Review – Her (2013)

5

 

Itu adalah Joaquin Phoenix yang wajahnya terpampang dalam poster, namun tetap, mungkin Her adalah film tercantik yang pernah ada.

Aku seperti sekitar 2 minggu lalu menonton Her dan mungkin masih sangat ingat betul detil keindahan film ini dan semua yang ada didalamnya, momen-momennya membekas tidak mau hilang, pasti ada saja sesuatu hal yang membuatmu dihantui, eh bukan, maksudku ditarik kembali dalam sebuah movie experience yang menenangkan, karena jelas, Her adalah sesuatu yang easily memorable.

Begitu sensitif dan begitu intim, tapi yang membuat naskah Spike Jonze mendapat banyak ganjaran adalah karena ia memberikan itu semua dalam suatu unusual relationship di melodrama romance-nya ini. Where The Wild Things Are sudah cukup membawamu ke alam fantasi kekanakan-namun-lucu milik Jonze dan rupanya kini ia seperti ingin lebih tenang, Her sangat dekat dengan setting tempatnya, bukan dystopian ataupun post-apocalyptic, Jonze menggambarkan masa depan yang damai, kecanggihan sama sekali membantu umat manusia, memudahkan pekerjaan, membacakan emailmu, mendikte perkataanmu, hingga yang paling penting, membuatmu tidak kesepian. Landscapers disana sini, langitnya hampir selalu temaram, tidak ada mobil-mobil bising, hanya ada pejalan kaki dan pemandangan luar biasa, butuh waktu yang sebentar untuk memberitahumu bahwa mungkin dunia yang ada di Her, adalah dunia futuris yang boleh kau dambakan, lovely and sweet.

Oke, aku akan mendiktemu beberapa hal mengapa film ini selalu terbayang-bayang, seperti yang kuucap tadi.

Pertama tentang mengapa naskah original Spike Jonze yang bisa mengalahkan naskah Nebraska, Dallas Buyers Club atau American Hustle. Bayangkan, Nebraska mengisahkan chemistry apik lewat hubungan ayah-anak, Matthew McCounaghey memberikan gambaran vivid tentang perjuangannya melawan AIDS lengkap dengan para homo-nya di Dallas Buyers Club, American Hustle menyuguhkan aksi FBI menelusuri seluk beluk suap-menyuap para Jersey powerbrokers, semuanya jelas menuntut naskah yang baik dan tanpa kesalahan. Tapi yang menang justru adalah cerita cinta Her, kata ‘mengapa ?’, adalah pertanyaan yang tidak jarang terdengar bagi yang ‘belum’ menontonnya.

Jadi mengapa ?, sangat beralasan, Her bisa menuliskan kisah cinta paling indah tanpa ada perempuan disana untuk mencium Joaquin Phoenix sebagai Theodore, berpelukan bersama untuk menyatakan rasa cinta, tapi justru diarahkan ke suatu hubungan tak biasa. Kemajuan teknologi melahirkan suatu projek  Artificial Intelligence Operating System pertama di dunia bernama OS1 oleh Element Software, hanya dengan ear-set, manusia sekarang dapat mudah melakukan banyak hal lewat bantuan suara tak bernyawa sebagai asisten baru mereka, Theodore tertarik dan mencobanya, mengatur agar OSnya bersuara wanita dan seiring waktu merasakan hubungan yang tidak wajar dengannya, sesuatu seperti jatuh cinta. Agak aneh, jika dipikir-pikir pasti tidak mungkin untukmu membayangkan logika film ini, tapi nyatanya, Her dapat mengabadikan arti cinta sejati sebenarnya. Spike Jonze lebih sering membawamu ke scene romantis antara Theodore dan pasangan OS-nya, Samantha, sangat dalam dan membuatmu tersenyum juga, awalnya Theodore merasa ragu akan hubungannya hingga justru dialah yang menasehati Samatha untuk tidak berusaha melampaui keadaannya.

Setiap dialog yang ada pada Her begitu natural dan sensitif, setidaknya untukku, Theodore yang mengatakan bahwa kadang ia membayangkan berdebat dengan mantan istrinya dipikirannya, membela diri dengan argumen. Amy (Amy Adams) yang bercerita tentang pacarnya yang selalu berusaha mengatur apa yang ia usahakan, dan puisi kata-kata manis Theodore kala menuliskan surat cinta sebagai bagian dari pekerjaannya. Membangun sebuah character study yang kuat, Theodore menggambarkan what a guy should be, setidaknya, tidak anti-sosial namun menghargai kesendirian, good listener dan tidak enggan merasakan apa yang orang rasakan. Begitu pula temannya, Amy, kuat dan mandiri, riang dan berambisi pada yang ia sukai. Keduanya akan sangat indah sebagai teman minum kopi.

Kedua adalah sinematografi lembutnya, Her seperti meditasi. Setiap framenya menyegarkan, bagai palette-palette indah, set tempatnya tidak ada yang memiliki warna mencolok, hanya perpaduan komposisi warna merah, kuning dan oranye, poster film-nya sudah menjanjikan itu. Dan lewat seni Hoyte van Hoytema, kau kadang merasa seperti diri Samantha, melihat Theodore beraktifitas, mendekap lekat wajahnya dan menemaninya terjaga saat malam. Kadang akan aneh karena kau lebih sering dibawa Hoytema untuk menonton wajah portrayal Joaquin Phoenix, dan tidak melihat wujud asli Scarlett Johansson yang mengisi suara Samantha disini, khususnya jika kau laki-laki.

Ketiga adalah alunan musik latarnya yang kurasa tidak ada yang lebih memabukkan. Set lagu Arcade Fire kadang ingin membuatku meneteskan air mata, menepuk pundak Theodore dan mengatakan padanya untuk tidak bersedih, selalu tersenyum. ‘Song of The Beast’, ‘Photograph’ dan ‘Dimensions’ sekejap melumpuhkanmu kedalam lautan emosi, Her kadang lebih banyak mengundang empati daripada sekedar simpati.

Keempat adalah Chris Pratt dan Amy Adams disana yang kadang-kadang kita lupa bahwa mereka adalah penghias penting di film ini

Her akan selalu terngiang, entah itu secara visual atau dialog-dialog didalamnya, mengundang ketenangan dan rekreasi jiwa yang begitu warm lewat kisah cinta tak wajar, dan pada saat yang sama, tak terlupakan. Her adalah melodi, puisi dan kadang kau lupa bahwa itu hanyalah sebuah film.

Sebelum ini, aku pernah melihat banyak film romance, dan selalu merasa seperti ada yang hilang dan kurang, namun tidak tahu apa. dan Her, lewat kekuatannya, seperti menjawab hal itu.

5

Engineering student but movies way more than manufactures