Review – Green Room (2015)

3.5

Jeremy Saulnier  lagi-lagi menciptakan kesan yang tebal, kekejaman dan darah adalah estetikanya.

re green room

Rest In Peace, Anton Yelchin

Aku sempat lupa kalau Jeremy Saulnier membelakangi semua ini, hingga Saulnier sendiri seperti memberikan sentuhan yang begitu kentaranya dalam mempengaruhi tone cirikhasnya pada film ini : transisi setting waktu petang hingga fajar dan ketika Saulnier lebih suka memilih silence daripada scoring kalem dalam mayoritas adegan-adegan filmnya. Me-rewatch Blue Ruin (film sebelumnya oleh Saulnier) lalu menonton Green Room, menyadarkan begitu tebalnya film Saulnier, membuat ketagihan, dan aku tahu filmography-nya tak akan berhenti disini.

Green Room mengsahkan tentang remaja (sepertinya pada masa tengah-tengah 20-an mereka), Tiger (Callum Turner), Sam (Alia Shawkat), Pat (Anton Yelchin) dan Reece (Joe Cole). Mengemudikan van mereka sejauh 90 mil untuk mendatangi undangan manggung. Usut diusut, The Ain’t Rights, nama band mereka, tidak mendapatkan imbalan dan ekspektasi sepadan, bermain musik di kafe dan hanya dibayar 6 dolar per orang. Tad, penghubung mereka, menjanjikan uang lebih baik untuk manggung di tempat lain, di Portland. Pat dan kawan-kawan tak ambil pusing, pergi untuk kesempatan itu, membawakan beberapa lagu di sebuah bar tengah hutan, dan mendapat uang. Ketika ingin pergi dari sana, tak sengaja Pat menyaksikan penusukan oleh orang dalam, dan ini memaksa The Ain’t Rights masuk dalam situasi yang ain’t right pula (baca : konflik).

Kupikir awalnya ini adalah film British, melihat Anton Yelchin dan kawan-kawannya berpenampilan layaknya remaja-remaja struggling lebih terimpresi sebagai remaja jaman Margaret Thatcher pada masanya di britania raya. Cari uang susah, dan kentalnya aroma punk, hard-rock, neo-nazi hingga skinhead sebagai guyuran sub-kultur adalah alasan lainnya. Hingga pada akhirnya, Saulnier menegaskan ada poin-poin yang jauh lebih penting daripada mendiskusikan semua itu. Ini sama sekali bukan film cult yang ingin pamer background.

Tetap digarap dalam frame yang dark dan jika harus membandingkan dengan Blue Ruin, Green Room seperti ingin hengkang dalam merepresentasikan Saulnier sebagai master yang hanya menargetkan audensi indie art-house movie. Tetap menggandeng aktor langganannya Macon Blair (hadir di ketiga film Saulnier), film ini juga mengkasting nama-nama seperti Anton Yelchin dan sang senior, Sir Patrick Stewart sebagai pemilik bar berdarah dingin, Darcy.

Tetap pula mengintimidasi, konflik yang diemban Green Room sebenarnya adalah hal yang unnecesary untuk timbul, dalam artian adalah para karakternya yang ‘lebih memilih’ untuk masuk dalam masalah. Jika kau belum tahu maksudku. Cerita tentang Dwight (nama karakter) dalam Blue Ruin dan segala keputusannya dalam bersikap yang justru membuatnya masuk dalam masalah yang besar bisa kau jadikan acuan. Sama dengan film ini, Pat dan kawan-kawan, lebih memilih untuk ‘tidak bermain aman’ ketika mereka tak sengaja melihat suatu kejahatan oleh orang-orang yang tak mereka kenal. Aku menganggap ini adalah kekhasan mahal bagi Saulnier, para karakternya tidak selalu mendefinisikan cara bersikap yang paling bijak. Ah, mari kunyatakan dengan lebih gamblang, Saulnier memang lebih suka menempatkan karakter-karakternya dalam situasi hidup-mati, sepertinya.

Explicit violence adalah hal yang jadi estetikanya, peringatan, Saulnier jauh lebih tega dari yang kau kira. Adegan ultra-gory yang pernah kau saksikan di Blue Ruin akan dibangkitkan lagi dan lebih menyakitkan !, akan ada banyak kontak fisik : Senapan, Pisau hingga anjing. Aku tak berusaha memberi bocoran, tapi semuanya justru akan menjadi sajian yang bikin ngilu jika kau tak mengharapkannya sama sekali.

Green Room adalah film tentang planned-crime dengan tone tempo pelan dan rasa thrill yang kuat.

Beberapa garis bawah, Anton Yelchin akan tetap diingat, senang untuk melihat dirinya adalah tokoh utama disini. Dan karakternya adalah seseorang yang berani mengambil resiko untuk suatu kebenaran. Namun, akan sempit jika mengkonklusikan Green Room sebagai one-man show, ini lebih tercermin sebagai tribute akan studi karakter masal. Ekspresif, dan cara Saulnier menggambarkan sesuatu yang paradoks seperti ketika menampilkan adegan slow motion dengan scoring lamban dengan latar belakang para punk yang sedang berjoget rusuh ditengah lagu hard-rock, begitu aneh namun dahsyat. Pada akhirnya, konklusi akhir film Green Room tetap memuaskan, sesuatu yang bisa kau harapkan dari si jenius baru di dunia filmografi, Jeremy Saulnier.

 

35

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick