Review – Colossal (2016)

2.5

Cerita orisinil memang bisa memikat, tapi menurutku jika kau tidak mau memikirkan tentang kemasuk-akalannya, maka sama saja,  Vigalondo !.

Walaupun simple, film ini memiliki ambisi sebesar namanya. Dramedy skala kecil lebih tepatnya, dieksekusi dengan kemerdekaan penuh dan mengundang mixed reactions dengan kecondongan kearah yang baik, Colossal adalah batu loncatan yang lumayan bagi seseorang yang baru kali ini kudengar namanya, spanish filmmaker Nacho Vigalondo.

Orang-orang mengatakan bahwa ceritanya terasa orisinil, penceritaan yang jujur dan dialog-dialog kasual namun dalam. Aku sepakat, kecuali jika harus menyimpulkan bahwa keseluruhan filmnya memuaskan. Cerita orisinil memang bisa memikat, tapi menurutku jika kau tidak mau memikirkan tentang kemasuk-akalannya, maka sama saja.

Seperti monster-movie Pacific Rim atau Godzilla, Colossal menawarkan perkelahian antar monster yang juga berbau asia. Tapi jika biasanya eksistensi drama hanyalah balutan bagi ikon-ikon para monster sebagai sentral kisah utama, di Colossal sebaliknya, monster-monster ini hanyalah narasi kecil daripada kisah utama, self-destructive girl bernama Gloria, yang diperankan ciamik oleh Anne Hathaway.

Singkat cerita, Gloria baru saja diputuskan oleh pacarnya, Tim (Dan Stevens), memaksanya harus pulang kampung ke rumah masa kecilnya, yang telah lama kosong. Bangkrut tapi bernasib masih agak beruntung, Gloria bertemu teman lama, Oscar (Jason Suidekis), berbaik hati mengantarnya berkunjung ke sebuah bar miliknya. Tidak lama, Oscar menawari Gloria untuk menjadi bartender, sebagai gestur menolong nasib pengangguran Gloria. Oscar juga memberikannya beberapa perabotan-perabotan untuk diletakkan di rumah Gloria.

Hidup normal mulai dibangung kembali oleh Gloria, beruntung ia punya orang-orang baik seperti Oscar, dan dua temannya, Joel dan Garth. Walaupun ini lebih baik, tapi Gloria masih kerasukan hobi mabuk-mabukkan, menjadi tak terkontrol di pertengahan hari hingga sadar keesokan harinya. Ketika ia baru bangun dari sebuah tidur yang memulaskan, Gloria tersentak, ketika sebuah headlines internet menunjukkan berita mengejutkan, tentang serangan monster antah berantah, yang tiba-tiba muncul begitu saja di Kota Seoul, Korea Selatan, dan merusak beberapa bangunan. Segera, hal itu menjadi isu internasional, pasalnya hal aneh terjadi bersamaan, bahwa monster tersebut selalu muncul padajam yang sama, di titik yang sama, dan lalu tiba-tiba menghilang lagi. Gloria, yang saat itu sedang acuh tentang empatisme di Seoul, tiba-tiba merasakan, bahwa mungkin, semua hal tentang sang Monster tersebut : keberadaan dan tngkah laku yang ia lakukan, ada hubungannya dengan dirinya. Gloria merasa, bahwa monster tersebut adalah manifestasi tubuhnya sendiri, terkorespondensi dan terhubungkan oleh kekuatan supranatural.

Spoiler Alert (ah tidak juga), tentu saja benar. Ini adalah proses magis, Gloria dan monster kolosal itu ternyata saling membagi gerakan dan gerik yang sama. Pertanyaan yang harus dijawab Gloria kali ini adalah, mau kuapakan monster ini selanjutnya, dan bagaimana caranya aku mengatakan ini pada orang-orang.

Well, Colossal adalah comedy (atau dark comedy) yang eksentrik. Entah hitungannya termasuk Sci-fi atau fantasy, yang jelas Tuhan sedang iseng dengan membuat seluruh seluk-beluk skenario ini terjadi. Studi karakternya kuat, penuh dengan naik dan turun, hubungan antara Gloria dan Oscar bahkan juga sulit diinterpretasikan oleh penontonnya. Dan ketika Oscar tahu bahwa Gloria, secara gaib, adalah dalang dari sang monster di belahan bumi lainnya sana, entah bagaimana situasi justru berubah menjadi lebih runyam. Bukan maksudku mengartikan bahwa hal ini membuat filmnya lebih menarik, justru aku merasa perwatakan tokoh Vigalondo ini semakin tak jelas, terdisorientasi sehingga tak fokus. Jujur, aku tak bisa menarik kesimpulan tentang konflik psikologis antar karakternya. Apakah itu sebuah studi tentang acceptance atau rejection, bagiku ini semua kabur dan terlalu tersirat. Apakah Oscar sebenarnya orang yang baik ?, kupikir begitu awalnya, hingga aku sadar bahwa aku-pun tidak benar-benar tahu.

Disimpulkan dengan akhir yang sangat membuatku merasa terpicu. Colossal seperti digarap sesuka hati oleh Vigalondo, pokoknya asal dia suka. Hasilnya, nihil untuk urusan realisme, dan berakhir bagaikan meninggalkan banyak lubang di plot. Lantas, yang ingin disampaikan Vigalondo pun juga samar, lewat Gloria dia menunjukkan sisi kemanusiaan, empatisme terhadap apa yang terjadi di Seoul sana, ketika sebuah monster mengobrak-abrik sebagian kota. Tanpa sadar Vigalondo mungkin lupa, bahwa sendirinya hampir sama sekali tidak menceritakan -bahkan mengabaikan, bagian bumi lain dari narasinya tersebut.

Engineering student but movies way more than manufactures