Review – Dark: Season 1 (2017)

4

Dark memberikan presentasi memuaskan dari konsep menantang premisnya: Bagaimana jika memang masa depan juga bisa mempengaruhi masa lalu?.

Dark baru-baru ini menjadi buah bibir dan pilihan terkini bagi penikmat layanan streaming Netflix. Mungkin akibat ending season 2 nya yang entah katanya bombastis tahun lalu, penggemar mulai berdatangan berkunjung mencicipi serial yang notabene sudah mengudara pertama kali sejak 3 tahun lalu ini. Lewat polling, Rottentomatoes memajang judul serial asal Jerman ini sebagai most favorite by fans mengalahkan nama yang mungkin lebih familiar seperti Peaky Blinders hingga Stranger Things.

Padahal secara tematik, Dark memiliki bungkus yang bisa dibilang paling tidak easy watch ketimbang judul-judul seperti Sex Education yang punya vibe kuat untuk nyenyak dinikmati dirumah sambil tiduran. Sedangkan Dark, hmm bagaimana menjelaskannya, Dark secara pendek adalah serial Sci-fi time-travel, namun kau tidak akan begitu saja menjelaskan Dark pada orang lain jika mereka menanyakan tentang apakah serial ini. Menyebutnya sebagai sci-fi atau time-travel adalah understatement, serialnya lebih njelimet, lebih menarik dan mengemban segala kompleksitas kemisteriusan yang mungkin sangat jarang dijumpai dalam topik time-travel.

Sutradara Baran bo Odar (juga merupakan sutradara film Jerman Who Am I, yang juga mengusung kesan mindblown (kau wajib menontonnya jika belum pernah), membawa kita ke kota kecil bertepi hutan di Winden, Jerman, pada tahun 2019. Kota ini lumayan tenang, dengan mayoritas warganya terhidupi oleh adanya plant Nuklir yang berdiri kokoh diujung. Tiba-tiba, ketenangan itu menjadi gaduh tak karuan ketika secara bergiliran, 3 anak dilaporkan hilang tanpa jejak.

Ditengah intensitas misterinya, bo Odar merumitkan situasi dengan mengecamukkan perasaan antar karakternya. Warga resah dan memojokkan polisi setempat. Beberapa pihak yakin ini terkait dengan penculikan, namun beberapa yang lain meyakini ini adalah fenomena ‘lari dari rumah’.

Kita diperkenalkan dengan beberapa keluarga: Keluarga Nielsen (Ulrich, Katharina, Magnus, Martha dan Mikkel), dengan Ulrich sang ayah kepala kantor polisi, dan Katharina sang Ibu sang kepala sekolah setempat. Keluarga Doppler (Peter, Charlotte, Franziska, Elisabeth), dengan Charlotte sang Ibu merupakan anak buah utama Ulrich. Keluarga Tiedemann (Aleksander, Regina, Bartosz), dengan sang Ayah Aleksander sebagai kepala plant Nuklir dan Regina sebagai pemilik salah satu Hotel di Winden. Dan keluarga Kahnwald (Michael, Hannah, Jonas), dengan Jonas sang anak, sebagai gambaran umum lakon utama kita.

Bapak-Ibu keluarga-keluarga ini, sekaligus anak-anak mereka, berhubungan satu sama lain. Kolega, tetangga, teman kelas, hingga pacar dan selingkuhan. Beberapa berhubungan baik, beberapa tidak. Mereka punya cerita mereka sendiri. Situasi saat ini membuat mereka bertindak melewati batas mereka, dan dengan itu bo Odar memberikan perubahan interpreasi hubungan dan perasaan yang signifikan antara tiap-tiap tokohnya. Drama dimulai.

Musim pertama serial ini berjalan dengan lambat namun mencengkeram. Dark memberikan kejutan baru melalui ide perpindahan waktu-nya. Serialnya dibuka oleh suara narrator yang bercerita mengenai sifat waktu, yang non-linier, dimana tidak hanya masa lalu bisa mempengaruhi masa depan, namun masa depan juga bisa mempengaruhi masa lalu. Kemarin, hari ini dan besok tidaklah konsekutif. Dan bahwa ini semua terhubung secara eternal, selamanya. Mendengar narasi itu, awalnya aku berpikir idenya terdengar naif dan over-the-top. Namun setelah 10 episode di season ini, aku cukup terkesan karena Dark mampu memberikan presentasi yang amat menjelaskan dengan baik nan tepat premis yang dia maksud.

Harus diakui, cara Dark menunjukkan poin mereka dalam mendefinisikan paradox ‘chicken or egg’ sangat on point. Analogi sempurna mengenai kausalitas alias sebab-akibat. Perbedaan Dark dengan film-film time travel lain adalah di Dark, seseorang tidak pergi ke masa lalu untuk berkunjung atau merubah masa depan, mereka memang ditakdirkan untuk mempengaruhinya, agar masa depan terbentuk persis sebagaimana ia sekarang.

Di beberapa film time-travel seperti Looper atau Men in Black 3, tokohnya kembali ke masa lalu untuk merubahnya dan menciptakan semacam alternate reality. Namun tidak ada istilah semacam alternate reality di Dark, so far. Jika seseorang pergi ke masa lalu, yah itu merupakan bagian dari realitas yang ada yang telah ada hingga sekarang.

Rumit memang, namun keseluruhan season 1 Dark sebenarnya belum bisa disebut cukup ‘membuka’. Aku yakin masih banyak penjelasan mengenai konsep-konsep sci-fi yang belum diutarakan. Bo Odar agaknya masih fokus untuk memastikan penontonnya memahami dulu hubungan relasi, pohon keluarga dari para karakter-karakternya. Kita sudah tahu ada yang tidak beres dan bagaimana serialnya mulai membentuk keberpihakan, tapi kita belum benar-benar bisa menyebut konfliknya sudah jelas. Hampir seluruh karakternya berada di area abu-abu, mungkin ada beberapa kepala yang sudah jelas apakah mereka dipihak baik atau buruk. Tapi sekali lagi, misteri tentang waktu di serial ini seperti baru dibuka kulitnya sedikit saja, kita hanya sebatas mengerti berpindah melalui dimensi waktu itu mungkin, tentang bagaimana dan mengapa-nya masih tidak jelas. Tentang siapa salah, siapa benar, terlalu dini bisa disimpulkan.

Namun setidaknya Dark memang didesain terselesaikan dalam 3 Season. Artinya, alih-alih memalingkan serialnya ke set konflik baru dan suasana baru (seperti umumnya serial TV), mereka membuat ketiganya membahas urusan yang sama. Ini membuat season 2 mendapatkan momentum yang sangat bagus akibat build-up dari season pertamanya, karena hype-nya baru saja dimulai. Dugaanku season 2 akan membuka semua misteri mengenai apa yang terjadi, dan di season 3 kita baru mulai pada resolusinya. Dan jika memang bo Odar merencanakan struktur penceritaan seperti itu, aku akan menyimpulkan bahwa season 1 ini, adalah pendahuluan yang baik.

Dark memiliki tantangan, dia mengajak kita berpikir dan mengingat betul. Mungkin kau harus menonton ini lebih dari satu kali karena bo Odar tidak menggunakan gaya penceritaan flashback untuk menyambungkan adegan dengan petunjuk baru dengan adegan sebelumnya yang mungkin memiliki koneksi. Dan atas seluruh tantangan dalam menonton itu, aku sangat menyarankan Dark untuk segera kau tonton.

Spoiler Alert !

Mulai dari sini, aku akan mencoba mendiskusikan serial ini dengan menyinggung spoiler. Jika kau belum menontonnya, lebih baik hentikan. Namun jika sudah, aku ingin kau membacanya dan membagikan pendapatmu.


Oke, di Dark, ketika kau menggunakan pintu rahasia di dalam gua berlabirin itu, kau akan dipentalkan ke sebuah masa waktu berkelipatan 33 tahun kebelakang atau kedepan (mereka bilang itu adalah ketika formasi kosmos tertata dalam satu garis). Kita dapat melihat saat ini bahwa Mikkel Nielsen terjebak di tahun 1986, Ulrich pergi ke tahun 1953 untuk mencoba membunuh Helge Doppler yang menurut firasatnya merupakan penyebab hilangnya 3 anak dari tahun 2019. Jonas telah mempelajari bahwa Mikkel yang terjebak di tahun 1953 suatu saat akan menjadi ayahnya, dan menurut The Stranger alias dirinya dari masa depan, ia tidak boleh memberitahu Mikkel atau mengganggu kondisi itu karena itu akan merusak eksistensi mereka.

Highlight dari Season 1 salah satunya adalah garisbawah percakapan H.G. Tannhaus dengan Jonas dari masa depan tentang esensi siklus waktu di dalam semesta yang sudah terkunci dalam suatu paradoks itu. Mereka masih menggali apakah dengan demikian, artinya manusia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri?. Atau mungkin kebebasan sendiri itu tidak ada, karena kita sudah direncakan untuk melakukan hal-hal tertentu.

Kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya untuk menjawab itu. Namun yang kita ketahui dari season 1, usaha perubahan apapun yang kita lakukan di masa lalu untuk merubah masa depan justru merupakan sebab mengapa masa depan ialah seperti sekarang. Ulrich mencoba menghentikan Helge menculik anak-anak, tapi justru yang ia lakukan mengarahkan Helge pada takdir yang mempertemukan dia dengan Noah, alias orang yang menghasutnya untuk menculik anak-anak itu. Secara tidak langsung Ulrich-lah yang membuat anak-anak itu, in the first place.

Sama halnya ketika Helge tua pergi ke masa lalu untuk menghentikan Helge muda lewat tabrakan mobil, yang justru membuat Helge muda harus rawat inap di rumah sakit dan tidak bisa menghadiri panggilan interview Egon Tiedemann yang mungkin jika interview kejadian dilaksanakan, Helge akan memberitahu tentang Noah dan semua hal buruk dimasa depan akan teranulir darisana.

Inilah yang aku sebut bagaimana serial ini dengan baik menunjukkan bahwa keberadaan time travel sama sekali tidak mengganggu realitas yang sudah ada sebelumnya, alias tidak menciptakan sebuah alternate realiry. Kita pada akhirnya mempelajari bahwa ketika Ulrich pergi ke masa lalu, itu bukanlah karena kemerdekaannya dalam mencoba menghentikan ini semua. Dia memang harus pergi kesana. Pada akhirnya, Ulrich pergi ke tahun 1953 hanya untuk menunggu dirinya yang lain lahir, tumbuh, menjadi dewasa hingga rentang waktu 66 tahun kedepan di 2019 dan melihat dirinya yang lain itu melakukan hal yang sama persis dengan pergi ke tahun 1953 lagi. Ini adalah proses yang bersiklus selamanya (setidaknya itu yang kita tahu hingga season 1 ini). Tentang Ulrich yang mana yang memulainya, kita tak akan pernah tahu, karena itu merupakan bagian dari paradoksnya: Ulrich pasti akan pergi ke tahun 1953 dan membuat masa depan sebagaimana sekarang ini. Ini adalah loop tertutup. Tidak dimulai dan tidak selesai di titik tertentu.

Di season 1, kita bisa melihat bahwa Ulrich dan Jonas adalah pemain baru dalam permainan perlompatan waktu ini. Tapi kita mengerti bahwa beberapa tokoh telah berkecimpung dalam ilusi ini untuk waktu yang lama. Adalah Noah (belum diketahui origin-nya) dan Claudia Tiedemann (Ibu dari Regina Tiedemann). Setidaknya kita telah melihat mereka disemua lini masa: 1953, 1986 dan 2019, dan ada kemungkinan mereka telah menjamah titik masa yang lain. Tujuan mereka belum jelas namun sepertinya mereka beroposisi.

Objektif sementara yang kuketahui: Noah terus melakukan perekrutan demi kepentingan menculik anak dan menjadikan mereka kelinci percobaan, dan Claudia mencoba memberikan H.G. Tannhaus ide rancangan mesin waktu dari masa depan. Sedangkan Jonas dalam paradoksnya sendiri yang cukup menarik, telah menghancurkan keberadaan portal waktu yang dalam waktu yang sama, justru menciptakan eksistensinya sendiri.