Review – Get Out (2017)

5

Get Out adalah sebuah drama hingga ia tidak lagi. Penuh dengan pesan simbolik, filmnya menyatakan bagaimana situasi yang awalnya tidak menyamankan bisa bertambah buruk dan mengancammu. Sebaiknya kau jangan naif.

Aku mendapatkan sebuah perasaan yang tak asing dan bagaimana itu hadir kembali lewat menonton Get Out. Jordan Peele sang sineas bagaikan seorang movie geek yang telah menonton banyak film dan pada akhirnya bisa merealisasikan filmnya sendiri, Get Out adalah film yang well-inspired akan film-film emas dekade 70’s hingga awal 90’s bertemakan horror-thriller dengan unsur cult yang tidak sedikit. Secara konsep, Rosemary’s Baby (1968) memiliki aroma yang kuat disini dan para kritikus juga tak bisa mengelak betapa film Stepford Wives (1975) juga memberi pengaruh yang kental. Secara skema, aku bisa bilang sedikit teringat dengan horor lawas kelas wahid seperti The Shining dan Texas Chainsaw Massacre. Mari kita bahas filmnya.

Sentral kita adalah Chris (Daniel Kaluuya), seorang pria berkulit hitam Amerika. Ia dan pacarnya, Rose (Allison Williams) hendak berkendara keluar dari kota untuk mengunjungi rumah keluarga sang pacar yang berada di daerah sub-urban. Mengenalkan sang pacar dengan keluarganya adalah maksud dari Rose. Tapi Chris ragu dengan situasi yang ada, ia khawatir bakal seperti apa ketika ayah dan ibu Rose tahu bahwa pacarnya berkulit gelap. “Apakah orang tuamu tahu bahwa aku berkulit hitam ?”, tanyanya. “Tidak….apakah harus ?”, jawab Rose. Nampaknya, dari awal sekali, Get Out adalah drama yang mencoba menggagalkan paham umum yang mengakar. Bahwa sebenarnya orang amerika tidak seburuk itu. Dan Rose memberikan harapan tentang itu diawal, “Orang tuaku tidak rasis.”.

Tapi mungkin ini tidak berjalan seperti yang diharapkan Chis dan Rose. Memang benar bahwa tidak ada suatu mimik keberatan dari keluarga Armitages, keluarga Rose ketika mereka membukakan pintu pertama kali untuk menyambut anak dan pacar anaknya di teras depan. Namun semakin lama, ucapan-ucapan mereka semua menunjukkan sesuatu yang implisit, Keluarga Armitages terus-menerus menerangkan betapa tidak rasisnya mereka, namun hal itu justru membuat Chris merasa sangat berbeda dan dilihat berbeda dari yang lain.

Faktanya, film ini adalah film tentang rasial (bukan suatu mocking terhadap ras-ras tertentu ya !), dan bahwasannya isu warna kulit sangat sensitif dan kentara disini. Apapun warna kulitmu, kau juga akan merasakan apa yang Chris rasakan. Mungkin ia merasa tertekan, namun Armitages selalu mencoba memberi sekuritas. Get Out rupanya juga ingin menyampaikan sesuatu tentang kritik sosial yang satir tentang bagaimana sejarah tentang ras dan kultur yang mungkin buruk masih mempengaruhi kehidupan modern saat ini. Tapi yang memberikan efek kejut superlatif serta membuat film ini luar biasa, adalah ketika kau menyadari bahwa mungkin Jordan Peele membawa itu semua, bukan sebagai hidangan utama konfliknya, namun hanya pesan yang dibawa sebagai pengalihan terhadap substansial utamanya. Mari kuantarkan kau pada “The Main Part” of the movie.

Aku tak bisa bilang darimana filmnya akan teralih pada bagian “yang sesungguhnya” ini, namun yang jelas kau akan merasakannya. Point of view penonton melekat pada eksistensi Chris menangkap sesuatu yang tidak beres, tatapan-tatapan yang aneh yang diberikan tukang kebun dan pembantu keluarga Armitages padanya. Kejadian “lari-lari di malam hari” hingga adegan hipnotis demi menghilangkan kebiasaan merorok. Titik puncaknya adalah ketika Armitages melakukan acara temu keluarga besar yang mengundang karakter-karakter baru kulit putih. Chris semakin tidak nyaman dengan perlakuan mereka, walaupun mungkin rasis tapi ada sesuatu yang lain yang tidak bisa Chris artikan dari perilaku mereka. Beberapa orang memberikan kesan yang misterius bagi Chris, ini bukan tipikal kehidupan yang normal.

Integral ceritanya mengarahkan ini menjadi kasus yang pelik, namun kita bisa merasakan betapa sendiriannya Chris dalam situasi ini. Dan aku bilang bahwa Get Out memiliki gaya penceritaan yang intimidatif dan suspenseful, betul-betul mengintimidasiku dan membuatku terpaku ditempat duduk, fokus terhadap apa yang akan terjadi. Ada sebuah pola dan ada rahasia yang coba diungkap. Filmnya mulai terurai, penonton akan mulai mendapatkan iluminasi, namun tensi filmnya semakin naik. Lewat satu kata, aku bisa menjamin bahwa Get Out bisa membuatmu ketakutan dan paranoid.

Berbicara tentang unsur yang lain, Get Out terkadarkan sebagai horror-comedy. Alasannya ?, tentu saja keberadaan Rod Williams (LilRel Howery) sebagai teman jarak jauh Chris. Darisana, Chris selalu mencoba menghubungi Rod dan menceritakan apa yang terjadi. Rod adalah kekuatan yang lain bagi Get Out, ia ‘mouthful’ tapi satu-satunya ‘heart’ dalam film ini yang sanggup membawa sisi emosional yang penting terhadap sinergitas ceritanya. Well, ini sentuhan yang bagus dan menambah, beralasan karena Peele sendiri memang telah berkembang di dunia humor.

Overallyou should see this. Get Out mengesankan darimana-mana, it’s smartly-written dan otentik-esensial. Digarap dengan nuansa mencekam dan pencahayaan yang efektif. Ini adalah film yang kau rindukan sejak lama dan akhirnya terjadi. Sebuah drama until it’s not. Film yang akan menggugah untuk didiskusikan. Walaupun kesannya sebagai film thriller akan selalu menghantui, Get Out cukup bernilai dalam kapabilitasnya mengungkapkan pesan tentang baik social dan self awareness, juga peka terhadap lingkunganmu : Di dunia yang penuh tipu daya ini, sebaiknya kau tidak naif.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick