Review – A Ghost Story (2017)

4

Eksperimental dan kalem. A Ghost Story menunjukkan bahwa ditinggal mati bukan hanya saja berat bagi yang ditinggalkan, namun juga bagi yang meninggalkan.

A Ghost Story memiliki naratif dengan banyak rasa, ia memeditasi dan sendu, ia juga lama dan membosankan. Pada satu titik ketika filmnya selesai, aku sempat mengernyitkan dahi dan membatin “Hei, jadi hanya begitu saja !?”. Tapi tak lama setelah sekilas kurenungkan lagi, aku seperti “Wow, film ini benar-benar meninggalkan perasaan yang mendalam”.

Aku tak akan mencicil untuk mengungkapkan hal ini, A Ghost Story memiliki ending yang membuatmu merasa sedih, it’s not a kind of sad ending, but it is sad, because it is finally over. Kau akan tahu maksudnya, maksud tentang bagaimana bagian akhir dari film ini terasa seperti melepas beban berat yang telah kau tahan sejak lama.

Narasi dari A Ghost Story juga terasa inventif, yakni ketika David Lowery (sebelumnya menyutradarai Pete’s Dragon) memodelkan sebuah kehidupan skala sempit dilihat dari perspektif tidak biasa dan tentu bizzare, seorang hantu. C (Casey Affleck) dan M (Rooney Mara) adalah sepasang sejoli, suami-istri yang tinggal di daerah suburban yang tampak sepi. Hidup mereka tampak ramping dan mereka saling mencintai. Suatu hari C mengalami kecelakaan mobil tunggal dan membunuh dirinya, M melihat jasadnya untuk terakhir kali dan pergi, hingga segmen utama filmnya sendiri dimulai, transendensi berupa spiritual shifting yang diperlihatkan tanpa efek dan begitu ordinary ; kain jenazah C tiba-tiba mumbul seperti mayat terbangun, namun ia tetap bersembunyi dibalik sana, menjadi tak terlihat. Dan bagaimana penampilannya menjadi seperti kostum halloween paling simpel, ia kini adalah hantu, tak terlihat namun bisa melihat manusia.

Kini perspektif sang hantu menjadi perspektif penonton pula, an audiences surrogate. Sang hantu kembali ke rumahnya ketika dulu hidup, dan dia bukan tipikal hantu yang impulsif dan ekspresif, faktanya ia tidak sekalipun mengeluarkan suara, ia hanya diam, duduk dan berdiri, dua lubang hitam yang terbentuk di balik kain putihnya itu selalu menatap ke M, menonton kesehariannya, menunggu ia pulang kerja namun tak bisa berinteraksi. Rasanya seperti bersama namun terpisah oleh dimensi, disitulah perasaan sedih muncul. Sebagian bilang bahwa A Ghost Story is A Love Story, that is make sense.

Dan suatu hari M tak pulang, dan sang hantu tetap menunggu. M tak kunjung pulang, tentu ia masih menunggu. Hantu kita bukanlah hantu yang begitu supernatural dimana ia bisa melayang untuk mencari kemana perginya M, namun perawakan hantu yang manusiawi dan konvensional, ia jalan kaki dan ia tahu bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk berbuat lebih.

Mengenai estetika, ini adalah film yang amat lambat, dibuat sedemikian artful dengan aspect ratio 1 : 3 : 3 : 1 namun tak mempengaruhi bagaimana filmnya dalam memberi kesan. A Ghost Story adalah minimalis yang jitu. Dengan sudut pandang sang hantu, Lowery memainkan jalannya waktu ; diawal adalah single-shot dengan durasi panjang tentang C dan M tidur berdekapan, shot kamar mayat hingga famous-shot daripada M yang begitu sedih dan ia menginvestasikannya dengan memakan lahap pie utuh dalam 5-ish minutes scene yang emosional. Namun seiring filmnya bertranslasi, lompatan waktu atau timeskip disajikan Lowery. Beberapa teori penonton menganggap bahwa sang hantu memiliki kemampuan menanggapi dimensi waktu secara non-linier, namun aku lebih suka pandanganku sendiri : kisah sang hantu adalah penantian yang sangat-sangat-sangat panjang. Betapa kalemnya nuansa film, The Atz Show menyebutnya sebagai “An Escape of Hecticness”.

Walaupun storyline-nya kurang tajam dan bahkan Lowery pesimis akan ini, kurasa A Ghost Story adalah film yang smart dalam memberikan penguatan interpretasi tentang eksistensi makhluk gaib. Dan cerdasnya ia membawakannya dengan simpel dan membuat pikiran horor mainstream menjadi terkesan naif. Adalah seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa sang hantu tak impulsif dan melulu mengganggu manusia, ia hanya disana berkutat dengan perasaannya sendiri. Adegan ketika piring dan gelas melompat sendiri dari lemari akibat ulah tak kasat-matanya karena emosi si hantu yang sedang tak stabil akan dikesankan bahwa arwah jahat sedang mengganggu, ketika seorang anak kecil bisa melihat keberadaannya dan tampak tenang akan hal itu, hingga adegan piano yang berbunyi ditengah malam, bagaikan sebuah roh yang ingin mengusik dengan membangunkanmu, tapi nyatanya hanya sang hantu yang tak sengaja menduduki piano. A Ghost Story menguatkan istilah rumah angker atau rumah “berpenghuni” mungkin, haha.

Well, A Ghost Story memancing penontonnya untuk menanggapinya dengan cara yang bermacam. Faktanya memang filmnya se-filosofis itu, dan memahaminya dengan versiku, aku sudah mendapatkan kekuatan narasi filmnya. Terkait apa yang benar tentang ending yang membutuhkan penjelasan itu, A Ghost Story tidak membutuhkan alasan muluk untuk bisa dibilang indah. Bagaimana Lowery membuat penontonnya merasa begitu attached kepada sang hantu dan bersamanya merasakan emosi yang pilu, itu sudah cukup.

Mendalam mungkin, mengenai kenangan, kadang kita memang harus tahu apakah itu masih patut dipertahankan atau sudah waktunya dilepaskan.