Review – IT (2017)

3

Ketika horor efektif sukses dipadukan dengan konsep cerita  “mari kita basmi setan itu !”, hasilnya adalah perseteruan sengit antara anak-anak remaja dan iblis sirkus yang menghibur dan scary good.

Sekali lagi, sebuah novel karya Stephen King diadaptasi ke layar lebar. Dan sekali lagi pula, sebuah judul yang sama mendapatkan kesempatan itu. So it is a double once again, i guess. Setelah bukunya rilis pada 1988, It tampil pertama kali sebagai double-miniseries pada 1990 berkat tangan Tommy Lee Wallace. Lewat tangan yang baru, It kembali tampil dengan sang iblis badut, Pennywise dengan penampilan yang jauh lebih modern dan make-up menjanjikan.pula (tidak lagi seperti plain clown bak pendahulunya), diperankan oleh salah satu 2017’s breakout, pemuda dari Swedia Bill Skarsgård yang memiliki kemampuan dalam impresi “senyum itu” -It memiliki aset fisik yang tersiapkan dengan baik.

Berbekal sinematografer Chung Chung-hoon dan lewat penyutradaraan aktor-tak-asing-dengan-horror Andy Muschietti (sutradara film tahun 2013, Mama), It adalah effective scary movie, memaksimalkan materi yang ada, dan manifestasi berbagai bentuk makhluk jahat yang dieksekusi lewat CGI yang halus dan betul-betul menakutkan.

Kota kecil bernama Derry adalah satu kota yang menyimpan rahasia yang jarang dibicarakan, kota ini menyembunyikan tragedinya, dan orang-orang tidak sadar dampak gaib yang telah timbul akibat itu. Yakni adalah iblis berbentuk badut yang melakukan terror mengerikan tiap 27 tahun sekali. Apparently, seorang remaja sekolah menengah bernama Ben (Jeremy Ray) melakukan penelitian terhadap itu dan mengutarakannya kepada sekumpulan teman barunya yang bertemu secara tidak wajar dan tak sengaja. Dengan singkat, sekumpulan anak remaja yang menamai diri mereka sendiri sebagai The Losers ini melakukan misi berbahaya dengan mencari tahu semua. Bagi Bill (Jaeden Lieberher) misi misteri ini berarti banyak baginya, yang ia yakini akan menuntunnya untuk menemukan sang adik, George yang dari setahun lalu hilang (Diceritakan sebagai prolog paling awal, adegan klasik ketika seorang bocah terseret bersama sang badut ketika tengah bermain perahu kertas di bawah hujan).

Dan wow, aku tak menyangka bahwa IT akan segila itu. Maksudku filmnya sangat ekstrem dan melebihi batas. Usahanya dalam mengimplementasikan bentuk teror yang sungguh menyeramkan, atau unsur-unsur sosial cult yang berlebihan. Aku tidak akan melakukan konfirmasi dengan budaya asli yang ada pada tahun itu, namun bullying dengan menumpahkan air sampah, atau menganiaya seseorang dengan memberikan goresan pisau tajam ke tubuhnya, hingga hubungan Beverly Marsh (Sophia Lilis) dan sang ayah bagaikan persekusi non-verbal yang menurutku tidak perlu. Akan kujelaskan saja, salah satu protagonis kita, Beverly adalah anak perempuan yang kerap diolok sebagai gadis dengan banyak lelaki (kau tahu maksudku), dan ayahnya is kinda know about that dan silahkan tebak selanjutnya. Yang jelas IT sama sekali bukan film untuk ditonton anak-anak, bahkan filmnya terasa sudah keterlaluan dengan subjek karakternya yang seluruhnya anak-anak. Kau harusnya tidak menonjolkan unsur-unsur sensitif seperti itu untuk film blockbusters. I know it was R-rated, but still it was too strong and unnecessary.

Ketika Pennywise hanya terlihat memberikan teror bagi anak remaja, Muschietti menyempitkan semestanya agar sang badut iblis lebih leluasa. Beberapa orang dewasa didesain begitu skeptis dan keras kepala, pada fase tertentu mereka tiba-tiba hilang dan lenyap. The Losers mulai membangun hubungan satu sama lain, membuat momen, menempatkan kepercayaan dan ada saatnya mereka mundur, lalu berbeda pendapat dan berselisih. Oke itu klasik dan aku masih bisa menerimanya, namun kenaifan beberapa karakternya masih belum bisa kuterima, dan walaupun plot yang ada mencoba tetap orisinil bak karangan aslinya, sikap para begundal kecil ini untuk tidak mengandalkan peran orang dewasa dan betapa naifnya ambisi mereka susah untuk dimaafkan.

Alhasil, kesanku agak campur aduk. Ide perwujudan iblis yang bervariasi dalam melakukan teror pada orang yang berbeda nyatanya cemerlang. Bauran horor bercampur tema sirkus pun nyatanya jitu. Tetap, Muschietti masih terbilang perlu belajar membawa ini semua, bahkan unsur romance kecil-kecilan yang ia putuskan untuk diangkat justru tampak nanggung, canggung dan ambigu.

Setelah Pennywise takluk (untuk sementara), janji disematkan oleh kawanan-kawanan pemberani kita untuk bertemu lagi 27 tahun kedepan (saat itu tahun 1988), untuk bereuni dan menghajar sekali lagi si badut jika ia muncul lagi. Mengingat perjuangan Bill dan kawan-kawan di film ini tampak lambat dan cenderung terasa overlong, mari kita tunggu bagian kedua daripada film ini : apakah mereka, dan Muschietti, bisa melakukannya lebih baik ?

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick