Review – John Wick : Chapter 2 (2017)

4

John Wick  tetap tak bisa mati, dan kali ini ia pergi ke luar negeri, untuk diburu dan untuk membunuh lagi.

re john wick

John Wick kembali diantar ke permukaan oleh Chad Stahelski dan screenwriter Derek Kolstad sebagai kisah lanjutan, yang menurutku sangat mengejutkan karena mungkin John Wick sudah sangat sempurna sebagai stand-alone movie. Ataupun, jika memang harus ada film selanjutnya, suatu prequel pasti lebih mencerahkan, karena backstory tokoh populer Keanu Reeves di franchise ini tidak terlalu diungkap lewat flashback scenes ataupun semacamnya di film predesesornya. Alih-alih kita hanya diberitahu secara lisan, dan selebihnya adalah tontonan aksi penebusan John Wick kepada keluarga Viggo si mafia Rusia karena tindakan ‘mencuri mobil dan membunuh anjing’ oleh anaknya Iosef yang mempertegas satu hal, satu yang ingin disampaikan filmnya : you don’t mess with John Wick.

Dan pada Chapter 2 ini, penegasan itu diuji, Stahelski menantang John Wick untuk terjun kedalam dunia yang lebih luas. Universe khas dimana menjadi assasin adalah profesi di bawah bayang-bayang yang ramai, akan ada banyak karakter baru dengan kemampuan bela diri serta menggunakan senjata yang tidak main-main disini, orang-orang dengan jalan hidup seperti John Wick. Dunia keji dimana membunuh adalah hal wajar yang berangkat dari motif personal dan kesepakatan, semena-mena namun ada tetap ada suatu aturan dibelakangnya. Polisi hanya mengurusi hal kecil seperti kebakaran. Benar, polisi-pun tak mampu ikut campur disini. Loyalitas berada jauh dibawah iming-iming kekuasaan dan koin emas sebagai mata uang khusus di film ini. Hidup sepertinya hanya sebatas itu, namun tidak bagi John Wick, untuk bertahan hidup-pun kini sulit baginya. Ini lebih semacam pengenalan mendalam juga enhancement daripada konsep film awalnya. Suatu penebalan yang luar biasa yang membuat film pertamanya terlihat sangat kecil dan lokal. John Wick : Chapter 2 akan terasa jauh lebih berdarah, lebih banyak aksi dengan John Wick berurusan dengan bahaya lebih global yang far more dangerousIt is Bigger and more violence.

Ketika John Wick baru saja kembali ke kehidupan tenang dengan anjing barunya, saat dirinya baru saja mengubur kembali senjata-senjatanya, tamu tak diundang datang sebagai representasi bagian masa lalunya. Adalah Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang menagih suatu ‘hutang’ kepada John Wick, suatu misi berbahaya dan tak bisa dihindari Wick karena suatu ‘kontrak’, dengan sangat berat, ia kembali lagi dengan ‘killing suit’-nya, menjalankan misi berat yang mengharuskannya terbang ke Roma. John Wick is wicked to do this forever, pensiun hanya angan-angan, dirinya adalah malaikat yang dikutuk, atau iblis yang takkan pernah bisa bertaubat. Setidaknya dirinya telah dipersiapkan untuk menghadapi ini. Di film pertamanya, Stahelski menunjukkan kebuasannya, bagaimana musuh merasakan reaksi terhadap suatu aksi yang mereka lakukan pada Wick. Disini kebalikannya, John Wick harus menghadapi suatu reaksi masif tak terhindarkan akibat aksi-aksinya di masa lampau. Ini adalah reuni yang sakit, dan bahkan disini Wick sekali lagi masuk sayembara ‘to kill’ dengan hadiah tiga-setengah kali lipat dari tawaran Viggo di film pertama.

John Wick : Chapter 2 akan memuaskan bahkan bagi orang yang tidak menyukai action, atau katakan film ini bisa mengeneralisir jenis-jenis penonton semacam itu. Semuanya berkat sentuhan Stahelski,- ex-stuntmant di film-film blockbuster seperti The Matrix dan 300 (ia menjadi stunt Reeves di The Matrix), dengan memberikan perisa action yang rapi, non-stop namun datang diwaktu yang tepat. Porsi kekerasan film ini tidak pernah terasa eksesif. Koreografi yang ciamik dan sangat-sangat diperhatikan, bela diri khas Wickque menjadi alasan John Wick : Chapter 2 memiliki fight scene yang estetis dan eye-pleasuring. Presisi dan akurasi, John Wick adalah gunman dengan preferensi pistol, dipincingkan di depan matanya sambil berjalan mengendap menunggu musuh yang keluar dari tiap sudut, ia penembak yang selalu mengenai sasaran, kepala atau kadang beruntun di badan musuhnya. Disaat yang sama ia adalah martial artist dengan eleganitas, mengempit satu musuh, mencuri pistolnya dan menembaki yang lainnya. Belum lagi dengan bagaimana Wick menggunakan belati atau mobil untuk menghabisi musuh-musuhnya. Ini hanya sebagian dan sudah terlalu memikat bagiku.

Sekuel ini tampil menjanjikan, dan endingnya yang luar biasa greget melahirkan suatu potensi baru lagi. Harapan baik bagi para fans karena kabarnya installment-nya tak akan berhenti disini. Aku sudah tak meragukan direksi Chad Stahelski, dan jika di film ketiganya masih akan dinaskahi oleh Derek Kolstad -yang mana di Chapter 2 ini menurutku mengalami peningkatan luar biasa, aku siap menunggu kapanpun. Toh kita tak akan pernah bosan dengan kisah The Continental, organisasi (dan juga nama hotel tempat markasnya berada) dimana gerombolan assasin terkumpul dan beroperasi masing-masing dibawah lisensi dan regulasi, dimana mereka tidak diperbolehkan saling membunuh di area-area tertentu. Mungkin tema film ketiganya akan menarik jika penonton diajak untuk menelusuri sejarah dan backstory The Continental ini, yang mana mungkin kita akan bertemu Charon (Lance Reddick), sang resepsionis hotel untuk sekali lagi !.

Dan tentu saja kita semua betah dengan suguhan komedi dry-wit yang hampir seluruhnya diperlihatkan dengan bagaimana karakter-karakter film ini begitu ketar-ketir, ketakutan ketika mendengar nama John Wick, yang sepertinya dirinya telah menjadi legenda di dalam universe-nya sendiri. Quotes dan cerita tentang ‘John Wick membunuh tiga orang di bar dengan sebuah pensil’ juga nama julukan The Boogeyman akan diperdengarkan lagi di momen paling awal film ini, yakni suatu filler yang berusaha menyederhanakan (atau menyempurnakan ?) kisah film sebelumnya. John Wick kembali untuk mengambil mobil 1969 Mustang-nya yang masih berada di tangan keluarga Viggo, tepatnya saudara Viggo, Abram Tarasov (saudara Viggo). Sama saja, ia pun gelagapan hanya mendengar nama Wick.

Membahas komposisi, casting John Wick : Chapter 2 menjumpakan lagi karakter lamanya, Aurelio si pria di garasi mobil kembali lagi, dan Winston (Ian McShane) mencoba menunjukkan kedinginannya dengan porsi yang lebih banyak daripada sebelumnya. Chapter ini pun melahirkan karakter-karakter baru nan karismatik dimana semuanya hampir diberkati kekuatan bertarung. Laurence Fishbourne direunikan dengan memerankan karakter abu-abu sebagai Bowery King, bos bagi para pengemis bersenjata. Terakhir ada Cassian (Common) dan Ares (Ruby Rose) yang menurut prediksi akan kembali muncul di wacana film ketiga.

Entah kenapa aku merasakan resemblance yang kuat antara franchise ini dan The Raid, terlebih tentang formula yang menghubungkan film pertama dan keduanya. Film keduanya sama-sama menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks. Iko Uwais dan Keanu Reeves terjebak dan masuk kedalam suatu sistem teramat bengis nan berbahaya, diburu dan sendirian, tanpa sosok yang bisa benar-benar disebut sebagai teman. Berkelahi dan terus berkelahi hingga mungkin melewati batas kelelahan, mendapat luka dan mereka hanya ingin semuanya berakhir. Akan tetapi, pada akhirnya pun kita semua tahu, bahwa -baik Rama (Iko Uwais di The Raid) dan John Wick, mereka masih terlalu tangguh.

So, you don’t mess with John Wick, don’t you ever f*cking dare. Aku bicara padamu, Santino.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick