Review – Hacksaw Ridge (2016)

Saranku jangan terburu-buru untuk menilai filmnya saat baru setengah jalan, percayalah, Hacksaw Ridge  baru akan benar-benar dimulai dari sana.

re hacksaw

Hacksaw Ridgebasically merupakan potret kisah penuh dilema dan paparan akan keputusan yang berat dan dramatis seorang pahlawan perang Amerika, Mr. Desmond T. Doss beberapa puluh tahun silam. Pada tahun 1940-an, Amerika sedang dilanda perang dunia ke 2, dan pengabdian kepada negara sebagai tentara perang bagaikan tanggung jawab penuh tekanan, tidak wajib tapi bagaikan keharusan. Semua orang tahu kala itu, ikut berperang berarti sudah siap mati, atau berhasil selamat namun pulang dengan keadaan tak sempurna. Bagi remaja-remaja siap umur, saat-saat itu bagaikan hidup segan mati tak mau. Desmond Doss, hidup pada periode ini, takdir mempertemukannya pada keadaan dimana ia harus terjun ke medan perang, namun kepercayaannya melarang dirinya untuk membunuh siapapun.

Mel Gibson akhirnya melakukan debut ulang setelah 10 tahun vakum dan hilang dari sejarah penyutradaraan. Apocalypto menjadi jejak paling terakhirnya, dan kisah biography kali ini sepertinya membangkitkan semangat dan ambisinya, more than ever. Hacksaw Ridge adalah titik kulminasi bagi Mel, adaptasi dan penggarapan penuh dedikasi dan membara. Mel Gibson mendapat 10 minutes standing ovation pada pemutaran di Venice karena film ini, highlight daripada capaian belakang layarnya yang memukau. Kita belum bicara betapa lumayan suksesnya pula film ini di ajang Oscar.

Hacksaw Ridge terpaksa disajikan dalam dua bagian yang ternyata, sama-sama penting. Mel ingin menunjukkan bahwa semuanya memiliki proses dan seluk beluk. Dan perjalanan pengabdian Desmond Doss (Andrew Garfield) bukan cerita berangkat-perang yang biasa, awalnya dicap sebagai pembangkang negara karena tak mau memegang dan mengikuti pelatihan bermodalkan senjata. Alasannya didasari iman, walaupun terdengar sangat-sangat konyol bagi orang lain (dan bahkan bagi penontonnya, awalnya). Doss adalah penganut Seventh-day Adventist Christian yang luar biasa taat, tidak mau memegang senapan atau apapun, tapi bagaimanapun ia tetap mendaftar sebagai tentara karena keinginan hati. Tiba di kamp, ia dianggap pengecut cari perhatian oleh rekan-rekan yang lain, sikap Desmond tidak masuk akal untuk saat-saat seperti ini, para Kapten dan Sersan juga tak bisa mentolerir keputusannya. Walaupun Doss ingin sekali membantu negaranya sebagai paramedis perang, lain cerita  bagi seluruh orang dipangkalan, mereka tidak ingin ambil resiko dengan mengirim orang seperti Doss ke medan tempur, Doss mau tidak mau harus dianggap sebagai conscientious objector : seseorang yang menolak ikut mengabdi sebagai army forces, karena alasan moral dan agama, meskipun itu sama sekali tak benar.

Sebenarnya, aku tidak bisa menyembunyikan kesanku terhadap bagian pertama Hacksaw Ridge, yang omong-omong sangat lame. Narasi yang lemah dari Mel hanya membuat orang-orang semacam Doss terlihat bagaikan lelucon. Gambaran kehidupan kamp yang kurang memikat, apalagi kejutan dengan munculnya Vince Vaughn sebagai Sersan Howell yang membentak-bentak seluruh prajuritnya setiap waktu. Kejutan karena Vince Vaughn adalah aktor spesialis komedi, dan kurang beruntung karena naskah Robert Schenkkan serta Andrew Knight tidak berdaya untuk membekali karakter Vaughn dengan dialog yang baik -harapan penonton untuk seorang Sersan yang berkarakter atau seorang role model, namun justru jatuh pada sersan dengan bentakan-bentakan yang dangkal. Di dalam ruang penuh terpal tidur, Sersan Howell masuk dengan satu tentara masih telanjang dan satunya memiliki belati tertancap di atas kakinya (yang mana ini sangat luar biasa konyol), dan Vince Vaughn tidak semendebarkan dan setegas Ronald Lee Emery di Full Metal Jacket (1987), dalam memperlakukan anak didiknya. Terus terang, aku hampir saja berhenti untuk menonton filmnya disini. 

Untungnya, Mel tidak terlarut, ia segera beranjak pada momen yang lebih penting, bagian pertama yang berbicara tentang kehidupan pre-war Desmond Doss yang dibangun lewat kisah singkat masa kecil, bertemu cinta hingga kehidupan pangkalan, ditutup dengan kisah ajaib dimana Hugo Weaving (Tom Doss) sebagai ayah Doss muncul dalam pengadilan untuk membebaskan anaknya dari tersangka pembangkangan dan sekaligus, mengijinkannya untuk ikut serta ke medan perang, tanpa harus memikul satu senjatapun.

Setelah itu, barulah Hacksaw Ridge adalah film yang pantas dikagumi. Doss berangkat ke Okinawa di 1945, Mel tidak basa-basi lagi, segalanya tentang perang dicurahkan dalam frame-frame yang tegas dan mencengangkan. Sebuah penekanan yang membuat merinding, Doss yang baru datang di medan perang melihat setumpuk mayat dan tentara penuh luka. Ini adalah masa-masa Battle of Okinawa, salah satu Perang Pasifik -yang dalam sejarah, mencatatkan jumlah korban terbesar. Bersiaplah untuk hidangan yang tidak mengenal belas kasihan. Peluru, pisau, granat dan flamethrower semuanya bersahutan dengan cepat, bergantian mengenai sasaran, dan Doss terus merayap dan menunduk melewati mayat-mayat yang dimakani tikus liar, atau mereka yang berteriak tanpa harapan dengan kaki yang sudah hilang, ataupun isi perut yang sebagian sudah terbedah. Bagi yang masih tersisa, tinggal menunggu waktu bagi diantara mereka untuk terlontar oleh ledakan, terbakar diraup api, atau tiba-tiba mati begitu saja karena tertembak dai kejauhan. Unsur gore yang sangat tega dan jelas ini film horor, Hacksaw Ridge mengingatkanku betapa hebatnya Saving Private Ryan (1998) dalam mereka-ulang adegan peperangan yang begitu panjang, begitu jelas, dan begitu menakutkan. Keduanya dalam level yang sama untuk urusan ini.

Perang Okinawa berlangsung diatas punggung bukit yang dinamai Hacksaw Ridge, tentara Amerika harus menaikinya terlebih dahulu, melalui tali rotan untuk sampai ke atas, ke medan perang utamanya. Perang seperti berlangsung selamanya, di malam hari, perang beristirahat, beberapa tentara rehat di dalam lubang-lubang, beberapanya berjaga. Besok dimulai lagi, dan jika sudah kalah telak, maka artileri dipanggil untuk membantu. Perang Pasifik yang melelahkan dan memberikan kenangan pahit, ketika tentara Amerika saat itu kalah jumlah, mereka turun mundur, dan Jepang akan menembaki orang-orang sekarat yang tertinggal. Jika film seperti ini menggugah bagimu, kusarankan double-feature milik Clint Eastwood yang menceritakan kisah perang dengan mengambil event yang sama : Letter from Iwo Jima dan Flag of Our Fathers.

Andrew Garfield memberikan akting brilian dengan terengah-engah dan mata berair. Takut setengah mati, namun terus maju. Setelah semua tentara mundur, ia justru membiarkan dirinya bertahan, dan mengendap-endap untuk menyelamatkan tentara-tentara yang sudah tak sanggup berjalan lagi yang masih tertinggal. Tujuh-puluh-lima orang berhasil ia selamatkan saat itu, menggendong mereka dan menurunkannya dari Hacksaw Ridge, lalu kembali lagi mencari yang lainnya. Kata-kata seperti “Aku akan kembali” dan “Aku tak akan meninggalkanmu” diucapkannya diantara tangis-tangis prajurit yang telah jatuh, terluka dan diambang kematian. Andrew Garfield memerankan Desmond Doss, yang ketika dirinya menyelamatkan satu, nuraninya menginginkan satu lagi. ‘Help me get one more’, katanya pada dirinya sendiri, juga pada Tuhan.

Mel Gibson memberikan ciri khas penyutradaraannya, heroik dan terlihat patriotik, slow-motion diantara scoring uplifting dan prajurit yang saling berteriak. Kadang terasa over-the-top, tapi inilah yang kita butuhkan saat ini, yang paling urjen untuk diberikan bagi suguhan peperangan. Keberanian disimbolkan bukan hanya dengan para pemegang senjata, namun pengangkat tandu-tandu, dan pada saat yang sama mereka adalah harapan, kemanusiaan yang tersisa diantara kebengisan. Disaat yang lain saling membunuh, beberapanya mencoba untuk melindungi nyawa. Desmond Doss-nya Andrew Garfield adalah cerminan kemanusiaan yang hakiki, rela memberikan nyawanya untuk dikorbankan. Doss membuat rekan-rekannya yang -telah mencibirnya sebagai seorang pengecut di pangkalan, menjilat ludah mereka sendiri. Dengan cepat Doss menjadi panutan dan impuls bagi semuanya. Menurut Kapten Glover (Sam Worthington), Doss telah melakukan hal yang lebih dari semua orang yang pernah mengabdi bagi negaranya : Menyelamatkan nyawa.

Mel Gibson mendemonstrasikan kekuatan agama dan ketakwaan yang dahsyat, dan sebuah tribute yang moving bagi seluruh kerja keras pahlawan-pahlawan Amerika, terkhusus Desmond Doss, si pembangkang pertama yang pernah mendapatkan penghargaan Medal of Honor, atas keberaniannya yang melebihi apapun.

35

Engineering student but movies way more than manufactures

3.5