Review – Deadpool (2016)

4

Penantian dan persiapan panjang Ryan Reynolds  menebus semuanya. Deadpool mengabadikan tokoh kelas baru yang karismatik walaupun kadang dungu, gemulai dan terlalu kejam.

re dedpool

Ketika Wade Wilson alias Deadpool sedikit lagi menebas leher salah satu dari banyak tentara bayaran musuhnya, tiba-tiba ia berhenti dan memincingkan matanya, “Bob ?”. Lalu dengan cepat sang tentara membalas, “Wade ?”. Well, ini adalah satu dari sekian banyak momen dimana aku merasa Deadpool memiliki selera humor yang bagus.

Film baru superhero Marvel, Deadpool, sebenarnya tidak juga tentang hero, oke dia super, tapi kelakuannya tidak menunjukkan role model seorang pahlawan. Atau sepertinya, film versi Tim Miller ini sengaja tidak menyuguhkan sisi cerita dimana Deadpool harus memberantas penjahat dan menyelamatkan kota ini itu dan sebagainya. Dan karena aku bukan penggemar komik, juga bukan Marvel fanboy, itu sama sekali tidak masalah. Alih-alih, di film ini, Deadpool akan sibuk untuk minding his own personal business. Ah, lagipula sepertinya Miller memang ingin mengundang various critics dengan komposisi cerita sederhana dan lebih heboh untuk memperlihatkan kapabilitas film dalam membuat onar.

Dan Deadpool pantas mendapatkan label sinting, kau tahu marketingnya dulu juga satu yang paling memicu : advertising dengan poster berupa emoji hingga merilis red band trailer. Masih ingat ketika film ini mempromosikan diri sebagai film sempurna untuk hari valentine ?, mungkin benar sempurna, untuk pasangan gila. Agaknya sangat bangga dengan Rating R-nya, Deadpool menyempurnakan diri dengan unsur violence yang dibarengi suasana riang, nudity ekspresif yang tak akan aku temui di film pahlawan manapun juga kata-kata kasar nan keji sebagai senjata utamanya. Tapi tenang, lisensi R-Rated pun membantu film ini dalam mengembangkan leluconnya dan begitu memberi identitas film yang khas dan nyentrik. Tidak cocok untuk anak-anak.

Narasinya hidup dengan dikendalikan langsung oleh Wade Wilson (Ryan Reynolds) lewat seni fourth-wall dimana Wade seringkali berbicara langsung dengan penonton seperti narrator bagi kisahnya sendiri. Bahkan juga berkomentar tentang filmnya sendiri. Setidaknya Deadpool memberi pesan bahwa ia tak seserius itu, dan aku semacam merasa ia juga mengharapkan penontonnya untuk tidak menganggap ini serius.

Alasannya ada banyak, satu yang paling terlihat adalah ketika Rhett Reese dan Paul Wenick (para penulis naskah) memberikan dagelan level baru yang berbeda dalam merangkai dialog. Lelucon Deadpool dipenuhi punchline yang kadang childish dan kadang filthy. Hampir semuanya oleh Wade Wilson sendiri dan memang, film ini lebih verbal dari yang kukira. Kata-kata asal jeplak yang menguntit dari film-film blockbuster, seperti penyebutan nama Agen Smith (Matrix), 127 hours dan lain-lain yang selebihnya digunakan untuk bahan mock atau ejekan langsung-tak langsung : Green Lantern hingga Taken jadi korbannya. Bahkan bagi universe-nya sendiri dengan menyinggung timeline yang serba membingungkan dari franchise X-Men ketika Colussus mengajaknya menemui professor Xavier. “McAvoy atau Stewart ?”, katanya. Dan kurasa terobosan jokes yang menyinggung konteks real-life ini patut dihargai, karena sama-sama mengena dan berani.

Mengenai cerita, akan mengecewakan jika kau terlalu berharap pada plot yang kompleks nan rumit. Deadpool adalah tentang dua hal : kisah cinta Wade Wilson dan pasangannya, Vanessa (Morena Baccarin) yang serba melankolis dan cliche walaupun nakal. Dan juga pencarian Deadpool kepada Francis/Ajax (Ed Skrein), musuh lamanya untuk misi revenge (sebenarnya lebih kepada misi dalam mengejar harapan konyol) yang tidak lebih karena urusan ganti rugi wajah buruk rupa Wade. Semuanya diceritakan lewat alur non-linier mengasyikkan yang sekali lagi dibawakan oleh narasi Ryan Reynolds sendiri untuk mendalami backstory karakternya.

Bicara teknis dan fight scene adalah satu yang paling bisa kau gantungkan. Atraksi berdarah bertebaran, fast-moving namun kadang-kadang tersaji dalam slow motion yang terkesan pamer, dan tetap disisipi adegan naif dari para karakternya. Dan karena Deadpool dan Ajax sama-sama merupakan mutan dengan kekuatan pemulihan super cepat, adegan perkelahiannya juga bertambah seru karena letupan tembakan tepat sasaran saja tidak akan cukup. Dibumbui karakter lain, Deadpool komplit dengan empat wingman-nya. Ya empat !, dua adalah si manusia besi Colussus (Stefan Kapicic) dan Negasonic (Brianna Hildebrand) sebagai superhuman allies dari liga X-Men, mengenal Wade sebagai Deadpool. Dan dua lainnya adalah teman dalam arti sesungguhnya, Weasel si bartender tempat nongkrong para mercenary (tukang pukul, pekerjaan Wade sebelum jadi mutan) dan the blind lady yang rumahnya jadi tempat Wade mengasingkan diri. Lagi-lagi dengan karakterisasi yang unik namun like-able dan juga sangat loyal pada Wade.

Tidak sulit untuk mengatakan film ini bagus, Tim Miller dan Ryan Reynolds yang membawakan Deadpool dengan sentuhan yang mbanyol ini, merupakan salah satu popcorn movie favorit. Aku agak ragu ketika melihat opening creditnya yang kelewatan naif dengan menyebutkan nama alias yang subjektif daripada nama asli para kru filmnya, tapi ternyata Deadpool memang didesain seperti itu. Agak dialogue-driven dan Deadpool adalah hyper-chatter, sepertinya ia harus berbicara untuk setiap gerakan badannya, tetapi tak kuatir karena Reese/Wernick memiliki kuantitas naskah dengan line yang bekerja padaku. Bergerak dengan cepat dan tak terlalu ambil pusing, Deadpool sesungguhnya lebih terdefinisi sebagai stylished fun-ride disempurnakan oleh perwatakan sang antihero yang sama-sama kekanakan (ranselnya bergambar Hello Kitty !), annoying, bodoh, super-funny dan super-cool. Believe me, this guy is amusing.

Jangan lupa ada post credit tentang Deadpool yang memberikan sedikit spoiler dan nasehat tentang jangan tinggalkan sampahmu di kursi bioskop !.

 

Engineering student but movies way more than manufactures