Review – The Florida Project (2017)

5

Pada suatu liburan musim panas di pemukiman sederhana di Florida, kau tak akan pernah menyangka bagaimana kehidupan sehari-hari yang natural bisa begitu menawan.

The Florida Project lebih pantas dianggap sebagai cuplikan yang diperlukan daripada hanya sebatas film. Ini nyata sekaligus genting, ketika Sean Baker memutuskan untuk mengangkat kisah sebuah kehidupan kecil di suatu daerah di Florida, ia telah menunjukkan rona yang mungkin jarang dilihat orang-orang mengenai kehidupan di Amerika. Karena ini adalah sisi lain, The Florida Project adalah film tanpa plot serius, merupakan potret berdurasi, terhadap kisah keseharian menjalani hidup dan berinteraksi dengan neighborhood, diilustrasikan pada lingkup yang lebih detail dan spesifik, salah satu kawasan tinggal yang murah : The Magic Castle Motel.

Di Motel berwarna ungu muda itu, seorang wanita tunggal bertato hidup bersama gadis kecilnya, berusia enam tahun. Bria Vinaite memainkan Halley, ibu-ibu perokok yang sembrono namun menyayangi anak gadis satu-satunya. Kadang ia kerja, kadang tidak namun entah bagaimana ia selalu bisa mengelola kebutuhan hidup keluarganya. Mereka akan sering tak memiliki uang, dan ini sangat merepotkan bagi Bobby (Willem Defoe), si manajer hotel yang kerap kali harus menceramahi Halley karena dua hal : pembayaran sewa yang telat dan kenakalan anaknya.

Secara ekonomi, ini bukanlah hidup yang mewah dan penuh uang dan ini bukanlah hidup yang penuh keteraturan dan benar-benar rukun. Halley tak akan pernah bisa menjadi seorang yang tak melawan, ia tidak bijak bahkan ketika ada anak-anak kecil disampingnya yang harusnya ia asuh. Mencari nafkah dengan menjadi stripper dan kadang-kadang menipu lelaki adalah caranya mencari uang. Untuk makan, ia menjanjikan menjaga satu anak lelaki tetangganya seharian diganti oleh makan siang gratis.

Satu hal yang jelas, betapapun hidupnya berantakan dan semakin sulit, Halley tidak pernah menganggap itu berat. Ini bagus mungkin, menjadikan dirinya bukan pengeluh, tapi ia tak tahu diri. Benar-benar batu, ketika filmnya berprogres pada situasi yang memburuk, kita mengharapkan ada suatu turning point daripada keegoisannya, hingga kita menyadari bahwa Halley memang mutlak dengan kekerasan kepalanya

Not only that, The Florida Project adalah film bagi karakternya yang saling bersinggungan dan bersosialisasi. Willem Defoe tak diragukan mendapatkan salah satu peran paling moving sepanjang karirnya. Karakternya Bobby adalah satu yang tambah orisinil, ia orang baik jika itu urusannya, menjadi manajer motel membuatnya bertanggungg jawab. Dibalik sosok yang begitu sensitif terhadap uang, ia tabiat yang profesional, ia mengawasi sekitar dan merawat bangunan. Kadang beberapa bagian film adalah tentang dirinya, tentang momen-momen yang mendefinisikan dirinya, mengusir dengan keras seorang pedofil tua, menangani perabotan-perabotan yang tak layak, juga menegur tiap-tiap penunggu yang melanggar aturan bersikap. Semua kesibukan yang ia harus jalani dan rasa syukurnya ketika malam telah menjelang dengan sigaret diantara jari, melihat langit dari balkon motel tanda bahwa urusannya hari ini telah selesai. Bobby adalah ayah tak resmi bagi seluruh orang di motel, ia mengatur dan menjaga, bagi anak-anak kecil ia adalah paman yang pantas untuk direpotkan.

Dengan itu semua, The Florida Project masih film yang biasa-biasa saja. Yang membuat filmnya indah, tak lain dan tak bukan, tentu saja penampilan dan petualangan empatetik yang disuguhkan lewat kacamata Moonee (Brooklynn Prince), anak dari Halley. Bersama sahabat-sahabat ciliknya, Scooty (anak yang dititipkan setiap siang kepada Halley), Dicky (anak dari pintu sebelah yang selalu memberi ide berbuat nakal) dan juga Jancey (anak baru dari motel sebelah yang berkenalan semenjak kejadian meludah diatas mobil), The Florida Project menggambarkan kehidupan mereka ketika summer break datang, tergabung sebagai partners-in-crime, dan mereka menghabiskan keseharian untuk bermain-main karena mereka tak memiliki rencana selain itu. Titik ini adalah titik dimana filmnya terasa murni dan menenangkan, natural dan relatable. Halley, Scooty, Dicky dan Jancey (mereka tidak selalu bersama) memberitahukan betapa sifat begitu dibentuk oleh lingkungan dan didikan orang tua. Mereka tidak sopan dan tak mentaati peraturan, menyela orang tua dan berteriak.

Anak-anak ini merdeka, Halley tak pernah seserius itu dalam menjaga anaknya, dan ini artinya penonton benar-benar ditenggelamkan secara total bersama tubuh-tubuh mungil ini dan aktivitas mereka. The life of childhood : Membeli es krim hingga jauh, berkejar-kejaran dan membuat onar, serta satu adegan mengenai “The Motel Tour” yang menggemaskan. Mulut mereka mungkin kadang kotor, tapi hati mereka suci. Mereka tak mengerti apakah situasi sedang buruk diantara para orang tua mereka, karena apa yang mereka interpretasikan adalah bagaimana caranya untuk tetap riang hari ini. They’re just always happy. Cara mereka melihat, berpikir, berkata dan berperilaku, tak ada yang dilebih-lebihkan. Kepolosannya dalam menanggapi sesuatu tidak jarang mengenyuhkan, dan membuatmu nyengir. The Florida Project berbicara tentang life on its struggle, tapi bagi mereka ini adalah satu tema absolut : Cinta dan persahabatan yang sejati.

Aku suka cara Sean Baker melakukan ini, ia membuat film dengan wawasan. Mengutarakan bahwa ini adalah responnya setelah melihat bahwa tapak US Cinema masih belum menggambarkan kondisi-kondisi nyata yang kurang terlihat namun masih ada di kehidupan nyata. Baker memberimu kesempatan untuk mempelajari hidup orang lain, peoples we do not interact with, dan dengan ini, kita mengerti mereka.

Sebenarnya ide itu terlalu berani, dan memang dari banyak sisi The Florida Project terkesan indie. Bagaimana caranya film tanpa konflik dan maksud pasti, bisa se-mengena itu. Dan jawaban film ini ada pada hubungan para karakternya, strong performances dari Bria dan Brooklynn sebagai ibu-anak adalah proses parenting yang berbeda, sang ibu tampak seperti karibnya daripada sosok yang mengasuh. Ini adalah sisterhood yang kacau, namun semuanya bahagia, tidak ada beban pikiran karena memang tak perlu. The Florida Project adalah potongan spesial yang sentimental telak, dalam kerangka cerita yang minimal dan penuturan yang sama sekali tidak eksesif.

Defoe dan Bria adalah tonggak yang berhasil, namun Brooklynn Prince, dengan imajinasi karakternya tentang Magic Kingdom dan Disneyland itu, telah mengajari kita untuk bersyukur. The Florida Project is great film, but because of that little brat, it is perfect.

Engineering student but movies way more than manufactures