Review – Finding Dory (2016)

4

Akhirnya, Finding Dory  memberikan kepuasan akibat berjumpa lagi setelah satu dekade lebih, namun ironis, setelah film selesai, segera kau akan merindukannya lagi.

re dory

13 tahun di dunia nyata adalah satu tahun di kenyataan Nemo, kurang lebih. Dan dalam rentang itu – sejak kisah P. Sherman 42 Wallaby Way di  SydneyDory terbangun oleh gangguan kecil baru, ia mendapat mimpi, yang membuatnya sama-sama kaget dan riang, seperti potongan puzzle, entah kenapa ia tiba-tiba teringat kedua orang tuanya karena mimpi. Dory tak pernah merasa serindu ini, bahkan untuk seekor ikan yang memiliki penyakit ingatan jangka pendek (dengan nama : Short Term Memory Loss). Si biru ini merasa bahwa sepertinya ia harus (sekali lagi) menjemput petualangan baru.

Finding Dory secara teknis adalah peralihan karakter utama dari seekor ikan badut bernama Marlin (yang kita semua sudah tahu kisah heroiknya) pada seekor ikan blue tangs yang dulunya adalah karakter show-stealer deutragonis dalam film Finding Nemo, Dory. Konsep ini hampir sama seperti relevansi film Monster Inc dan Monster University, tujuannya jelas, mengeksplor karakter yang sudah ada untuk menggagas suatu penceritaan baru. Namun ayah-dan-anak Marlin dan Nemo masih memiliki porsi yang cukup banyak disini, atau bahkan masih punya beberapa momen pentingnya sendiri. Ah, tapi aku lebih senang menganggap Nemo, Marlin dan Dory sebagai kesatuan karena mereka seperti tim yang selalu bersama. Bedanya, emosinya penuh terletak pada Dory.

Berangkat dari rasa berhutang dan khawatir, Marlin dan Nemo akhirnya menuruti kegelisahan Dory dengan membantu dan menemani pencariannya. Jewel of Morro Bay, California adalah nama tempat yang tiba-tiba diingat Dory, sesuatu yang-ia-merasa seperti tempat dirinya berasal. Perjalanan menyusuri lautan berjalan begitu cepat, dan mereka sudah tiba di alamat yang mereka cari yang ternyata merupakan situs bernama Marine Life Institute. Suara dari Sigourney Weaver sebagai computerized tour guide menjelaskan bahwa Marine Life Institute merupakan wahana wisata binatang air sekaligus tempat konservasi dengan misi “rescue, rehabilitation and release”, sebagai penanda bahwa tempat ini tidaklah berbahaya bagi karakter-karakter kita, justru sebaliknya..

Disini, karena tak awas, Dory tertangkap manusia dan terpisah dengan Marlin dan Nemo. Lanjut, Dory bertemu Hank si gurita merah jingga dengan kemampuan kamuflase-nya di dalam bangunan berinisial quarantine atau umum disebut fish hospital, Hank tertarik dengan tag yang terpasangkan di sirip Dory yang menurut penjelasan Hank, itu berarti hewan tersebut sedang sakit. Menurut Hank juga, ikan yang memiliki tag tersebut akan diasingkan ke suatu tempat bernama Cleveland (yang mana Hank ingin sekali kesana) dan yang tak punya akan dilepaskan ke laut lagi sebagai aksi dari misi release daripada Marine Life Institute. Hank ingin tag milik Dory, dan Dory akan memberinya, dengan satu syarat : bantu aku mencari orang tuaku. Cukup adil, kata Hank. Sementara Marlin dan Nemo mulai mencari Dory dengan bantuan hewan-hewan lokal disana seperti tiga anjing laut (salah satunya disuarai oleh Idris Elba) dan seekor burung ‘agak sakit’ bernama Becky. Dengan perasaan serba insekur dan selalu khawatir Marlin, Nemo disana sebagai katalis, dan kisah sementara mereka mempromosikan sajak yang cukup bagus untuk dikutip : “What will Dory do now !?”..

Well, Finding Dory mungkin tidak se-spesial film pertamanya, menurutku semuanya memang tidak direncanakan karena ketika film pertama berjudul Finding Nemo, bakal sangat sulit untuk membuat sekuelnya dengan nama Finding Nemo 2, karena itu artinya Nemo hilang untuk sekali lagi. Namun para filmmakers memutuskan untuk dealing with the situation dan mengubah judulnya menjadi Finding Dory. Tentang akuratnya sebenarnya tidak juga, film ini hanya sedikit tentang mencari Dory dan mungkin akan lebih suit jika dinamai Finding Dory’s Parents atau cukup Dory. Well, tapi kenapa kita membahas ini, yang jelas semuanya sudah diputuskan dan dipertimbangkan dengan matang demi marketing dan untuk menghidupkan lagi kenangan film pertamanya.

Berbicara tentang dua film ini, Finding Nemo dan Finding Dory adalah dua keping yang comparable. Tetapi tidak bicara tentang kapasitas dan kualitas filmnya, ialah guna mempelajari tentang unsur-unsur yang hilang, yang baru, dan tentu saja, yang tetap dipertahankan di dua filmnya. Cukup asyik mengetahui bahwa filmnya kadang terasa sama dan kadang terasa berbeda.

Menonton Finding Dory, mungkin kita semua harus mulai setuju bahwa kau tidak pergi ke bioskop untuk menghakimi film ini tentang plot, cerita, konflik atau lain-lain dan mengkritiknya tentang itu, Namun kau hanya ingin ‘melihat’, kau tahu, bagaimana kabar Nemo dan semuanya setelah ‘selama’ ini, karena kau begitu kangen dengan pemandangan bawah air ala Finding Nemo, film yang melepaskanmu dalam keadaan tersentuh, film yang membuat matamu selalu berair ketika Gill nekat untuk keluar akuarium demi menyelamatkan Nemo walaupun kau sudah menontonnya berulangkali, dan kau tak keberatan dengan itu. Finding Nemo, adalah finest installment dari Disney/Pixar. Dan ini cukup manis untuk mengetahui bahwa sutradara Andrew Stanton dan Angus Maclane menghadirkan karakter lama seperti Crush si penyu raksasa dan kawanannya yang mengantar Nemo. Dory dan Marlin dengan terjun pada kecepatan super di arus deras bawah laut (anggap seperti itu), membedakan film kedua ini tak terlalu menghabiskan waktu menyisiri lautan seperti yang dilakukan film predesesornya. Asal usul tentang slogan “Keep Swimming” Dory, dan kemunculan kawanan seagull yang selalu menyanyikan kata-kata “punyaku, punyaku”, adalah sebagian item yang dipertahankan dalam film ini.

Keberadaan Finding Dory, disisi lain, merupakan perayaan tersendiri bagi Ellen Degeneres, pengisi suara Dory. Kau tahu, Ellen adalah presenter bagi talk-show nya sendiri, dan juga sempat menjadi host untuk pagelaran Academy Awards, dan ini cukup membanggakan untuk seseorang yang lebih terkenal sebagai entertainer daripada aktris. Bahkan project Finding Dory pertama kali terkuak di salah satu episode The Ellen Show. Namun jangan ragukan kualitasnya, Dory hidup karena Ellen, maksudku, suara kecil nan khas itu, sangat tak tergantikan. Dory tak terlepaskan dari Ellen dan akan aneh jika Ellen harus menghidupi karakter utama film lain lewat suaranya, orang-orang akan kebingungan sambil berkata : ‘Bukankah itu Dory ?’. Bauran mereka jarang dicapai pengisi suara lain, yang kurasa hanya Jack Black dengan Po, atau lebih tinggi, Tim Robbins dengan Aladin-nya. Hal ini seperti mereka sudah membangi suara dengan karakternya, tak bisa dilepaskan. Dengan Ellen, Dory kuat dalam karakternya, pemberani yang linglung, tapi satu hal yang bisa dipetik, ia tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya.

Finding Dory secara teknis, adalah film bagi semuanya, film ini fun, enjoyable dan rekreatif. Hanya sedikit guyonan mungkin, namun tidak patut dipermasalahkan karena film ini bukan tentang itu. Finding Dory adalah tentang feels dan life advice, dramatis dan emosional, walaupun kadang aku menganggap usaha film ini untuk terus memberikan kesan tersebut terlalu berlebihan, seperti ketika Dory mengingat masa kecilnya dengan orang tuanya lewat mendengar kata atau melihat tempat dimana ia merasa deja vu dan kita semua harus larut lagi dalam flashback. Begitu sentimentil walaupun sebenarnya tak terlalu seefektif film pertamanya.

Finding Dory tetap berakhir layaknya film keluarga, heartwarming. Sekali lagi tanpa adanya karakter jahat, film ini hebat dalam berkomunikasi, semua karakternya tergambar sebagai hewan yang memiliki dorongan membantu satu sama lain, dan ini cukup bagus untuk tontonan anak-anak. Bagi penonton yang datang dari 13 tahun yang lalu, Finding Dory tidak cuma tentang bawah laut, namun juga banyak cerita di daratan. Nemo, Marlin dan Dory akan seringkali berpindah dari laut, ke kolam, ke kolam satunya, hingga akuarium.

Masih tetap dibungkus dalam visual yang menyegarkan, namun kau akan tenganga dengan beberapa tampilan baru disini. Menjelang akhir film adalah yang paling seru, plot spin diberikan lebih banyak dari yang pertama, kadang terasa seperti finding dory, lalu tiba-tiba bisa jadi save dory, lalu save nemo and marlin, begitulah.

Akhirnya, Finding Dory memberikan kepuasan akibat berjumpa lagi setelah satu dekade lebih, namun ironis, setelah film selesai, segera kau akan merindukannya lagi.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick