Review – Ford v Ferrari (2019)

3

Mengompensasikan sisi biografikalnya demi tontonan inspiratif yang dramatis. Pun Ford v Ferrari cemerlang dalam eksekusi, dan akan segera menjadi pilihan favorit tayangan Minggu siang televisi lokal.

Drama adalah kata yang paling cocok menggambarkan Ford v Ferrari. Bahkan itu lebih besar daripada unsur biografikal yang ada di filmnya yang semakin lama semakin tertutup. Dan hal itu benar-benar terasa sekali. Kita bahas sinopsisnya dulu.

Bercerita tentang eks pembalap yang kini menjadi pemilik perusahaan manufaktur mobil, Carroll Shelby (Matt Damon) yang dalam suatu hari di tahun 1963 kedatangan tamu dari pihak Ford Motor Company, sebuah perusahaan manufaktur mobil yang jauh lebih besar saat itu, mengajak bekerja sama untuk mendongkrak branding dan penjualan global yang sedang anjlok.

Ide mereka adalah dengan mengembangkan mobil balap yang dapat bersaing mengalahkan nama-nama besar, termasuk Ferrari, pada ajang perlombaan bergengsi tahunan automobil bernama 24 Hours of Le Mans. Carroll Shelby sepakat, walaupun ia sudah menyampaikan bahwa dana saja tidak cukup, ia tetap mengiyakan projek yang awalnya hanya ditenggat 90 hari itu.

Shelby butuh amunisi, dan Ken Miles (Christian Bale) adalah jawabannya. Miles digaet untuk menjadi semacam insinyur dan teknisi utama, sekaligus praktisi test-drive dan bakal pembalap mobil yang akan mereka rancang untuk dilombakan itu sendiri. Mereka melakukan usaha trial and error bertubi untuk membentuk mobil balap super-ringan yang cepat, dimana kemampuannya direpresentasikan oleh rit per menit.

Darisana, filmnya terampil untuk mengembangkan chemistry dari apa yang kusebut sebagai kombinasi dengan otak yang mahal dari karakter Matt Damon dan Christian Bale ini. Beruntung James Mangold , sang sutradara, mampu memperlihatkan bahwa Shelby dan Miles, walaupun sama-sama hadir sebagai lead actor, mereka lebih tampak seperti bersandingan daripada bersaing.

Itu karena karakter mereka diungkapkan dengan baik sebagai dua orang pekerja professional, dengan jobdesc masing-masing yang memperikan masing-masing momen untuk tampil. Shelby memegang kendali terhadap keputusan strategis dan negosiator untuk manajemen Ford, atau pendeknya memegang urusan-urusan mulut. Sedangkan Miles adalah seorang wahid dalam aspek operasional, singkatnya, dia melakukan semua eksekusinya.

Keduanya mungkin punya ego sendiri-sendiri, tapi Mangold memberikan kisah dimana ego mereka tidak dalam suatu kondisi yang berbenturan. Keduanya justru sering dalam satu pihak dalam memegang prinsip yang kadang-kadang tak berdaya ketika dihadapkan dengan pandangan manajemen yang penuh intrik. Karena itu pula, Ford v Ferrari juga diperkaya oleh semacam cerita konflik internal.

Terlepas dari solidnya acting Damon dan Bale yang kabarnya mengharuskan mereka menguruskan badan ini, aku masih cukup kaget bahwa Ford v Ferrari dibawakan dalam pendekatan genre seperti ini.

Filmnya terlalu fokus dalam usaha mereka memberikan efek ke penontonnya bahwa ini adalah sajian yang inspiratif dan memotivasi. Ya, Ford v Ferrari adalah tentang success story bagaimana karakter protagonis mereka berhasil mencapai tujuannya. Untuk menjadi juara bukan pecundang. DI banyak suasana, terasa seperti film olahraga yang tipikal.

Kembali lagi seperti di paragraf pertama kusampaikan, film ini kehilangan momentumnya untuk dapat dikaji sebagai biografi. Justru, Ford v Ferrari lebih menunjukkan sebuah kisah reka ulang yang sudah didramatisasi alih-alih cerita dengan unsur historis yang realistis.

Kenapa kubilang begitu?, karena pembimbingan cerita dan pengembangan karakter dan konfliknya sangat cocok dan begitu mencerminkan film-film drama keluarga generik yang tayang di stasiun TV lokal setiap hari Minggu siang. Selain dua karakter utama kita, keberadaan karakter lainnya seperti template film-film demikian.

Henry Ford II (Tracy Letts) digambarkan sebagai pemilik yang panikan, tidak punya pemikiran sendiri dan mudah disulut, dia adalah anak dari Henry Ford si tokoh besar itu, tapi digambarkan hampir nihil wibawanya. Ada karakter Enzo Ferrari (Remo Girone) juga yang cuma hadir sebagai simbol musuh, bos yang berdiri dari jauh yang cuma manggut-manggut ketika timnya sedang memimpin balapan. Karakter istri Miles (Caitriona Balfe) dan anaknya (Noah Jupe) sangat formulates sebagai penyokong moral. Lengkap dengan keberadaan Leo Beebe (Josh Lucas), senior eksekutif Ford yang vokal, hadir untuk memberikan sosok antagonis yang tidak menaruh suka pada Miles dan tidak ingin ia berhasil. Figuratif sekali bukan ?. Mereka ini karakter, atau sekedar bumbu ?.

Tokoh-tokoh ini seperti ada karena dibutuhkan filmnya untuk membangkitkan drama ketimbang merefleksikan entitas-entitas yang memang benar-benar ada pada waktu itu.

Belum cukup dengan set-piece itu, Ford v Ferrari juga dilengkapi momen-momen dialog antar tokohnya, yang aku yakin ditulis oleh tim (Jez Butterworth, John-Henry Butterworth, Jason Keller) kurang lebih untuk memberikan kesan agar terdengar wah. Saat Miles menggurui Beebe tentang desain mobil Mustang Ford yang baru, dan utamanya tentang serangkaian adegan tawar-menawar yang alot antara Shelby dengan komite Ford untuk mengikutkan Miles sebagai partisipan kompetisi. Berakhir tidak sepakat hingga akhirnya mereka menyesal dan harusnya mendengar apa yang Shelby katakan. Sekelibet drama dengan punchline “told ya” moment ini pasti akan mujarab untuk umumnya penonton.

Begini lho, kisah Ford Motor Company yang berani terjun untuk mengembangkan racing car bukanlah perkara yang kecil. Ini adalah keputusan syarat perjudian tentang nilai dan identitas perusahaan yang berat dilakukan untuk menahan kelangsungan bisnis Ford itu sendiri. Tapi di film ini kok disampaikan se-dangkal bahwa itu semua hanya demi pembuktian semata, hanya demi personal interest akan rivalitas tiba-tiba Ford dan Ferrari yang omong-omong juga tidak diselami cukup dalam.

Well, walau pembawaan seperti ini bukanlah hal yang kuharapkan. aku tetap tidak akan bohong bahwa eksekusi filmnya bagus. Terlebih karena film yang memiliki tema partikular ini bisa ditelaah oleh audiens awam sekalipun. Padahal momen teknisnya juga ada. Menunjukkan bahwa itu memuaskan bagi semua kalangan.

Dengan ini, James Mangold serta tim telah mengantarkan persembahan baik dengan mengingatkan (atau mungkin mengenalkan) kita pada tokoh-tokohnya, Shelby dan Miles. Dua orang itu adalah sosok heroik bagi lingkungan mereka, legenda yang banyak dilewatkan prestasinya, dan film ini berhasil ada sebagai ucapan selamat dan terima kasih. Mereka melahirkan seri GT40 yang berhasil mengantarkan nama Ford sebagai juara 24 Hours of Le Mans 4 tahun berturut-turut setelah itu.

Mengenai 24 Hours of Le Mans, itu adalah sebuah pagelaran yang tidak main-main. Mobil berbalap-balapan hingga ratusan lap seharian penuh. Dibutuhkan ketahanan pengemudi dan ketahanan kendaraan yang hebat. Filmnya memiliki momen ini yang disuguhkan dalam porsi mengenyangkan di akhir. Itu adalah bagian yang paling menentukan. Memuaskan sembari melihat drama demi drama dengan kecepatan terjadi, tentang 7000 rpm, pembuatan rekor, pemecahan rekor, martabat perusahaan dan sebuah aksi mengejutkan diakhir tentang harga sebuah persahabatan.