Review – Green Book (2018)

3.5

Dan dengan Green Book, pada akhirnya kita memiliki film Best Picture yang mampu memenuhi ‘standar film bagus’ bagi penonton umum

Rasanya selalu menyenangkan dan seperti mendapat suatu manfaat jika sebuah film memberikanmu, selain sebuah pengalaman, namun juga sebuah insight akan suatu sejarah yang tak pernah kau ketahui sebelumnya, dan ia pernah ada. Berlatar pada tahun 1962, Amerika masih kental dengan kultur orang-orang kulit putihnya yang segregatif. Martin Luther King Jr. dan kawan-kawannya belum menggencarkan revolusi tentang hak-hak orang hitam lewat pidatonya yang terkenal saat itu, singkatnya, orang-orang Afrika-Amerika harus hidup dengan kesan pahit dari lingungkan mayoritas mereka yang baik langsung ataupun tidak langsung, benar-benar rasis.

Mahershala Ali adalah Dr. Shirley, pianis terkemuka dan terkenal, bahkan bagi kalangan elit kulit putih pun. Anggaplah dia adalah salah satu kulit hitam yang setidaknya dipandang lebih terhormat bagi kelompok-kelompok kulit putih paling rasis pun. Ia beruntung. Ia kaya, dan hendak melakukan tur dengan grup trionya “Don Shirley Trio” (tentu saja, dia ikonnya). Konser tur ke Deep South Amerika yang akan melelahkan ini menemukan Dr. Shirley dengan lakon utama kita, Tony Vallelonga (alias Tony Lip, separuh Italia), seorang bouncer atau tukang pukul (atau ia lebih suka melabeli dirinya sebagai “Public Relation”) yang sedang menganggur sementara karena tempat kerjanya sedang bermasalah.

Tony (Viggo Mortensen) mencari kerja, dan Dr.Shirley telah diberitahu bahwa Tony adalah orang yang bisa diandalkan dalam mengurus suatu masalah. Nantinya mereka akan sepakat untuk bekerja sama, dan walaupun agak cocky, Tony adalah seorang professional dan bisa menaruh hormat pada atasan barunya. Berangkat dari New York City, mereka melakukan perjalanan panjang setidaknya untuk 8 minggu.

Dan lalu kemudian Green Book adalah tentang konser dan persiapan konser; Tony akan memastikan pianonya adalah merk Steinway dan kita akan terpikat oleh beberapa scene dimana Mahershala Ali tampak menguasai lagu-lagu klasik yang tidak mudah. Tony-pun akan menggangguk dari kejauhan, dalam beberapa surat yang ia kirimkan ke istrinya, ia akan mengatakan bahwa Dr. Shirley adalah orang dengan bakat.

Tiap malam, ketika Dr. Shirley dan Tony hendak beristirahat di Hotel, Tony akan membuka buku hijau: Green Book, atau buku wajib yang telah dititipkan kepadanya. Tidak semua tempat menerima negro, dan Tony harus memastikan Dr. Shirley mendapat tempat menginap. Ia akan mencari alamat dari Green Book, mengarahkan mobil mereka kepada penginapan yang menerima. Berbicara ‘buku hijau’, historically hal ini memang nyata dan krusial. Pada tahun 50 an hingga 60 an awal, Green Book menjadi pegangan wajib bagi Amerika kulit hitam waktu itu, bagi mereka yang tak ingin tidur di mobil ketika bepergian jauh.

Kita akan mendapati pemahaman luar biasa tentang karakter-karakter dua tokoh kita. Tentang manner, selera akan budaya hingga prinsip. Dr. Shirley lebih tenang, sedangkan Tony tampak mouthful. Tony tampak mencoba menelaah jati diri Dr. Shirley, tentang siapa dirinya dibalik pembawaan yang terlihat tertutup itu dengan membuka topik mengenai black singer, hingga Kentucky Fried Chicken.

How Tony doesn’t have any idea about Dr.Shirley gives you a glimpse of a shocking feeling. Yes, I’m talking about that ‘raining outside car’ scene.

Dr. Shirley bukan orang kulit hitam stereotip seperti yang digambarkan Tony, begitu juga sebaliknya, Tony mungkin memiliki prinsip-prinsip dan idealisme yang sejatinya berbeda jauh dengan kulit putih di Amerika. Mereka melalui banyak hal, dan loyalitas Tony seperti digambarkan oleh David F. Sandberg melalui banyak cobaan. “Apakah kau benar-benar bekerja untuk orang kulit hitam ini”

Yang perlu diketahui, dengan mengejutkan, Green Book memiliki materi yang lunak dan bahkan cocok sebagai sajian keluarga. Kupikir ia akan menjadi semacam Goodfellas atau film dengan kadar kekerasan, sumpah serapah dan material film berating R yang cukup banyak, namun David F. Sandberg memilih jalan agar filmnya bisa ditonton semua orang. Kritikus akan melabelinya sebagai Oscar Bait, but it works, no ?. Hangat dan dikepal dengan akting brilian dari Viggo dan Mahershala, chemistry persahabatan keduanya menguatkan tokoh mereka satu sama lain patut dijadikan highlight. Banyak adegan-adegan manis formulatis selayaknya ketika Dr.Shirley mengajari Tony menulis letter-poetry untuk istrinya dan betapa melelehkannya itu, ya Tony adalah family man, somehow. Endingnya pun juga hangat, tak bisa kupungkiri bahwa itu betul-betul akhiran yang sangat mirip dengan film road movie lawas dengan beberapa unsur yang sama: Planes, Train and Automobiles; tapi aku tak keberatan. Hati kita semua tergerak dengan skenario ending seperti itu.

Kau harus mengapresiasi ini, terlepas apakah ia pantas memenangi Academy Award’s Best Picture atau tidak, Green Room memberikan akhir yang menunjukan kemenangan tentang arti martabat, dan pukulan terhadap moral rasis-segregatif. San itu yang kita butuhkan sekarang.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick