Review – Dunkirk (2017)

5

Dunkirk adalah edisi khusus, karena Nolan masih bercerita lewat ritme alur yang rumit dan menanamkannya pada atmosfir perang. Hasilnya adalah dongeng humanis, menawan diantara muka-muka lelah berjuang dari para tentara.

Skrip dengan tujuh-puluh-enam halaman, atau setengah lebih sedikit dari biasanya, Dunkirk menjadi garapan Christopher Nolan dengan tebal skenario paling pendek dan menjadi film dengan durasi tercepat sejak Following pada 1998 lalu. Seperti menggoda para penggemarnya, Nolan sempat menunda proyek ini saking butuh persiapannya, dan bahkan sempat bilang bahwa film perang pertamanya ini bukanlah tentang ‘perang’, lantas apa ?. Jawabannya justru terduga dan tak terduga, Nolan being Nolan sekali lagi, Dunkirk adalah war movie yang experimental, inventif dengan narasi mengagumkan layaknya trademark gaya penceritaan Nolan : bermain dengan timeline dimana waktu sangat relatif, detil emosional yang dibangun dengan baik tanpa terlalu sentimentil. Dunkirk adalah gubahan fiksi tak terbayangkan Nolan tentang peristiwa ditengah World War II di pesisir Dunkirk, Perancis, ketika dengan ajaib, Inggris berhasil memulangkan 338.000 pasukan yang awalnya, dengan pesimis, Perdana Menteri Churchill hanya berharap setidaknya 35.000 tentara bisa dibawa pulang.

Saat itu, Jerman hampir mengakuisisi seluruh daratan Eropa, Perancis dan sekutu Inggris terdesak, mereka dipukul menuju ujung daratan, memadatkan para tentara sebagai ganyangan rudal-rudal yang jatuh melalui pesawat tempur Jerman. Kawanan tentara Inggris menunggu nasib, berbaris memanjang berbanjar-banjar menunggu kapal yang menjemput untuk pulang bergantian. Saat itu pula, hanya Tuhan yang tahu apakah mereka akan sampai rumah dengan selamat. Narasi chapter-like dipersembahkan Nolan dengan menggambarkan mimik kondisi perang dalam tiga medan yang seluruhnya relatif, pertama adalah cerita satu minggu prajurit muda di daratan pantai yang menunggu kapal laut menjemput tubuhnya sembari bertahan hidup, kedua adalah seorang sipil senior yang menekatkan diri bersama sang anak untuk membawa boat miliknya menuju lautan Dunkirk, untuk memulangkan tentara sembari menyelamatkan siapapun yang mereka temui selama perjalanan satu hari. Ketiga adalah tentang tiga pilot Spifire -armada udara milik Inggris yang melakukan tugas memburu pesawat Jerman dengan mengudara membawa bahan bakar untuk penerbangan selama satu jam.

The Mole ; The Sea ; The Air, menjadi kisah tiga perspektif yang nantinya akan merged menjadi satu benang merah. Masing-masingnya menjadi sesuatu yang kohesif dan menjadi alasan mengapa Dunkirk adalah film dengan suasana perang yang komprehensif. Film ini mengalami puncaknya pada menit-menit akhir, melebihi apapun, resolusi getir nan membahagiaan mengungkapkan bahwa Tuhan bersama orang-orang yang tak menyerah.

The Mole memaparkan wajah perang yang paling luas, Nolan mendeskripsikan hal-hal yang sering terlewat ketika kita mendiskusikan film perang : mengubur teman, menandu tentara lain terbirit-birit karena kapal penolong akan segera berangkat lagi. Diantara ramainya antrian diatas tanggul menuju kapal penjemput selanjutnya, sebagian tentara berlari-lari, sebagian duduk melihat ombak, atau menyaksikan tentara yang sudah depresi dan gila masuk menenggelamkan diri didalamnya. Sesekali misil terjun, mereka menahan topi erat-erat menunduk dan tiarap. Beberapa terlontar, beberapa baik-baik saja, menunggu dalam ketakutan, mereka berbagi air tanpa bicara.

Cerita The Sea datang dari utara, adalah Mr.Dawson (diperankan oleh Mark Rylance) yang diminta angkatan laut untuk meminjamkan kapalnya untuk proses evakuasi di Dunkirk, justru berangkat sendiri, bersama anaknya Peter dan kawan sang anak, George. Perjalanan laut mereka memekarkan perasaan akan kemanusiaan dan kesediaan, kegigihan menyusur ombak dibawah seru-seru pesawat tempur, mereka tidak memutar setir. Hasilnya, tidak hanya satu atau dua nyawa yang berhasil mereka bawa pulang, kisah penjemputan mereka memegang kendali besar terhadap proses bergeraknya cerita milik Nolan. Mereka merepresentasikan hangatnya dekapan Tanah Air, merengkuh dan menghargai para tentaranya.

The Air menjadi bagian paling intens, porsi action-nya penuh dan ditumpahkan pada sosok Tom Hardy, aktor langganan untuk hal-hal berbahaya ini memerankan salah satu pilot Spitfire, Farrier. Di angkasa semuanya bisa terjadi begitu cepat, tentang menang dan kalah, menembaki dan menghindar, menjatuhkan atau jatuh. Ditengah kepasrahan terbatasnya gasoline dan meter bahan bakar yang sedang rusak, Farrier bergerak strategis menghajar musuh.

Tidak terlalu ada darah, atau gambar peluru yang menembus kulit, seperti kata Mr.Dawson, pistol tak bisa melakukan apa-apa pada saat itu untuk melawan pesawat atau kapal laut. Dunkirk adalah film survival daripada war, dengan seni didalamnya, ini adalah cerita panjang tentang proses evakuasi, bahkan tidak benar-benar ada sosok Jerman disini. Nolan berhasil membuat gambar-gambarnya berbicara lebih banyak daripada dialog pada kali ini. Minim dan efektif, jika bukan arahan tentang instruksi, maka beberapa suara hanya muncul dari mulut Komandan Angkatan Laut pemberani Inggris, Komandan Bolton (diperankan oleh Kenneth Branagh) yang berdiskusi tentang rencana dan peluang bertahan dibelakangnya.

Rangkaian filmnya seperti ombak yang perlahan-lahan semakin naik, secara teratur dan lalu turun, beberapa saat kemudian mulai naik lagi. Ditopang kuat dengan permainan thrill yang dilagukan Hans Zimmer, membantu mengekspos drama enggan berhenti. Scoring yang menakjubkan, harrowing sounds yang terdengar mengejar dan semakin nyaring, tambah besar dan tinggi. Memang betul, perang adalah kewaspadaan, tak pernah ada jaminan kau aman. Walau sepertinya kau baik-baik saja dan tertawa, beberapa detik kemudian bencana lain bisa timbul. Semua proses ini membuat orang-orang tak keberatan berbaur dengan orang yang tak dikenal, sebaliknya pula memalingkan diri dari teman jika keadaan memang sudah mendesak. Setidaknya, di film ini, Nolan menyayangi eksistensi nyawa dengan lebih baik.

Dunkirk mengakhiri babak pertama tahun 2017, tapi namanya sudah pasti menjadi frontrunner penghargaan bergengsi jenis apapun. Unggul dalam berbagai aspek, dengan produksi sebagai kasatnya. Masih berkolaborasi dengan sinematografer Hoyte Van Hoytema, seluruh pengambilan gambar terasa menggugah perasaan, tentang bagaimana filmnya sendiri yang well-crafted dan well-produced. Latar belakang yang sering ditembak secara wide, memungkinkan penontonnya untuk menghayati paparan pantai dan juga bentangan laut yang terasa kecil dan detil dari atas. 62 Kapal, pesawat-pesawat asli dan sekitar 1500 figuran diterjunkan karena Nolan membenci CGI, kamera-kamera yang terpasang di bagian sayap pesawat, hingga persembahan adegan-adegan sama persis yang diungkapkan kembali lewat narasi Point on View yang menjadi titik spesial. Dunkirk dibuat dengan berhati-hati, presisi dan effort yang bagus.

Christopher Nolan akan segera diagungkan lagi oleh para penggemarnya, memang benar, ia seorang genius mastermind. Tak menyangka bahwa bisa saja ia mengemas film perang seperti itu ; realistis dan smart. Banyak momen yang terus terang membuatku terpaku, dan literally breathless, memaksa untuk menyandarkan tubuh kebelakang sandaran kursi sebagai klimaks dari scene-scene tegang. Seperti ayalnya film Nolan, Dunkirk-pun menunjukkan nurani, kali ini bukan Kota Gotham atau Planet Bumi yang terancam punah yang harus diselamatkan, tetapi satu negara, dipresentasikan lewat ribuan nyawa dengan patriotisme yang kental. Bukan tentang membunuh, Dunkirk adalah tentang menyelamatkan yang lain, satu tindakan bisa berpengaruh besar bagi yang lain, individu bahkan massal. Berbicara usahanya mengusung alkisah tentang human connection dan human spirit, film ini adalah gelombang dahsyat nan efektif.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick