Review – Gundala (2019)

5

Joko Anwar yang berambisi, dan barangkali yang paling optimis melihat potensi komik superhero lokal telah mewujudkan sebuah harta yang belum pernah ada di perfilman Indonesia sebelumnya. Dan dari sini, itu lahir.

Gundala yang harus dieksekusi dengan kocek hingga 30 Miliar Rupiah sehingga menanggalkan namanya sebagai film Indonesia dengan biaya produksi terbesar itu, sepertinya telah menggunakan uang mereka dengan benar. Money well spent. Diinfokan bahwa dibutuhkan minimal 1.5 Juta penonton untuk mencapai titik break even (atau dimana kau tidak untung dan rugi sama sekali), aku yakin bahwa filmnya mungkin bisa menembus Dilan 1991 kemarin dengan angka 6 juta penonton. Film ini bagus gila, jika ada kesempatan, kau akan menontonnya mungkin 2 kali, 3 kali.

Joko Anwar menghidupi mimpinya dengan membawa Gundala ke layar lebar kontemporer, dan berhasil menyelesaikan dudukan awal untuk projek besar di tahun-tahun mendatang dengan Jagat Sinematik Bumi Langit (atau kita sebut dengan BCU selanjutnya). Terilhami oleh antusiasme Marvel Cinematic Universe mungkin; BCU mengadaptasi tokoh tokoh komik superhero jaman dulu dari tahun 70-80 an menjadi materi mereka. Pada pembukaan paling awal, Joko Anwar tak bisa lebih berhasil lagi menurutku, dengan memperkenalkan Patriot Pertama (atau kesannya seperti The First Avenger), Gundala sang Putra Petir.

Sang Putra Petir memiliki nama asli Sancaka (Abimana Aryasatya) dimana Joko Anwar telah menyiapkan porsi yang cukup serius untuk memberikan kisah origin story yang menyampaikan. Ini tentang Sancaka dan lingkungannya, Sancaka Kecil (diperankan oleh Muzakki) dan kepahitan bertubi yang ia terima dari dulu, dia telah menyaksikan dan merasakan pengkhianatan dan perenggutan, membimbingnya kearah keantah berantahan, miskin, belajar membela diri dan akhirnya menjadi dewasa; menjadi teknisi dan nantinya security untuk pabrik biokimia tua.

Tidak hanya Sancaka, Joko Anwar juga memberikan penyelaman kilas balik untuk karakter antagonis utama (yang barangkali berpengaruh sangat besar bagi situasi di kelanjutan BCU) yang ternarasikan dengan baik lewat alkisah dari karakter Lukman Sardi (kita akan cerita dia setelah ini). Antagonis ini adalah Pengkor (Bront Paralae), tanpa diduga kelam juga masa lalunya, mungkin lebih kelam. Wajahnya terbakar karena sesuatu, dengan kaki cacat. Ia adalah musuh dengan kekuatan kendali sosial yang kuat, dengan pasukan kelas wahid yang ternyata banyak.

Tentang segala asal-usul ini, Joko Anwar memilih jalan dengan memoles latar belakang mereka agar lebih sesuai dengan isu background cerita yang menggambarkan Djakarta sebagai kota yang sama sekali tidak stabil dalam nurani sosial. Tanpa teknologi dan lebih suka tergambarkan dalam malam. Sepertinya Joko Anwar benar-benar mendapat pengaruh dan terinspirasi bagaimana Christopher Nolan membangun society dalam The Dark Knight Trilogy. Djakarta adalah Gotham dengan Legislatif yang korup dan penuh fitnah, beberapa orang bisa dibeli, Joko Anwar selalu memberikan adegan-adegan yang kian menegaskan suasana chaotic kota dengan adanya bentrokan antar kubu, atau fenomena dimana pengamen cilik dan pemalakan oleh preman dimana-mana. Bahkan karakter utama kita, awalnya adalah seorang ignoran parah. Terbentuk dan percaya bahwa menolong orang artinya mencampuri urusan orang, dan menurut pengalamannya, itu akan membuatmu masuk kedalam masalah yang tak kau inginkan.

Tentang set ini, beberapa review yang telah kubaca menyatakan bahwa ini adalah satu flaw dari produksi Gundala karena mungkin penggambaran keputusasaannya terlalu parah dan tanpa keterangan yang terlalu jauh mengapa demikian. Bagiku Joko Anwar tidak keliru, penggambaran situasinya terlampau cukup, dan Joko lebih menekankan penyampaian pesan: Bahwa dalam sebobrok apapun, suatu negeri pasti punya harapan.

Tak hanya penggambaran society, unsur karakter dan pengembangan ceritanya juga mirip Batman (aku tak melakukan komparasi dengan apapun dari Marvel karena aku tak mengikuti mereka sama sekali). Kecuali kondisi ekonomi yang berbeda timpang, Gundala juga terlatih membela diri seperti Batman, memiliki kenangan pahit tentang masa lalu seperti Batman dan berangkat atas teriakan kemanusiaan, juga yang paling utama, Gundala harus menekuni peristiwa-peristiwa hingga ia mulai menyadari bahwa Petir justru berada di pihaknya, seperti ayalnya Batman dan kelelawar itu. Pengkor digambarkan telah mengembangkan tangan-tangan miliknya, ia adalah Bapak dari orang-orang kuat akibat kedermawanannya yang disetirkan pada moral yang keliru. Ia seperti memiliki League of Shadows-nya sendiri. Seperti film Batman, Gundala juga memberikan porsi keikutsertaan tokoh masyarakat dalam berpartisipasi. Ya, Lukman Sardi bermain sebagai Ridwan Bahri, wakil rakyat yang mendapat tekanan dan ancaman, seperti Komisaris Gordon, dan barangkali ia adalah Nick Fury bagi BCU di masa mendatang.

Memahami hal ini, akupun bergejolak, ini adalah pondasi yang dahsyat, inspired dan kuat.

Sekarang kita berbicara hal teknis, atau sisi yang paling gemar dicecar penonton. Dan aku juga mengakui bahwa mungkin filmnya belum sesempurna itu, tapi dia sama sekali tidak buruk (ingat ini belum sempurna; tapi sama sekali tak buruk). Alurnya sempat jalan di tempat di tengah-tengah ketika Sancaka terus menerus berkelahi dengan preman, lalu hujan tiba dan tersambar petir. Beberapa sekuens ini terjadi cukup sering dan aku juga agak khawatir. Tapi sekali lagi, menurutku Joko Anwar, melalui segalanya itu, mencoba menekankan pesan dan pesan.

Kembali lagi, perkelahian yang berlebihan artinya fight scene yang banyak pula, dan beberapa diantaranya, kadang kurang rapi jika diperhatikan baik-baik. Kombat-kombat itu memang estetis karena filmnya menggaet Cecep Arif, tapi kadang tampak kelihatan pura-pura, beruntung Joko Anwar berhasil mengarahkan suatu sinematografi dengan teknik shaky camera movement yang berhasil menutupi dan menambah kesan street fight yang seperti nyata.

Transisi Sancaka kecil dan dewasa juga kadang tidak koheren, entah dari segi tampilan atau pembawaan, keduanya cukup sulit sebenarnya untuk dikatakan mewakili satu tokoh. Namun tetap saja, act pilot yang menyuguhkan cerita asal muasal Sancaka a la coming-of-age itu selalu berhak atas apresiasi. Aku menyanjung Joko Anwar untuk pengubahan atas cerita original Sancaka yang dalam komik asli Harya Suraminata digambarkan sebagai seorang engineers yang patah hati dan terobsesi dengan risetnya. Sehingga dengan pelbagai perubahan itu, semuanya tampak lebih cocok.

Salah satu flaw yang sebenarnya agak aneh untuk diterima adalah ide jahat mengenai ramuan berbahaya yang telah menimbulkan moral panic pada masyarakat. Aneh karena ramuan ini menjadi ancaman karena ditengarai bisa membuat bayi yang lahir menjadi amoral dan tak bisa membedakan baik dan buruk. Sejalan dengan prinsip Pengkor yang ingin menciptakan masyarakat tak bermoral yang sesungguhnya juga agak pointless. Baiklah, idenya memang terlalu jauh, tapi untuk ukuran film Superhero dengan aksi, lagi-lagi hal seperti ini cukup mudah untuk dimaafkan. Ini seperti bagaimana kita memaafkan Gareth Evans dalam menampilkan salju di Jakarta dalam The Raid 2.

Dan tentang visual efek-nya?. Sama juga, bukan buruk, hanya belum sempurna saja. Kita akan menunggu hingga semua ini menjadi lebih baik lagi.

Kegirangan menggebu-gebu ketika filmnya hendak berakhir. Joko Anwar lihai dalam memberikan teknik yang telak dalam menit-menit terakhir filmnya termasuk adegan klimaks Gundala yang membenarkan kata-katanya mengenai petir dan frekuensi. Lagi-lagi sepertinya terinspirasi dengan film-film di The Dark Knight Trilogy ketika adegan penutupnya terasa uplifting dengan scoring seperti itu. Aku menyukai bagaimana filmnya bisa memberikan kesan berakhir dalam suatu ‘permulaan’. Gundala adalah pembuka yang cemerlang, di satu sisi ia menunjukkan banyak harapan datang dan juga kejahatan yang akan lahir kembali. Perdamaian tidak bertahan selamanya, dan tentu saja Negeri Ini Butuh Patriot untuk menjaganya.

Aku yang tidak terlalu memiliki pengalaman baik dengan film-film Indonesia akan tetap mengatakan film ini berhak atas pujian-pujian yang berlebihan walaupun aku melihatnya dengan cara paling objektif. Gundala monumental dan whole a new level. Film dengan standar tinggi. Mengagetkan bagi yang tanpa ekspektasi. Melebihi bagi yang berekspektasi. Gundala menendang pecah. Lahir untuk diingat dan memulai sebuah era baru. Segera akan dielu dibanggakan. Tidak, bagusnya film ini tidak membuatku ingin menonton kelanjutan dari BCU, itu terlalu jauh karena bahkan film ini masih membuatku ingin menontonnya lagi, dan lagi.

Hope is the new Sexy di Gundala.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick