Review – First Man (2018)

4

First Man menawarkan penuturan kronologis yang ditutup dengan peristiwa ajaib Apollo 11. Menuju kesana, adalah kisah reflektif Neil Armstrong yang ternyata penuh tekanan psikis dan resiko-resiko paling besar.

Dunia sudah tahu tentang Neil Armstong, kurang lebih. Namanya sudah jadi trivial yang selalu menarik untuk diingat. Orang yang pertama kali mendarat di Bulan, semakin kesini semakin aku lebih menghargai artinya, bahwa hal itu, naik ke Bulan, ternyata mungkin. Lantas, kenapa tak dari dulu ?. Maksudnya, kenapa industri film tak dari lama mengangkat kisah Neil yang sangat relevan untuk seluruh orang di dunia, walaupun dia biografi ?. Menjawab itu, alasannya mungkin terletak pada persona Neil sendiri, dan lika-liku hidupnya yang mungkin semua orang belum tahu.

Kehidupan Neil Armstrong bukan salah satu yang menarik, bahkan figurnya pun tak memesonakan atau membuatmu terinspirasi. Neil bukan insan yang termotivasi oleh impian kuat, dia tidak terusik atau terbawa mimpi sama sekali oleh fakta bahwa ia diambang menjadi pioner perkembangan sejarah manusia. Dia tidak melakukan ini atas panggilan cukup kuat demi ilmu sains, bukan juga cita-cita diri ataupun karena harga diri dan untuk kebanggaan Amerika. Lantas apa ?, akupun tak mengerti, Armstrong ternyata adalah pribadi pendiam, wajah yang tenang bahkan dalam keadaan hati yang hancur-pun. Aku-pun sulit menerjemahkan perasaannya ketika koleganya meninggal satu per satu akibat kecelakaan kerja dan bagaimana secara batin ia masih bersikeras untuk merampungkan misi itu. Neil seperti, misi ini harus berhasil.

Filmnya memiliki porsinya dalam membicarakan semua ini secara teknis. Perhatikan saja, simulasi tahan mual hingga uji coba pendaratan di bulan. Neil layaknya wali dari proyek besar, itu yang aku rasakan pada karakter Ryan Gosling yang mewakili badannya. First Man, lebih kuat jika kau mau menganggap filmnya adalah paradigma kisah hidup daripada peristiwa bersejarah.

Walaupun demikian, jangan salah, filmnya diantarkan sehingga penontonnya pun awas terhadap lini masa. Dimulai pada tahun 1961 ketika ia masih seorang test pilot dan ketika itu adalah pertama kali baginya mengemudikan pesawat X-15 menembus atmosfer meninggalkan bumi, hingga pada akhirnya di tahun 1969 ketika dirinya kini adalah kepala proyek Apollo 11 yang bersama Buzz Aldrin berhasil menapakkan kaki di Bulan.

Diantarkan kronologis dan membantu penontonnya memahami filmnya secara emosional, dan awas dengan perkembangan NASA dan semua yang mereka lakukan. Sajian penuh tantangan, dan itu adalah hidangan sempurna bagi filmnya, terus terang.

Neil Armstrong hidup dan dekat dengan rekan kerjanya, kadang-kadang adegannya adalah makan malam dan membahas apa yang sedang terjadi di kantor. Cukup intim, atau justru sangat intim. NASA kehilangan banyak astronot dan Neil kehilangan banyak teman. Dan First Man bergerak menjadi kisah psychodrama tak terelakkan, aku tak menyangka filmnya bakal terenung dalam nuansa ditinggal mati yang bertubi-tubi. Mustahil bagimu untuk menontonnya tanpa merasa kesakitan juga.

Bicara hal lainnya, filmnya mengambil footage tentang bagaimana masyarakat memprotes proyek NASA yang berlebihan dan tak jelas itu. Whitey is on the moon, katanya. Tapi yang kurasakan adalah bahwa selama itu, kita tak terlalu bicara apa yang harus dibayarkan. Bayangkan, terbang ke Bulan dengan perjudian, yang mengandalkan teknologi yang masih rentan, tidak ada rangkaian uji coba yang bisa benar-benar menjamin dan meramalkan apa yang bisa terjadi di atas sana. Maka dari itu, menyaksikan adegan paling utama ketika Neil menginjakkan kakinya di bulan dan seketika sound record footage terdengar “That’s one small step for a man, one giant leap for mankind”, ditambah klimaks scoring uplifting Justin Hurwitz, hatiku terasa tersetrum. Ini adalah peristiwa ajaib.

Dan ini yang mungkin menarik, walaupun sesungguhnya bisa, Damien Chazelle membawakan pengalaman konservatif dan relevan pada masa filmnya. Adegan luar angkasa adalah adegan kokpit, aku sukar mencari kata-kata yang tepat namun Matt Zoler Seitz dari Rogerebert mendapatkan maksud ku dengan tepat ketika dia bilang First Man adalah first-person sense. Mata Neil mewakili sudut pandang kita, melihat horizon melengkung yang sebagian itu dari belakang jendela. Secara visual mungkin tidak memanjakan, tapi jatuhnya Chazelle bisa membuat penontonnya menghargai tiap frame tentang Bumi dari atas seperti yang Neil rasakan pada waktu itu.

Dari segi emosi, keberadaan Claire Foy sebagai Janet, istri Neil mampu menghadirkan gejolak perasaan yang absten dari karakter lainnya. Dan barangkali, First Man adalah film tentang Janet dalam mayoritas waktu. Caring wife, caring mother, Janet sadar betul tentang risiko pekerjaan suaminya. Ia memarahi pihak NASA karena telah memutuskan sambungan radio siaran langsung dengan Neil ketika ia sedang terbang diatas sana lantaran situasinya dirasa memburuk saat itu. Semuanya juga memberikan ia tekanan, dan kemungkinan kehilangan suami juga ia pahami betul, tetap ia tidak pernah tidak suportif. “What are the chances you’re not coming back?”, katanya kepada Neil malam itu. Ibu yang berani, ia melengkapi sisi sentimentil yang mungkin kurang dari diri Neil. Karenanya, adegan “Dinner table” ada dan terjadi saat itu, adegan paling dingin, paling canggung dan luar biasa, menurutku.

Good tribute still, for human great mission and achievement, especially for NASA!. Damien Chazelle (Whiplash, La La Land) keluar dari zona nyamannya untuk mengingatkan itu semua seperti layaknya “The Right Stuff” dan “Apollo 13”, dengan senjata naskah milik Josh Singer (Spotlight), maka ini adalah kisah dengan pendalaman yang pas. Adapun Justin Hurwitz juga harus menantang dirinya karena jelas ini adalah tugas yang berbeda. Original Soundtrack gubahannya benar-benar berbeda dari film-film musikalnya sebelumnya yang menawarkan kreasi yang merdeka. Disini, ia fokus dengan satu melodi yang sama dan bagaimana mengaransemen itu untuk bisa menawarkan suasana yang berbeda. Nada itu masih terngiang dipikiranku, mengiangkan Interstellar vibes dan bagaimana pola musiknya terbentuk. Dan boleh kukatakan dengan itu, usaha Hurwitz dalam memberikan kesan pelak lewat latar lagu berhasil.

First Man adalah sajian thoughtful. Jangan terlalu ekspektasikan sensasi perjalanan luar angkasa karena tujuan utama filmnya bukan kesana. First Man reflektif terhadap tokoh Neil Armstrong dan dinamika rapuh-kuat psikisnya. Diakhiri dengan ending tanpa pasca event, tidak ada yang bisa terlalu diharapkan dari sisi historisnya. Bahkan Chazelle tidak mereka ulang bendera Amerika yang menancap itu. Kuulangi lagi, First Man adalah biografi telak daripada kisah histori. Filmnya menolak untuk menjadi demikian, namun aku begitu menghargai ini.