Review – Hunt for the Wilderpeople (2016)

5

Kisah Ricky  dan pamannya ini memberikan kesan yang- bukan apakah itu bagus atau tidak lagi, namun seberapa jauh kau dibuat mencintainya.

re hunt

Ricky Baker, usia 12 tahun, merupakan bocah bengal dengan histori yang penuh dengan masalah dan kenakalan, ia tak punya keluarga, orang tuanya telah lama meninggalkannya, kali ini pihak Dinas Kesejahteraan Anak mengopernya ke tangan sebuah keluarga kecil berumah di dataran tinggi New Zealand, adalah suami-istri Bella dan Hec, satu-satunya keluarga yang mau menerimanya sebagai anak asuh. Bella mengurusi rumah, sedangkan Hec merupakan seorang pemburu, mereka hidup dengan tenang dan damai. Namun kedatangan Ricky yang membuat Bella tambah bahagia, ternyata tidak pula membuat bahagia Hec, justru mungkin sebaliknya.

Ricky, awalnya tak terlalu kerasan, percobaan kabur dilakukan, namun karena dia sendiri gendut dan hanya seorang bocah, Bella selalu menemukannya di pagi hari, diantara semak-semak, kepayahan dan tertidur. “Aku hanya jalan-jalan”, jelas Ricky. Well, kehangatan Bella dan Hec membuat Ricky nyaman pada akhirnya, ditambah perayaan ulang tahun dan seekor anjing sebagai hadiah bagi Ricky, membuat ia tidak bisa nyaman lagi. Ricky telah menemukan keluarga : Bibi, paman dan Tupac (nama anjing yang akan ia namai nanti). Musibah datang ketika tiba-tiba, bibi Bella jatuh dan meninggal, tentu saja ini menyedihkan. Hec tak bisa berpikir lama, karena ia juga tak akrab dengan Ricky, Dinas Kesejahteraan anak harus menjemputnya kembali.

Itu adalah suatu sinopsis yang menyedihkan, bukan ?. Dan jika memang kau berpikir demikian, maka jelas kau tertipu. Hunt for the Wilderpeople bukan film haru, bahkan ia sama sakali tidak minta dianggap seperti itu. Namun, seperti kontras, ini merupakan pure situated-comedy. Ya !, bukan dark-comedy dan bukan tragicomedy walaupun mungkin skenario ceritanya mendukung untuk jadi alasan, Pengemasan film ini memaksa kita tertawa dan terus tertawa, bahkan adegan funeral Bella juga dijadikan bahan guyonan. Ketika aku mengatakan film ini benar-benar murni sitcom, itu berarti, seluruh karakter didalamnya akan mengundang kejenakaan, mereka semua konyol dan bodoh sama rata. Seluruhnya.

Begitupun, film ini juga diselingi tense. Diawali oleh Ricky yang menolak untuk dikembalikan, membakar barn milik Hec dan kabur ke dalam hutan. Hec terpaksa mencarinya, seperti sudah tahu bahwa si bocah pasti lari ke hutan, ia masuk pula kedalam hutan. Ricky ditemukan, dan ketika ingin kembali ke rumah, kaki Hec retak tak bisa jalan dan mereka harus berkemah untuk waktu yang sangat lama, ini saat-saat keduanya mencoba berbaikan dan menjalin hubungan lebih bagus. Paula dan Andy, orang dari kedinasan mendapati Hec dan Ricky menghilang ketika baru saja akan dijemput, barn yang terbakar membuat mereka curiga, Hec pasti menculik Ricky !. Mengerahkan polisi untuk mencari mereka kedalam hutan, Hunt for the Wilderpeople sekarang adalah film cat-and-mouse.

Seorang yang hampir kakek-kakek dan bocah gendut, dikejar-kejar polisi !, ditengah hutan !, sepertinya film ini tidak bisa lebih kacau.

Cukup-cukup, aku tidak akan berbicara tentang plot lagi, sepertinya itu sudah cukup untuk memberitahumu tentang apakah film ini. Toh, film yang digarap dan ditulis oleh Taika Waititi berdasarkan buku milik Barry Crump ini adalah kisah komikal yang diceritakan dalam beberapa chapter, sepuluh chapter tepatnya, plus epilogue, dengan premis dan suguhan bentuk komedi yang berbeda ditiap-tiapnya, dinamik namun tetap sekuens. Ini yang menjadikannya begitu kaya dengan momen-momen, pesan dan kekonyolan yang selalu baru. Tidak akan pernah membosankan, film ini segar dan terus kembali segar.

Berbicara lagi tentang dua lakon utama kita. Keduanya kontradiktif, Hec adalah orang tua konvensional sedangkan Ricky adalah anak muda pengikut arus pop culture. Di dalam hutan, komunikasi mereka selalu berbenturan dalam aspek apapun, Ricky selalu mengusulkan hal-hal yang tidak realistis yang penuh kenaifan, sedangkan Hec lebih nyaman untuk tetap serius dan rasional. Tidak hanya itu, kadang Hec juga harus menjaga tempramennya menghadapi mulut Ricky yang ceplas-ceplos, semena-mena dan kelewat insulting. Taika Waititi mencoba mengeksperimenkan apa jadinya jika ia memaksa orang tua -yang terbiasa untuk tak peduli, dengan bocah -penganggu yang selalu mencari perhatian, berada dalam satu kondisi sulit, dimana mau tidak mau mereka harus menjadi tim.

Penampilan solid disematkan oleh pendatang muda -Julian Dennison sebagai Ricky. Oke dia gemuk (bahkan begitu gemuk), namun dia lincah dan enerjik, mewarisi karakter berandal cilik yang unik, mengeksekusinya sekonyol mungkin. Dan walaupun wajah Dennison sangat punch-able (maaf untuk mengatakan ini), impresi mimiknya ketika tercengang, jijik, kaget hingga bengong saat berkhayal akan selalu teringat (ada adegan Ricky sedang dalam delusi kelaparan dan melihat anjingnya sebagai kue tart dan Hec sebagai hamburger). Lawan mainnya, aktor kawakan Jurrasic Park, yang mana ia sudah sangat tua kau tak akan mengenalinya lagi, Sam Neill memerankan Hec sebagai paman yang lebih tenang,dapat diandalkan (sepertinya hanya Hec karakter paling tidak sinting di film ini).

Sudah saatnya Hollywood untuk memberikan aklamasi lebih terhadap karya-karya Taika Waititi, walaupun aku yakin hal ini hanya menunggu waktu. Karirnya mulai menanjak sejak film Boy (2010) yang lumayan berhasil, empat tahun kemudian, What We Do in the Shadows begitu menggebrak sebagai film eksperimental, itu adalah mockumentary sekaligus horror-comedy favoritku. Waititi jelas berbakat, dan film-filmnya telah membuktikannya. Kemampuannya menyusun naskah adalah yang terbaik, untuk urusan komedi, sepertinya ia bisa menyulap material apapun menjadi jokes yang mengena, dialog serta-merta yang nonsense namun kadang juga memiliki poin. Sentuhannya di film terbarunya ini banyak mengingatkanku akan Wes Anderson, dan siapa yang tidak excited jika kita memiliki dua Wes Anderson, bukan ?.

Pada kesempatan ini, Taika Waititi melakukan apa yang biasa ia lakukan, bereksperimen dan berhasil. Hunt for the Wilderpeople tampil sangat unclassic alias tampil beda, kita akan tertawa bersama serunya petualangan kejar-kejaran di tengah belantara New Zealand. Dipenuhi dialog dan puchlines yang humor, suatu film komedi superlatif. Paling utama, kolaborasi Ricky dan Hec tidak akan bisa dilupakan, dan walaupun kelakuan keduanya hanya membuat keadaan memburuk, relationship yang mereka bangun mereka terlalu mengasyikkan untuk dikesampingkan. Satu kuno dan satu gaul. Hec mengajari Ricky apa itu kemampuan bertahan hidup bernama ‘knack’, sedangkan Ricky memengaruhi Hec dengan kalimat-kalimat swagging seperti Skux dan Shit Just Got Real. Dan tentu saja ada saatnya mereka menjadi so badass, tak bisa dielak, gangster life chooses them.

Engineering student but movies way more than manufactures