Review – Hell or High Water (2016)

4.5

Seperti film Starred Up,  tak diragukan bahwa David Mackenzie  sangat ahli untuk memberikan tontonan yang mengintimidasi lewat para karakternya.

re hell or high water

Sepertinya kita sudah tahu bagaimana cara berjalannya sebuah film Western dimana-mana, build-up yang begitu pelan menjanjikan dan ditebus dengan suatu ultimate scene di akhir yang hampir selalu dipenuhi adu gunshot. Kita sudah tahu itu selalu terjadi dan berhasil, untuk dekade demi dekade, Unforgiven (1992) melakukannya, 3:10 to Yuma (2007) sampai film-flm kemarin seperti True Grit dan Slow West juga duo dari Quentin Tarantino, Django Unchained dan The Hateful Eight melakukan pendekatan yang relatif sama. Secara pribadi, bagiku formulasi ini seringkali bekerja, dan keberhasilan Hell or High Water membuatku berharap agar sampai nanti, racikan seperti ini harus tetap dipegang. Letupan, topi koboi dan kuda memang selalu ada dan diperhitungkan, namun pada akhirnya, suatu konklusi di paling final-lah yang paling bernilai.

Tidak ada Kurt Russel ataupun Clint Eastwood di jajaran cast, namun David Mackenzie sang sutradara, juga tak terlalu berani berjudi dengan aktor-aktor tak berpengalaman, kita tetap akan mendapatkan penampilan dari nama-nama experienced di ranah Western. Adalah kemunculan Jeff Bridges -seorang Sheriff berkuda di True Grit, dan Ben Foster -penjahat anak buah Russel Crow di 3:10 to Yuma, yang setidaknya menegaskan satu hal bagi preview audiencesHell of High Water terjamin dalam urusan aktor.

Dan sepertinya, David Mackenzie juga lebih senang untuk menempatkan Bridges dan Foster di role yang pernah mereka dapatkan. Bridges tetap pegawai keamanan dan Foster masih seorang bad guy. Tapi yang jelas, diskusi antagonis-protagonis akan begitu abu-abu disini. Kita bahas sinopsisnya dahulu.

Di Texas, seorang kakak-adik kriminal, Toby (Chris Pine) dan Tanner (Ben Foster) merampok salah satu cabang Bank Texas Midlands, berhasil, dan mereka merampok cabang yang lain. Menodong dan berteriak, pakaian ala gembala sapi ditambah topeng seadanya menunjukkan betapa tradisionalnya cara mereka merampok. Tetapi, mereka adalah perampok cerdik, tidak menerima uang bundalan, hanya uang receh di kasir yang jumlahnya hanya beberapa atau belasan ribu, Hanya membobol bank semacam ini untuk mencegah aksi FBI dan karena tidak ada kamera pengintai. Diakhir hari, mereka mengubur mobil mereka untuk menghapus jejak yang mungkin membekas

Seorang retiring-old-ranger dari kota, Marcus Hammilton (Jeff Bridges) tertarik dengan kabar dari negara pinggiran ini, setelah kasusnya merebak menjadi suatu kasus perampokan yang berkelanjutan, Marcus menggeret Alberto (Gil Birmingham), ranger dengan keturunan Indian untuk menjadi sidekick-nya demi memberantas ‘tikus pintar’ ini. Mereka berkendara ke Texas, karena tidak tahu bagian Bank Texas Midlands mana lagi yang akan dieksekusi oleh sang perampok, Marcus dan Alberto tiba di Texas, memilih satu titik dan menunggu.

Porsi kisah brotherhood Toby dan Tanner membuat penonton memihak mereka dan ini mungkin dilematis. Namun bukan tanpa alasan, -walaupun bagi mereka merampok sudah keturunan dan Tanner adalah langganan penjara, adiknya merupakan duda dengan dua anak yang harus dipikirkan, ia juga nihil sejarah kriminal. Toby dan Tanner memiliki motivasi berbeda dalam merampok,Toby melakukannya demi membenahi masa depan keluarganya sedangkan Tanner jauh lebih masa bodoh. Mereka memang mencari uang, namun kebencian mereka terhadap bank juga mendasari semuanya. Ditengah-tengah tabiat sang kakak yang agresif, slengean, ceroboh dan kadang melebihi batas, Toby selalu menegaskan : mereka tidak boleh membunuh siapapun.

Hell or High Water jauh lebih merupakan film tentang karakter. Skema plotnya memicu daya tarik terhadap perkembangan tokohnya. Tindakan dan konsekuensi. Marcus Hammilton dan Alberto memang datang untuk mencegah kejahatan, namun lawan mereka, adalah adik-kakak kriminal yang juga mengatasnamakan kelakuan mereka sebagai bentuk keadilan. Dengan eksekusi yang serealistis mungkin juga rentetan circumstances yang terus memberikan efek debar jantung, film ini terus memikat dengan mengikuti perjalanan menuju nasib yang sudah diujung,

David Mackenzie menyuntikkan suatu urgensi khusus dalam film ini, yaitu komparasi kultur, ini adalah film Western dengan set yang modern secara global. Texas hanya seperti satu-satunya bagian di dunia yang masih memegang peradaban dan budaya western konvensional. Marcus dan Alberto berargumen mengapa orang-orang disana bisa tinggal seperti itu selama 150 tahun, sebelumnya mereka mendengar keluhan seorang koboi yang tak habis pikir mengapa anak-anaknya tidak mau berkuda menggembala sapi sepertinya. Termasuk juga Marcus yang terpaku ketika ia bertemu para veteran di cafetaria paska kejadian perampokan, yang mengatakan bahwa hal-hal seperti merampok sebagai keseharian untuk hidup seharusnya telah lama hilang. Jangan lupakan adegan di gas station ketika Toby mengatakan pada kakaknya untuk tidak berurusan dengan anak-anak berandal jaman sekarang, karena mereka bisa membunuhmu.

Belum selesai, pun film ini memberikan suatu gestur bahwa menghormati yang lebih tua adalah prinsip dasar. Terlihat bagaimana Toby terbiasa dengan kelakuan jahil Tanner yang senang memukuli adiknya, atau ketika Alberto yang membiarkan rekan lebih rentanya, Marcus yang mencandainya walau tak jarang keterlaluan. Daring jokes yang kadang-kadang menjurus kearah rasisme (Marcus sering meledek darah Comanche Alberto) menunjukkan bahwa Hell or High Water disisi lain, mengkhususkan studi tentang sejarah dan nenek moyang yang pahit, terinfusikan pada tiap dialog karakternya. Apparently, mayoritas elemen di film ini terlihat lebih terinspirasi oleh pengalaman hidup nan personal David Mackenzie daripada narasi karangan semata.

Tenang, Alberto dan Marcus saling peduli satu sama lain, kok. Dan ini berlaku di kubu yang lain, sekasar-kasarnya Tanner, ia menghormati dan amat menyanyangi adiknya.

Hell or High Water menyuguhkan tone yang well-paced, salah satu slow-burn yang mujarab dan salah satu yang paling melelahkan. Tidak ada heroes dan tidak ada villains disini. Usut punya usut, istilah ‘Hell or High Water’ ternyata adalah frasa yang berarti ‘lakukan apa yang harus dilakukan, tak peduli resikonya’, ini begitu cocok dengan sifat filmnya, namun kadang seluruh tindakan meminta sebuah penebusan, bukan ?.

KIta akan terus menduga dan mungkin kita yakin bahwa kubu Marcus dan kubu Toby akan saling bertemu, yang jelas tetap ada curiosity tentang seperti apa David Mackanzie akan menghidangkannya nanti. Ditambah dengan performansi gemilang Jeff Bridges yang bold, si anarkis Ben Foster, juga ketika Chris Pine tampil jauh lebih mature, Hell or High Water adalah mayhem sempurna bagi film-film klasik western.

Backup_of_re2

 

Engineering student but movies way more than manufactures