Review – Isle of Dogs (2018)

3.5

Formula agak generik masih terasa luar biasa jika Wes Anderson  yang memegang kendali. Isle of Dogs  menunjukkan bahwa anjing selamanya masih sahabat manusia.

Setelah lama menunggu, Isle of Dogs datang dan menjawab kekangenan para fans Wes Anderson. Directorial style-nya sama sekali tidak berubah, dan tak kurang. Microworld universe kembali dengan tema yang lain. Masih tetap membubulkan konflik-konflik ala rebellion, Anderson mengarahkan filmnya pada setting yang lain. Kampanyenya cukup menawan, ia menawarkan banyak hal, utamanya : Anjing, dan Jepang.

Dibuka dengan monolog oleh seekor anjing yang akan kita ketahui bernama Jupiter (Murray Abraham, apparently Wes Anderson begitu gemar memilih seseorang dengan suara berat dalam mengisi monolog), Isle of Dogs memberikan sedikit flashback berbau legenda. Masa lalu tentang kehidupan era dinasti, sebelum masa age of obedience, dimana anjing dan manusia hidup dengan kebebasan masing-masing. Raja dari golongan manusia, cat-loving Kobayashi yang bengis menyatakan perang dengan para anjing, menang dan menjinakkan mereka. Pada suatu waktu, warrior cilik dari klan manusia merubah nasib para anjing-anjing ini dan mengkhianati spesiesnya, bersimpati pada anjing.

Premis Isle of Dogs tak bisa lebih klasik lagi, inginnya menitik-beratkan pada suatu penceritaan tentang bagaimana legenda terulang kembali. History repeat itself. Itu adalah ketika pada present time, seorang bocah cilik, yang secara diam-diam mengendarai pesawatnya ke pulau pembuangan, Trash Island, yang berada diekor terpisah pulau berpenduduk Megasaki City dimana seorang walikota authoritarian bernama Mayor Kobayashi (kemungkinan dia adalah keturunan antagonis kita diawal), mengecam keras keberadaan anjing disekitar karena wabah flu anjing telah meluas. Resah dengan hal tersebut, Mayor Kobayashi melakukan pengucilan seluruh anjing di Megasaki untuk dibuang dan ditelantarkan di Trash Island, kebanyakan anjing yang dahulu adalah anjing rumahan kini hidup liar dengan mengandalkan sampah sampah yang datang dari kereta kerek yang terantar langsung dari pulau utama dimana manusia tinggal. Kini batasan antara dua spesies ini cukup jelas, setelah dua ratus tahun yang lalu liberalisme anjing dalam menjalani hidup dikekang, kini mereka harus hidup lebih sengsara lagi, di pulau kecil antah berantah.

Kemudian bocah cilik yang kusebut diawal tadi, bernama Atari (Koyu Rankin). Merupakan kemenakan dari Mayor Kobayashi, namun ia tak seperti pamannya, berumur tak lebih dari 13 tahun, ia melakukan penerbangan ilegal ke pulau sampah, mencari anjing kesayangannya yang dipaksa dipisahkan darinya silam, Spots (atau yang ia sebut sebagai ‘Spots-u’). Perjalanan Atari membaurkan benang merah ketika ia bertemu dog-pack yang bersahabat, tertanda Chief (Bryan Cranston), Rex (Edward Norton), King (Bob Balaban), Boss (Bill Murray), dan Duke (Jeff Goldbum). Namun Chief tak terlalu yakin dengan keberadaan Atari. Benar saja, ia satu-satunya anjing yang dahulu merupakan anjing jalanan atau stray, ia bersikeras bahwa itulah jati diri asli anjing, ia tak suka memiliki tuan. Namun para dog-pack ini erat, seringkali memutuskan sesuatu lewat voting dengan yay or nay. Dan merekapun menjadi bagian dari petualangan, bersama Atari memelosok ke sela-sela Trash Island yang penuh misteri.

Wes Anderson punya cirikhas unik tersendiri, kadang ia menggambarkan bagaimana anak kecil bisa berpikir bagaikan orang dewasa. Disini, para anjing tampak seperti makhluk yang memang cerdas dan memiliki kognitif yang bagus. Pengkisahan yang fast-moving, anjing-anjing menyusun rencana dan saling memberikan rumor, Wes Anderson kembali membekali film ini dengan dialog-dialog yang disampaikan dengan cepat dan terkesan sangat percaya diri mengumpamakan ketegasan dan kebulatan tekad. Mayoritas yang kumaksud dengan hal itu adalah dengan keberadaan tokoh gadis bernama Tracy Walker (Greta Gerwig), imigran bersekolah di Megasaki yang berpihak pada anjing, ia adalah pemberontak cilik yang menunjukkan maksudnya lewat demonstrasi. Ia percaya bahwa seluruh seluk beluk yang ada adalah propaganda demi kepentingan kampanye politik. Kisah Tracy, adalah hal menarik lainnya di film ini. Sekali lagi pun menunjukkan bagaimana Anderson selalu mencoba memadukan andil yang berimbang antar gender.

 Isle of Dogs memiliki cerita yang lebih simpel dan sederhana dibandingkan dengan Fantastic Mr. Fox mengingat keduanya adalah the only features yang digarap sebagai stop-motion animation oleh Anderson. Namun walaupun tidak sekental Mr. Fox dalam memberikan konflik tentang adulthood dan tak seintim itu dalam memaparkan hubungan antar karakternya, character twist tentang Chief mengarahkan film ini yang pada akhirnya mendekati kesan mirip-mirip, menunjukkan personalitas para anjing yang lebih dalam, yang benar-benar manusiawi dan menyentuh. Bedanya kita lebih mendapatkan eksplorasi karakter yang lebih berimbang dibandingkan pada Fantastic Mr. Fox yang lebih terkonsentrasi pada pengembangan karakter Mr. Fox.

Somehow, kita tak bisa berbicara tentang film Wes Anderson tanpa mengutip art production-nya. Betul-betul magis, ornamen-ornamen dan penggambaran tentang legenda dan dinasti teramat memukau, stop-motion tentang kultur jepang termasuk pertandingan sumo, sendra tari, hingga permainan akustik para pedendang tanpa kaus. Wes Anderson kembali dengan teknik close-up kesukaannya dalam menunjukkan detailed object seperti gantungan nama para anjing-anjing itu. Kali ini title card dan subtitle yang ia gunakan tersaji dalam bahasa jepang. As the matter of fact, Anderson menggarap ini murni bilingual dengan para manusia ia jadikan berbicara dalam jepang, sedangkan para anjing berbicara dalam inggris. Monolog-monolog oleh Mayor Kobayashi atau yang lain yang disampaikan dalam Jepang, seluruhnya diterjemahkan oleh karakter tambahan yang hadir sebagai penyiar berita. Kesimpulannya, tidak memahami Jepang bukanlah masalah untuk menikmati film ini.

Jika di film terakhirnya sebelum ini, The Grand Budapest sungguh pamer desain bangunan dan renik warna yang memikat, Isle of Dogs menyodorkan art design tentang seni topografi fiksi yang indah dan dibuat dengan luar biasa. Perjalanan Atari dan sekawanan anjing ini, seperti melewati belahan dunia yang berbeda-beda. Ada suatu adegan dimana mereka terus berjalan dengan backdrop latar belakang yang terus berganti dan berwarna warni. Menurutku dedikasi ini bisa dibilang berhasil memenuhi standar totalitas ekspektasi apapun. 

Produksi yang berhasil, preparasi yang menuai, Wes Anderson boleh berbangga diri, tapi itu adalah fabel yang masih kurang berbelit. Atau boleh dibilang seluruhnya mengenai substansi materi ceritanya, belum bisa menembusmu lebih dalam. Aku teringat film-film klasik Anderson yang selalu meninggalkanku termenung seperti The Royal Tenenbaums atau The Grand Budapest Hotel. Dan Isle of Dogs agaknya belum bisa disandingkan. Kendati, filmnya masih menawarkan moral yang bagus, cinta, persahabatan, dan bagaimana filmnya dinarasikan lewat a dramatic turn of events, film ini akan terus bekerja bagi siapapun dan kapanpun.

 

 

Engineering student but movies way more than manufactures