Review – Finding Vivian Maier (2013)

4

John Maloof mengangkat derajat akan eksistensi dan melahirkan suatu apresiasi viral terhadap Vivian Maier justru setelah ia tiada. Tapi John Maloof mendapati bahwa semenjak hidup, Vivian Maier memiliki kehidupan sosial yang sulit. Semuanya terangkum dalam perjalanan film ini. Pencarian Vivian Maier

John Maloof membeli beberapa kotak-kotak besar berisi sekitar 30.000 negatif beserta beberapa print, audio hingga 8mm film pada sebuah pelelangan, menyalurkan salah satu hobinya. Ia tak keberatan. Biasanya ia menemukan foto-foto biasa, namun saat itu ia takjub melihat hasil negatif yang menunjukkan karya seni yang mahal, indah, begitu well-crafted, berbeda, ‘mengapa semua ini dilelangkan ?’. Maloof tertarik, ia hampir saja tak tahu siapa orang dibelakang seni-seni fotografi ini, lalu menemukan sebuah nama : Vivian Maier. Maloof tambah tertarik, ia membeli kotak berisi foto-foto milik Maier yang sebelumnya sudah terbeli di pelalangan oleh orang lain. Maloof memulai suatu kisah pengungkapan, sejarah yang belum ditulis. Maloof mencari informasi lewat Google, hasil tidak ditemukan. Maloof kembali sibuk dengan kotak-kotaknya lagi. Beberapa waktu kemudian, Maloof mencoba menyelidiki Maier lewat Google lagi, dan mendapati bahwa Vivian Maier dinyatakan meninggal pada April 2009 via Chicago Tribun’s Death Notice. Hingga saat itu, pada saat yang sama, Maloof mencoba menunjukkan karya Maier kepada dunia dan mencari sebanyak mungkin informasi tentang almarhum si pemilik.

Finding Vivian Maier betul-betul mendefinisikan judulnya sendiri, seperti menyusun puzzle, yang tiap kepingnya adalah informasi yang menuntun John Maloof untuk selalu berpindah tempat demi menggali informasi dan informasi. Maloof mendapati bahwa Maier bukanlah seorang street journalist atau semacamnya, namun ternyata ia adalah seorang baby-sitter !!. Masalah baru muncul, Maloof tidak hanya ingin mencari tahu, ia juga ingin meneliti kisah dibalik hobi dan bakat Maier.

Wow, film ini begitu kompleks dalam menceritakan suatu tale of discovery. Maloof bertemu orang-orang yang pernah berhubungan dengan Maier, semuanya setuju bahwa Maier memang suka menangkap foto, namun ternyata hampir semuanya pula sependapat bahwa Maier memiliki suatu permasalahan mengenai kondisi psikisnya. Satu per satu, mereka menceritakan kebiasaan dan cerita masa lalu, kenangan bersama Maier. Misteri berlanjut.

Kita beralih sedikit, menuju cerita John Maloof yang membuka pameran galerinya sendiri. Ia memamerkan karya Vivian Maier yang kebanyakan berjenis foto potrayal. Orang-orang menyukainya, masuk berita dan menjadi viral. Bahkan beberapa fotografer professional memujinya. Vivian Maier justru mulai menjadi terkenal, tepat beberapa saat setelah ia meninggal. Mungkin aku terlalu berbicara banyak tentang film ini, tapi aku bisa menjamin, kisah dan misteri yang dikandung film ini masih jauh lebih dalam daripada itu.

Secara teknis, pujian melayang kepada John Maloof dan sang co-director Charlie Siskel. Kerja keras mereka dalam menjawab Ovevwhelming overcurious (sebagaimana Maloof menjelaskan keingintahuan mereka) sepertinya tidak sia-sia dan berbuah hasil. Dalam menelusuri masa lalu Maier, Maloof harus mengobrak dokumen-dokumen lama, menyesuaikan tanggal di surat-surat milik Maier dan bahkan menyusun hasil karya fotografi Maier dalam suatu timeline. Belum lagi ketika ia harus mengeluarkan banyak uang untuk berpergian ke tempat-tempat yang menurutnya akan memberikan informasi. Kita belum berbicara uang yang ia keluarkan untuk membeli barang-barang Maier di pelelangan dan juga, tentu saja, produksi film ini. Luar biasa dan menakjubkan.

Finding Vivian Maier kuat pada studi karakternya, dan film ini benar-benar memberi suatu gambaran kepribadi seseorang bisa sangat berbeda dari umumnya, membuat kita bertanya-tanya mengapa orang ini berbeda dengan orang lain, mengapa ia melakukan hal ini, atau mengapa ia justru tidak melakukan itu. Disamping itu, nilai fungsi film ini sebagai tindakan apresiasi juga sangat tersampaikan.

Entah apa kata Maier jika saja mendiangnya masih hidup saat itu, ia mungkin akan merasa bangga dan senang ketika orang-orang memuji dan mengagumi karyanya, tapi Maier tidak pernah menunjukkan karyanya, selama hidupnya, hanya menjepret foto, dan sudah. Maier digambarkan sebagai orang yang tidak terlalu tertarik akan perhatian. Jadi kita tak akan pernah tahu, apakah film ini akan direstuinya jika saja ia masih ada.

Seperti takdir, jika saja Vivian Maier tidak melelangkan barang miliknya, 2 tahun sebelum ia meninggal. Mungkin film ini tak akan pernah ada.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick