Review – Ex Machina (2015)

4.5

Dengan dana yang kecil, Ex Machina  justru terlihat sangat Powerful

re ex machina

Aku suka dengan cara Ex Machina dibawakan, tidak tergesa-gesa dan membiarkan kita untuk mendalami semuanya, siapa, dimana dan apa yang terjadi. Mungkin terlalu quiet, tapi aku nyaman dengan dialog yang ramping (bukan terlalu sedikit, apalagi ringan). Ex Machina, hingga selesai adalah mahakarya minimalis yang efektif dalam menyampaikan pesannya. Aku tidak menyangkal bahwa awalnya sedikit membuat bingung. Caleb (Domhnall Gleeson) mendapati dirinya menang lotre untuk berlibur seminggu di pegunungan pribadi milik CEO tempat ia bekerja, Nathan (Oscar Isaac), tapi ketika sampai, tidak ada pesta, hampir tidak ada siapapun dan bahkan tidak disambut. Setidaknya Caleb juga kebingungan, dan itu artinya, dari sana, kita tidak ketinggalan apapun untuk dimengerti.

Penyutradaraan pertama Alex Garland serasa tipikal dengan film-film yang pernah ia tulis (Sunshine, 28 Days Later), dalam konteks atmosfir dan sebagainya. Tapi konsep low budget dan embel-embel debutan hingga raihan yang ia mampu capai sangat mengingatkanku pada Moon milik Duncan Jones. Tidak terlalu banyak karakter, latar tempat yang sophisticated dan memiliki elemen cerita yang coba diuraikan menit demi menit yang penuh kejutan dan untuk menguak satu hal yang jelas : The Ugly Truth.

Nathan mengejutkan Caleb dengan menawarinya suatu pekerjaan dalam eksperimen/proyek pentingnya, Nathan telah menciptakan robot dengan kecerdasan artifisial. Dan Caleb harus menjadi subjek manusia dalam eksperimen tes turing, yakni ketika manusia dan robot berhubungan satu sama lain dan sang subyek tidak lagi menyadari bahwa ia sedang berkomunikasi dengan robot. Umumnya, tes turing adalah alat subjektif untuk mengukur sejauh apa kesadaran yang mampu dimiliki robot berteknologi A.I. Dan Caleb tak bisa menolaknya. Karakter bertambah satu lagi ketika Caleb mulai bertemu dengan objek tesnya, sang robot, Ava.

Ex Machina adalah sajian thoughtful, sains-nya kuat, fiksinya penuh ditumpahkan dalam suatu ide. Garland mengambarkan serealistis mungkin tentang keadaan film jika saja semua teknologi karangannya menjadi nyata. Tidak lupa set produksi yang futuristik akan rumah fasilitas penelitian Nathan yang kian menjunjung tinggi kesan yang ingin disampaikannya. Menghiraukan fakta bahwa film ini memiliki set yang isolatif dan kurang menunjukkan ‘dunia luar’, aku mengasumsikan Ex Machina berwaktu di distant future.

Tetapi saat kau sudah bisa mulai menangkap ceritanya, antisipasinya berbelok pada permainan emosi, Caleb bertemu Ava, tidak saling mengenal dan mereka mulai berbicara satu sama lain. Intinya naskah Garland harus tetap memiliki dialog yang hidup dan tetap menarik namun juga harus masuk akal dan realistis, apa yang akan satu manusia dan satu robot bicarakan untuk mulai mengenal satu sama lain. Akhir hari adalah saatnya Caleb memberikan kesannya terhadap Nathan, Caleb terlalu sibuk untuk menyampaikan kekagumannya terhadap hebatnya teknologi, namun Nathan menyuruhnya untuk mengesampingkan teknis, dan lebih menanyakan kesan Caleb terhadap kemampuan kognitif Ava dan perasaan terhadapnya, emotionally. Suatu saat, saat listrik tiba-tiba down, ketika Nathan tak bisa memonitor tes Caleb bersama Ava, Ava mengatakan sesuatu yang buruk tentang Nathan. Caleb mulai membeku, sadar bahwa dirinya harus menghadapi trust issue, namun perasaannya kepada Ava mengemudikan tindakannya setelah itu. Caleb sadar Nathan adalah sang jenius yang memiliki sisi gelap. Performansi yang apik oleh Oscar Isaac (ia mengaku mempelajari karakter Stanley Kubrick dan Bobby Fischer)

Hal yang bisa kau harapkan dari seorang novelis mungkin (ya, Garland adalah novelis juga), non-stop mystery, tokoh utama yang akan selalu merasa insecure, tidak mampu berbuat banyak karena bangunan yang ia tinggali cukup protektif, hingga akhirnya ia harus beraksi melebihi batas. Ex Machina meberikan thrill yang kuat, menegangkan, gripping seperti kau akan memeras erat kursi yang kau duduki ketika menontonnya. Abstrakisme dari seni penyutradaraan Garland dengan menyunting benda-benda dan memvisualisasikan bayangan para karakternya menambah daya intimidasi. Lebih-lebih pada adegan ketika Nathan dan Kyoto menari dalam musik ala diskotik. Hypotizing

Menampilkan gaya psychology dark, cerita Ex Machina menggugah perumpamaan disaat, pada suatu titik, suatu makhluk mencoba melebihi apa yang jadi kodratnya. Ketika robot tidak ingin menjadi hanya sekedar robot, dan ketika manusia melebihi batas. Selayaknya penyimpangan dari nature of creature (bukan hanya human nature). Semuanya tergagas sembari didukung elemen advanced technology, fasilitas dan intelejensi, yang membuat keadaan semakin mungkin. Entah apa maksud Garland, apakah menyinggung sesuatu yang satir ?, entahlah.

Caleb adalah mata bagi penonton, dia adalah perantara, kasarnya. Dengan Caleb sebagai point of view, Ex Machina adalah studi karakter. Ketika ia bersama Ava, arahannya lebih pada drama emosional nan empatis, intim dan kadang-kadang mendebarkan. Bersama Nathan, bawaannya lebih ringan, adegan konversasi kasual filosofis dengan background pemandangan yang hijau dan segar, menunjukkan sisi lain latar film, outdoor yang menawan. Sambil sesekali keduanya agak mabuk (Nathan lebih sering untuk hal ini).

Bottom line, kekuatan sekunder terbaring pada visual effect-nya. Esensi penggunaan yang berbeda dari biasa, Ex Machina menggunakan kekuatan visual effect-nya untuk ‘bercerita’ daripada showoff. Bukan untuk bahan heboh-heboh an, bukan untuk menciptakan ledakan artifisial, menciptakan pesawat CGI dan sebagainya. Ex Machina menggunakan effect untuk melapisi desain Ava sebagai robot dengan tubuh tembus pandang. Menurutku ini adalah definisi tepat guna dan salah sat alasan mengapa Ex Machina mampu menyabet Academy Awards : Achievement in Visual Effect mengalahkan film blockbuster sekaliber Mad Max : Fury Road hingga Star Wars : The Force Awakens.

Kau tidak menonton Ex Machina untuk fun, ini adalah tontonan sambil berpikir. Biarkan film ini meresap padamu. Dan jika kau sudah terhuyung masuk pada ceritanya, ending-nya tidak bisa lebih provokatif lagi. Film ini kejam dan lebih menakutkan dari yang kau kirakan.

Backup_of_re2

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick