Review – Dirty Rotten Scoundrels (1988)

4

Pintar nan menggelitik. Jika kau mencari film komedi, maka Dirty Rotten Scoundrels akan terasa cerdas. Jika kau mencari film yang mind-tricky, film ini akan terasa lucu.

Now You See Me, mungkin adalah perumpamaan paling kekinian untuk tipe cerita yang ditawarkan Dirty Rotten Scoundrels. Bukan sulap-sihirnya yang kumaksudkan, tapi tentang tema film yang antar karakternya saling tipu-menipu, membodohi yang lain, atau bahkan mengambil keuntungan dari yang lain. Genre tipe ini sudah umum, kau tinggal menuliskan ‘Con Artist Movies’ di Google dan disana, Dirty Rotten Scoundrels menjadi rekomendasi.

Dan ini jauh lebih baik dari Now You See Me. Film ini tak butuh efek visual yang tak masuk akal untuk membodohi tiap-tiap karakter didalamnya.

Dirty Rotten Scoundrels seperti melalui penempaan skenario yang rapi dan terstruktur, skenario con yang sangat orisinil mengingatkanku akan film Nine Queens (2009), namun Dirty Rotten Scoundrels lebih bertabur hiasan setting mewah, vila-vila besar, kolam renang dan setelan jas. Dikombinasikan dengan keberadaan Steve Martin sang pelawak dan Michael Caine yang sealu terlihat cerdas, akhirnya Dirty Rotten Scoundrels terbaur matang menjadi Clever Comedy.

Bercerita tentang con-artist ulung Lawrence Jamieson (Michael Caine) sang playboy kaya raya yang tidak sengaja bertemu dengan Freddy Benson (Steve Martin) di Kereta Api menuju Beaumont-sur-Mer, salah satu titik di Perancis. Lawrence menyadari bahwa Freddy juga merupakan tukang tipu yang selalu memeras seseorang dengan mengatakan bahwa ia membutuhkan uang untuk mengurusi neneknya yang harus mengalami operasi. Entah kenapa Lawrence tidak suka tabiatnya, penasaran dan mencoba menjegal tingkahnya, yang pada akhirnya berhasil dan Freddy terjebloskan ke penjara karena ketahuan menipu. Freddy meminta tolong Lawrence untuk mengeluarkannya dari penjara, namun Lawrence mengatakan bahwa harus ada uang untuk melicinkannya keluar darisana, Freddy mengiyakan, dan Lawrence sang penipu ulung berhasil membodohi Freddy si amatir bengal. Namun tidak lama setelah itu, Freddy mengetahui bahwa Lawrence juga mendalami profesinya dengan membodohi wanita-wanita kaya yang tidak jarang percaya bahwa Lawrence merupakan keturunan kerajaan yang sedang memiliki masalah. Freddy mengancam akan membeberkan kebohongan Lawrence, dengan syarat Lawrence harus mau menjadikan Freddy murid privatnya dalam dunia seni con-artist.

Film ini dipenuhi banyak fase kegilaan, bentuk-bentuk komedi yang selalu berubah dan segar, unsur nan usaha dalam menghibur penonton sangat kental. Lawrence dan Freddy bergantian menjadi perhatian dengan menunjukkan kualitas masing-masing sebagai seorang scoundrel. Babak tengah film ini adalah pertunjukkan akan rivalitas. Mereka berkompetisi untuk siapa yang paling cepat mengocek uang seorang heiress soap lady kaya dengan cuma-cuma dan yang kalah harus angkat kaki dari Beaumont. Freddy bersusah payah menjadi navy yang cacat lalu Lawrence adalah seorang Dokter spesialis, dan keduanya sama-sama gadungan !.

Alih-alih mendapat seorang sosok protagonis, Frank Oz menjadikan kedua tokoh sentralnya sebagai individu ala anti-hero. Porsi keduanya berimbang, turnover yang berkali-kali,  two-man show yang brilian. Judul film ini secara literal begitu mendarah dalam karakter Caine dan Martin, mereka sungguh bajingan kotor dan busuk, The Dirty Rotten Scoundrels.

Hampir 30 tahun film ini telah ada, memang bukan motion picture terbaik bagi Steve Martin atau Michael Caine, tetapi Dirty Rotten Scoundrels adalah fine work milik Frank Oz diluar karya-karya Star Wars yang lebih sering dikenal sebagai familiar work-nya. Selama tiga dekade itu, aku masih belum pernah mencicipi film-film komedi serupa, atau mungkin karena memang sulit ditiru. Ditambah ending twist dan epilog yang ‘melegakan’. Mungkin kau akhirnya akan memihak kedua penipu ini.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick