Review – Inside Out (2015)

4

Seperti karakter sentralnya, Inside Out  menciptakan feel  yang sama bagi penonton segala umurnya. Joy  dan juga Sadness.  Ini sangat layak diganjar Oscar untuk animasi terbaik.

Ini sangat menyenangkan, Inside Out yang tidak terlalu tinggi jika berbicara tentang ekspektasi ketika pra-produksi, tiba-tiba melonjat seperti kejutan. Apakah itu artinya ada sekuel ?, sebenarnya tidak ada lagi yang perlu diceritakan, namun jika writter/director Pete Docter bisa membawakan sekuel yang setidaknya sebaik ini, maka itu akan menjadi satu antisipasi baru. Perfectly developed and moving, Inside Out begitu terlihat bahwa ia miliknya Pixar, berkutat dengan ‘perasaan’ dan film ini adalah level yang lebih dalam, when feelings have feelings.

Baiklah. Tidak perlu dinyatakan lagi, Inside Out populer dengan emosinya, ampuh untuk urusan membuat mata pedas, momen-momen poignant yang sudah mulai terasa di tengah-tengah. Apakah memang itu senjata utamanya ?, jika iya maka aku sudah siap untuk ini. Namun bukan berarti aku akan mewek nantinya jika hal ini terbukti benar, tapi kritik-kritik stereotip itu membantuku untuk memindai apa yang layak untuk diekspektasi.

Inside Out bercerita tentang seorang gadis 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Diaz) , hobi bermain hockey, cenderung riang dan akrab dengan orang tuanya. Dalam suatu alam batin Riley, terdapat suatu universe yang begitu aneh namun nyentrik, hiduplah 5 karakter : Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Disgust (Mindy Kaling), yang bersama-sama mengontrol perasaan Riley dari balik sebuah kendali kontrol sebagai gambaran emosi bawah sadarnya dan bola marble besar bewarna sebagai perwakilan perasaannya. Konflik dimulai ketika Riley, tanpa sekeinginannya harus pindah dari rumah kecil di Minnesota ke kota besar, San Francisco. Dari sana ia seperti mulai diredam kesedihan, dan itu artinya ada masalah baru yang harus dihadapi Joy dan kawan-kawan. Diatas sebuah spaceship alam sadar bernama Headquarters, cerita tentang ‘bagaimana agar Riley tidak dilanda kecemasan dan kesedihan’ dimulai, dan secara mengejutkan, Inside Out berubah menjadi sebuah adventure yang kompleks ide dan menyenangkan.

Inside Out sebenarnya merepresentasikan permasalahan yang simpel, dilihat dari luar. Analoginya seperti pada film Inception, konflik muncul, orang-orang mulai tidur, lalu bangun dan permasalahan selesai. Inti ceritanya ada dibagian alam mimpinya, dan sama halnya Inside Out, ia lebih riuh dan complicated pada bagian alam sadarnya, dimana ini tidak hanya tentang Riley, namun lebih sering bercerita tentang Joy dan kawan-kawan. Tapi jika berbicara tentang bobot materi, jelas dua film ini tidak bisa dikaitkan, Inside Out adalah pure animated family comedy, jauh lebih mudah dipahami dan masih mampu dikatakan simpel untuk dinikmati, untuk diikuti.

Hey, mungkin itu adalah kenapa film ini dinamai Inside, dan Out.

Berbicara lagi tentang emosi yang digadang sebagai tolok ukur keberhasilan film ini. Ya, film ini cukup heartwarming, namun menurutku Inside Out belum sampai pada level ‘membuat dirimu terenyuh’. Bahkan ia masih dibawah film-film seperti Finding Nemo, Toy Story 3 atau bahkan film Docter sebelumnya UP kalau urusan heartwrenching. Tapi aku tetap takjub, pasalnya ide konsep film ini cemerlang, kompleks nan pintar sukses membuatku tidak lagi memikirkan emotion meter film ini. Dibalik kritik stereotipnya, ada satu hal yang jadi faktor mengapa Inside Out milik Pete Docter adalah karya mengagumkan, it’s a intelligent movie indeed.

Inside Out muncul dengan istilah-istilah yang erat hubungannya dengan memori dan kesadaran, film ini begitu menjual dari sana. Core memory, long term memory hingga train of thought. Hingga definisi istilah dan visualisasi tempat-tempat unik mulai Memory Dump sebagai tempat penghapus memori, ada Riley’s Land of Personality sebagai gambaran main happiness , BingBong adalah imaginary friend Riley pada masa kecil, ada pula imagination land berisi semua tempat dan orang-orang fana yang pernah diimajinasikan Riley, termasuk pacar khayalannya. Dan menurutku, yang paling memikat, adalah Dream Production. Wow, Inside Out seakan justru memikat lewat trivia-trivia dan konsep sampingan brilian yang ia suguhkan.

Cukup sampai disana, Inside Out sepertinya sudah hampir tanpa celah. Pertama kali sebuah film animasi bisa memukau tanpa harus mengalahkan seorang antagonis. Karena baik Riley maupun Joy tidak sedang melawan musuh, tapi mencoba mencari dan mengejar kententraman jiwa lewat pengendalian emosi. Kadang kita akan merasa hancur karena kesedihan ketika sudah terlalu lama merasa bahagia, namun jika kita mampu mencari dan membangun kembali kebahagiaan yang tersisa, dari sana kau tahu kau sudah bertambah dewasa. Hatimu mungkin mulai retak darisana, akupun demikian, namun Inside Out tidak sesempit itu. Seperti paket lengkap, ia punya karakter yang kuat, visual yang indah, storytelling akan perjalanan dan kisah dua universe yang berbeda namun masih dalam satu benang, dan yang paling penting, konsep ide yang mahal.

Engineering student but movies way more than manufactures