Review – Frozen 2 (2019)

4

Tidak disangka, Frozen 2 hadir sebagai sekuel yang ternyata kita butuhkan.

Ya, bagi seseorang yang tidak terlalu mampu menikmati film yang pertama, Frozen 2 berujung hadir sebagai sesuatu yang kau butuhkan. Yang kau butuhkan sebagai sarana, sebagai kesempatan untuk mencoba menikmati serialnya sekali lagi. Dan itu berhasil kali ini.

Filmnya dibuka dengan flashback masa kecil Anna (Kristen Bell) dan Elsa (Idina Menzel) yang didongengi oleh sang mendiang ayah (Raja Agnarr, oleh Alfred Molina) eks Raja Arandelle mengenai keberadaan Hutan Sihir (atau dalam bahasa mereka, Enchanted Forest), hutan yang dikenang sang ayah pada masa kecilnya dulu telah melahirkan kejadian ajaib yang hebat.

Raja Agnarr kecil adalah seorang pangeran dahulunya. Pada suatu hari ia diajak sang ayah (atau kakeknya Anna dan Elsa) Raja Runeard, ke suatu hutan untuk memberikan hadiah besar kepada kaum Northuldra, rakyat penghuni hutan dengan kemampuan pengendali elemen. Sebuah waduk yang besar dibangun oleh kerajaan Arandelle sebagai token persahabatan dengan mereka. Tidak tahu menahu bagaimana selanjutnya, Raja Agnarr kecil menyadari bahwa pasukan Arandelle justru diserang oleh rakyat Northuldra sekejap setelah itu. Agnarr lari dan mendadak aura alam disekelilingnya tampak riuh dan mengancam, memingsankannya. Ketika dia tersadar, ia mendapati dirinya telah aman dan keluar dari hutan itu, selamat namun sendirian. Tentang siapa yang menolongnya, ia tidak memiliki jawaban namun yakin seseorang, atau seseuatu, telah menyelamatkannya.

Cerita masa lalu itu tiba-tiba membayangi pikiran Elsa hari ini. Adalah ketika dia kerap mendengar suara nyaring yang memanggil, hanya ia yang bisa mendengar. Lengkingan itu datang dari hutan yang dulu ada dalam kisah ayahnya, hutan yang semenjak itu dipenuhi kabut yang pekat sehingga konon tak bisa dijamah.

Elsa memupuk itu sendiri. Ia berulang kali juga mengabaikan suara itu. Hingga suatu malam, sebuah peristiwa supernatural dahsyat terjadi dan mengacaukan kerajaan Arandelle. Masyarakat kocar kacir ketika tiba-tiba angin kencang datang, dan api padam dimana-mana. Semuanya harus dievakuasi, dan Elsa tidak pernah seyakin saat itu; Ia harus menjemput petualangan baru, mencari jawaban ke Hutan Sihir.

Elsa menggandeng Anna dalam perjalanan ini, mengikutsertakan Olaf (Josh Gad), Kristoff (Jonathan Groff) dan si rusa kutub Sven pula. Mereka adalah paket komplit sebagaimana kita telah familiar dan barangkali sudah nyaman dengan komposisi demikian.

Dan sekali lagi kita mendapatkan sajian musikal yang kental dan harus kuakui sebenarnya pada satu titik terasa eksesif. Namun berangsur-angsur co-director Chris Buck dan Jennifer Lee bisa membuat sisi musikalnya kusukai (note: aku sama sekali tidak mengharapkan untuk menyukai film ini akibat musikalnya, awalnya). Buck dan Lee mengatur strategi satu lagu untuk satu karakter yang cocok pada mood tiap-tiap tokoh yang ada.

Mulai dari Olaf yang kuatir dengan hal-hal yang ia harapkan akan dia mengerti ketika dewasa, hingga problematika penyampaian lamaran Kristoff kepada Anna yang benar-benar lebay. On point dan jenaka, Frozen 2 membawakan performansi Kristoff ketika membawakan lagu “Lost In The Woods” dalam style video musik ala lagu Pop bertema kegalauan hati. Dan Sven adalah backing vokalnya !.

Dan untuk lagu utamanya juga tak kalah ikonik walaupun dari sisi musikalisasi sedikit dibawah film sebelumnya. Aku merasa terpuaskan bahwa Frozen 2 bisa terasa terlepas dan terpisah dari embel-embel popularitas “Let it Go” lagu film pertamanya, dan berdiri berbeda dengan “Into the Unknown”, dan tembang-tembang barunya yang lain. Sama-sama digubah oleh pasangan suami-istri Kristen Anderson-Lopez dan Robert Lopez.

Keasyikan filmnya yang dibawakan lewat kelucuan yang ada memang jadi nilai tambah, namun yang membuat keseluruhannya berkesan spesial adalah akibat keinginan film kedua ini untuk menjadi sesuatu yang lain, mengangkat entitas semestanya kearah yang jauh-jauh lebih besar. Frozen 2 menegaskan identitas dan pesona alam fiktifnya, dan merupakan cerita mendalam tentang esensi karakter Elsa sendiri.

Terus terang, sekuel kali ini memiliki konflik permasalahan yang tak terpikirkan bahwa akan digiring kesana. Selama ini kita takut bahwa kekuatan Elsa terlalu kuat untuk dunia ini, tapi sekarang kita harus berharap bahwa itu cukup kuat. Pabbie, tetua Troll sahabat Kristoff mengingatkan kawanan akan sesuatu yang akan mereka hadapi. Yang ternyata bukan sosok bengis, namun force yang terlampau tangguh. Dan disini Elsa menggunakan seluruh kekuatannya, bukan untuk mengalahkannya, tapi untuk mencoba mencari jalan untuk meredakan kekacauan yang timbul.

Aku lebih suka menyebut perkara yang ada di film ini sebagai kesalahpahaman antara manusia dan alam. Dan Elsa hadir sebagai katarsis, dan pada titik ini mungkin hanya dirinyalah yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan dan mencari jawaban sebenarnya. Tanpa disadari, kisah menyibak misteri dengan resiko nyawa ini memberikan jawaban yang cukup mengejutkan, tentang masa lalu dan eleginya, dan juga bagaimana masa depan harus dibentuk setelah itu.

Permasalahan yang dibawa Frozen 2 berbeda tema dari yang pertama, dan mungkin substansi filmnya mengenai perjalanan ke yang tidak diketahui (read: into the unkown) agak terkesan membingungkan untuk audiens. Well, tapi Frozen adalah tentang dunia magis, dan hal magis memang tidak pernah mudah dicerna, bukan ?.

Kuda air, raksasa batu, angin yang menggelitik dan kadal api. Mereka adalah elemen representasi alam untuk berkomunikasi, awalnya datang melawan namun Elsa mencoba menjinakkan mereka dalam adegan-adegan dengan dimensi ruang yang khayal dan ruminatif.

Ini adalah (sekali lagi) tentang Elsa, tentang dia yang tidak menyadari bahwa eksistensinya di dunia mungkin lebih penting dari yang dia duga. Di Frozen, Elsa diintorduksi sebagai tuan putri, namun di Frozen 2, dia mengalami upgrade yang tak main-main.

Frozen 2 mengubah suatu keadaan secara signifikan ketika ia berakhir. Tentang Arandelle dan tatanan-tananannya, kini semua berbeda. Materi yang disampaikan jauh-jauh lebih berat dibanding Frozen pertama yang permasalahannya terbilang sepele; princess wannabe dengan emosi yang labil dan sering gundah yang pada akhirnya berhasil menenangkan diri.

Mungkin masih sama-sama tentang Elsa, tapi jika di film pertamanya adalah tentang dirinya, di film keduanya ini adalah tentang tanggung jawabnya. Elsa telah dewasa, dan penuh kebijaksanaan disini. Tapi setidaknya, sisterhood antara dia dengan Anna masih hangat dan barangkali menguat, kekhawatiran mereka satu sama lain mengingatkan bahwa Frozen 2 juga sanggup mengeksplorasi sisi emosional lewat combo permaisuri ini.

Di minggu pertamanya, Frozen 2 berhasil meraup 135 juta dolar dan mengerdilkan Ford v Ferrari yang notabene berada di posisi dua Box Office Internasional dengan hanya mengantongi sekitar 15 juta dolar saja. Apakah hal ini akan menggelitik tim produser untuk menggarap kemungkinan seri selanjutnya ?,. Bisa jadi, namun tantangan ceritanya akan lebih berat lagi. Sama seperti bagaimana aku melihat Frozen 2, apakah film ketiganya nanti bisa menawarkan cerita yang ternyata kita butuhkan ?