Review – Godzilla (2014)

3

Versi Godzilla yang satu ini menyuguhkan suasana suspense dan dark yang cukup padat, namun mungkin hatimu sedikit terenyuh diawal-awal.

Keputusan tepat sepertinya, ketika para produser terkait memutuskan untuk me-remake Godzilla, untuk sekali lagi. Aku tidak bicara tentang Godzilla-nya Roland Emmerich (1998) yang begitu gagal, dan tentang keberhasilan Godzilla versi Gareth Edwards yang memang jauh lebih baik. Namun ketepatan-nya terletak bagaimana para produser ini tahu apa yang sedang orang-orang seluruh dunia butuhkan ketika membicarakan bahan tontonan apa yang sebaiknya harus ada tiap tahun, jawabannya : tentu saja monster, Monster yang besar sekali. Dan dengan menggunakan eksistensi makhluk fiksi yang berkembang menjadi ikon pop kultur dari jepang ini ; Godzilla,  adalah terobosan paling mudah , kau tidak perlu menciptakan monster fiksi baru lagi.

Oke, dunia butuh invasi monster setiap tahun, entah apapun itu, pokoknya berukuran behemot, menakutkan, atau setidaknya mengancam kehidupan manusia. Film-film dibelakang Godzilla sudah memperumpamakannya. Bisa jadi datang dari angkasa luar, robot gigantic, atau reptil raksasa yang ‘lahir kembali’. Film-film seperti Cloverfield, King Kong, War of the Worlds, Transformers dan Pacific Rim disukai masyarakat, plot urusan belakangan, yang penting adalah mereka melihat sebuah giant creature. Penonton akan senang jika melihat perbandingan ukuran manusia yang begitu kecil berlarian diantara kaki-kaki monster ini, atau bagaimana sang raksasa merusak bangunan-bangunan tinggi, dan ketika pesawat-pesawat jet menembakkan peluru yang sepertinya selalu tidak mempan. Mungkin hanya di theater, orang-orang tidak keberatan jika dunia kiamat.

Kebetulan, Godzilla jauh lebih baik dari hanya sekedar memenuhi hal itu. Plotnya berkembang dengan tahapan-tahapan yang setiap bagiannya menawaran adrenalin hingga emosi berbeda. Formulatik dan cukup senang mengetahui film semacam ini selalu berkembang dalam isu cerita tiap tahunnya, walaupun elemen dramatikalisasi film tentang “luka akibat kehilangan orang dekat”, hampir, atau pasti selalu ada.

Godzilla memiliki naskah yang sangat matang, mengemban teori cerita yang matang. Kematangan ini membuat film ini menarik, tidak hanya hiburan namun dari segi fiksinya yang masuk akal. Science yang kental dan juga cerdas. Hal-hal seperti bom nuklir, radiasi, predator alpha kuno,  gelombang elektromagnetik, echolocation. Entah konsep-konsep ilmiah seperti ini sudah diwarisi dari kisah lamanya atau hasil pengembangan naskah para screenwritter, jempol tetap patut dilayangkan.

Disini, sang reptil raksasa tidak sendirian, ada makhluk besar lain berjuluk MUTO yang juga terbangun. Cerdiknya, jika film-film Pacific Rim memberantas Kaiju dengan teknologi, orang-orang di film ini mengandalkan suatu istilah ‘Seleksi Alam’. Lahirlah penyelamat yang tidak diduga.

Film ini, bisa dibilang, terbagi oleh dua babak, dengan tokoh sentral yang berbeda pula, namun berkelanjutan. Pertama adalah tentang Joe Brody (Bryan Cranston) dan kecelakaan besar di pabrik pembangkit nuklir dimana ia bekerja, menyebabkan istrinya meninggal. Seluruh orang percaya bahwa getaran yang terjadi adalah anomali yang jarang, tapi Joe Brody tidak percaya itu, 15 tahun hingga saat itu ia masih mencari suatu kebenaran. Bryan Cranston, kuakui, adalah pahlawan sesungguhnya dari film ini, akting brilian, masif dan tak terkendali. Bagian awal Godzilla kuat pada dramanya, menyentuh dan sedih, semuanya berkat Cranston. Aku bukan penonton Breaking Bad, dan tak tahu menahu soal riwayat aktingnya. Tapi usahanya dalam mendalami karakter ini, wow, benar-benar menakjubkan.

Paruh kedua, adalah resolusi film ini. Tokoh Ford Brody (Aaron Tyler-Johnson) sebagai anak Joe Brody yang lebih memegang kendali, bekerja di angkatan darat, spesialis jinak bom. Aaron Tyler-Johnson lebih terlihat sebagai karakter yang tenang, tidak terlalu banyak bicara, dan memiliki muka yang enak dilihat, dalam artian dia sama sekali tidak menggambarkan orang yang sok pahlawan, walaupun memang bukan dia pahlawan yang sesungguhnya (uppss..), ini jadi nilai positif. Paruh kedua lebih fokus pada sang monster, revealing, geraman keras, battle of monster, total chaos. Disaster. Film ini berada pada puncaknya disini.

Menghibur iya, namun Godzilla tetap saja mencekam. Suasana San Francisco yang berantakan akibat gangguan monster merubah langit menjadi abu-abu, reruntuhan gedung menciptakan asap, tak terlalu terlihat, dan para tentara menyalakan flare kelangit, dan tiba-tiba ; blarr, ada monster disana. Suasana thriller Godzilla begitu syarat aksi spektakuler dan menggigil dari Aaron Tyler-Johnson seperti pada saat di atas jembatan rel kereta api, atau ketika terjun dari pesawat bermodalkan parasut. Jika kau pusing dengan deskripsi ini, beberapa poster film ini mengatakannya. Coba cek kembali, begitu gelap dan mencekam, bukan ?.

Yeah, film ini bekerja padaku. Begitu cepat dan tidak terlalu basa-basi. Adegan rapat petinggi-petinggi ini itu juga sangat minim dan tidak muluk, dan juga tidak membawa-bawa presiden amerika !. Ini keren, dan hidup terus, Godzilla ! (upps..)

3

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick