membuatku totally uneasy dan ingin momennya segera berakhir.

Disisi lain, aku terus terang menyukai ide Todd Phillips dalam mengangkat kisah ini tidak hanya dalam skala personal, lebih jauh dia memperkenalkan Arthur sebagai simbol perlawanan dari apa yang dijelaskan di film ini sebagai pemerintahan yang munafik. Di film ini, Joker dikenang bukan sebagai perseorangan, namun picuan pergerakan resistansi masal. Topeng badut menjadi mode dan ini sejalan dengan kebutuhan mental Arthur yang ingin di-‘notice’ society. Walaupun sebenarnya beberapa hal seperti stigma “Bunuh si kaya” dan mass panic terasa tiba-tiba ada di filmnya tanpa disetir suatu momen yang kuat.

Aku melihat Todd Phillips tampak cemas disini, dia memberikan sentuhan-sentuhan dramatis yang ia pikir bisa mengatasi kejenuhan penontonnya alih-alih menambah nilai yang berarti pada filmnya. Hampir setiap waktu aku melihat Arthur/Joker berjalan melewati lorong dengan efek slow motion dan musik bertenaga berikut dengan adegan-adegan dirinya menari-nari semau diri. Mencoba membagi kesintingan Arthur dalam perspektif imajinatif, tapi malah terkesan narsistik dan menunjukkan bahwa Todd benar-benar berusaha menutupi betapa membosankannya film ini.

Dan kecemasan itu pada titik tertingginya pada babak akhir filmnya ketika Todd Phillips memberikan adegan conclusion speech dari Joker yang justru menghancurkan studi-studi psikologis karakter dan pesan-pesan sosial yang satir yang sebenarnya sudah cukup subtil dikembangkan dari awal. Adegan ini menggamblangkan semuanya. Todd terlalu kuatir penontonnya tak bisa mengerti pesan film ini, dan akibat adegan itu, menurutku Todd telah melakukan perjudian yang mengecewakan.

Setelah itu, filmnya diselesaikan dalam tahapan yang bertele-tele, yang mana kukira sudah selesai namun ternyata belum. Masih saja ia mencoba memberikan impresi dengan tampil edgy lagi dan lagi. Yah, setidaknya finale yang megah itu menjadi highlights yang penting dari film ini, karena Joker menutup tirai pertunjukkannya dengan konklusi yang mewakili harapan penonton; Ya, kita bersimpati pada si gila itu kadang-kadang.

Overall, satu kesan yang paling meyakinkanku adalah bahwa filmnya berani menjual crime yang tega, tapi tak cukup berani mempersembahkan pendekatan kajian psikologis yang lebih dewasa. Sebenarnya kita justru akan terhuyung dalam merasakan apa yang dirasakan seorang karakter apabila pendekatannya dilakukan secara intim dan hening, lebih menjiwai menurutku. Namun film ini yang ada justru menyampaikannya secara berisik dan mencoba terlihat keren.

Duh, pada akhirnya Todd Phillips hanya bisa mengeskalasi karakter komik ini dari yang tadinya disukai anak-anak menjadi sesuatu yang favorit bagi para remaja. Cukup, ia tak bisa lebih dewasa dari itu.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick