Review – Coco (2017)

5

Terngiang sebagai sesuatu yang spesial, Coco memberikan pandangan baru yang signifikan akan kematian, dan seperti kehidupan, bahwa keduanya merupakan selebrasi.

Disney/Pixar kembali lagi dengan membawa diversifikasi tema yang menjalar, ras dan native sudah bukan jadi pembatas, setelah beberapa film seperti Moana tentang kisah orang-orang Polynesia, Big Hero 6 jika kita boleh sebut dia mempromosikan Jepang dan Asia, atau Brave dan How To Train Your Dragon yang mengenalkan kita pada Skotlandia dan Viking, sekarang Coco hadir dan menggema cukup menawan. Tapi aku akan melihatnya dari perspektif lain, dari kacamata Lee Unkrich sang sutradara, yang telah mengembangkan ide ini sejak 6 tahun silam, kekagumannya pada perayaan Dia De Muertos, dan seluruh riset yang ia lakukan bersama dengan co-director Adrian Molina, menjemput sebuah pengalaman yang ia tuangkan dalam film jagoan semua orang tahun ini : Coco menawarkan tema family-centered dengan musik dibarengi balutan kultur Meksiko yang luar biasa.

Kisahnya mengikuti kehidupan Migue(Anthony Gonzalez), bocah dua-belas-tahun berhati-jernih, bagian dari keluarga besar Rivera. Keluarga besar di kota kecil di Meksiko, Santa Cecilia, turun temurun mewarisi profesi sebagai pengrajin sepatu (dan juga kadang semir sepatu).Keluarga Rivera membenci musik, dulu sekali, musik telah merusak keseimbangan keluarganya. Kakek dari kakek Miguel (sebutannya Great-great grandfather) dulunya adalah musisi, namun ia merantau untuk mencari karir, meninggalkan istri dan gadis kecilnya, dan tak pernah kembali. Stigma benci musik mulai muncul, dan untuk bertahan hidup, ia mewariskan keterampilan membuat sepatu pada seluruh keturunannya sembari menegaskan hal : Hindari musik.

Dari kisah lama tentang sang guitarrón yang tak pernah kembali, sang anak gadis yang masih menunggu ayahnya pulang, sampai kini ia sangat tua, susah bicara dan mengalami degradasi fungsi indera, hanya bisa duduk terdiam di kamarnya setiap hari diurusi oleh anggota keluarganya. Gadis yang kini telah menjadi nenek tua ini bernama Coco, ibu dari nenek Miguel. Oke, paragraf ini kutulis untuk menjelaskan filosofi judul filmnya. Sekarang kita kembali ke Miguel, sebentar lagi Miguel sudah siap umur untuk bekerja di gudang membuat sepatu, namun musik memanggil hatinya, dan selama itu, ia diam-diam mengasahkan dirinya dalam permainan gitar yang ia simpan dan mainkan sesekali diatas loteng rumahnya, penuh dengan foto-foto sang idola yang ngetop beberapa puluh tahun lalu, Ernesto De La Cruz (personanya diperankan dalam lamunan Miguel oleh Benjamin Bratt).

Unkrich memanggil gemericik ansambel Mariachi yang terdengar dalam kumpulan nada-nada tradisional musik folks Meksiko dan mengembangkannya menjadi beberapa lagu yang dibuat khusus untuk filmnya (musik dan lirik oleh kolaborasi Kristen Anderson Lopez, Robert Lopez, Germaine Franco dan Adrian Molina)  , dan apparently menjadi favorit dan diputar kembali oleh penontonnya ketika sampai dirumah (tentu saja ini aku). Bahkan di Youtube, beberapa soundtrack pilihan Coco diunggah oleh kanal resmi dalam dua bahasa : Inggris dan Meksiko.

Begitu indahnya sisi musikalitas Coco, Unkrich mencoba melahirkan konflik dengan membenturkan eksistensinya terhadap nilai kekeluargaan yang utuh. Miguel, pada suatu titik, membenci tabiat keluarganya itu,kabur dari rumah, dan tiba-tiba masuk dan terjebak ke alam lain dimana para arwah hidup, Land of the Dead, kisah Miguel berlanjut pada pertemuannya dengan para keluarganya yang sudah meninggal, his very ancestors. Hukumnya adalah, jika kau tidak segera berusaha keluar dari sana maka jasadmu akan terkurung selamanya di dunia arwah, dan merubah kulitmu menjadi tulang belulang saja, tulang yang hidup, tinggal di dunia fantasi dengan rumah-rumah penuh warna, binatang-binatang dengan perpaduan warna kontras, rumah dan gedung yang tersusun seperti bukit tak terhingga dan kehidupan yang tampak lebih sophisticated daripada alam sebelumnya ; mungkin seperti itulah Unkrich menggambarkan Land of the Dead versinya. Miguel tentu harus segera pergi dari sana, namun nyatanya tidak semudah itu.

And what a concept that is !. Coco lebih merupakan suatu introduksi kepada suatu budaya, dan bagaimana ia memvisualisasikan kegaiban suatu kepercayaan sehingga ia mudah dimengerti bagi siapa saja yang tidak umum dengan Dias De Muertos. Relevansinya pun kuat, unsur ofrendas, altar pribadi yang disusun membukit dengan lilin, kembang dan juga yang paling utama, bunga Marigold dan foto-foto anggota keluarga terkasih yang kini telah berpulang. Unkrich menjelaskan dengan rasional bagaimana mengingat dan mendoakan orang-orang yang mati akan memberikan kekuatan dan kelancaran bagi para arwah, dan Unkrich menggambarkannya sebagai ‘aksesibilitas’ pada visualisasi karangannya. Wow, bagaimana filmnya merepresentasikan budaya yang sudah ada untuk diterapkan dieksekusi dengan begitu mendetil, tak ayal Coco dengan instan menjadi famous hit di Guatemala dan sekitarnya, secara nasional menjadi highest-grossing film melewati The Avengers (2012). Coco adalah tribute bagi Meksiko, dan seluruh kultur teremban yang ada, ia kaya dan kompleks dalam pengusungan tema. Lalu strategi bilingual (inggris dan spanyol) pada tiap-tiap dialog yang membuatnya khas namun tetap universal. Ini hebat.

Disamping konsepnya, omong-omong alurnya juga penuh dengan twist dan kehangatan yang pas di hati. Setiap kali, Coco menghadirkan momen yang menjawab suatu pertanyaan, mengungkap misteri secara perlahan. Dengan bantuan Hector (Gael Garcia Bernar), tengkorak penduduk asli land of the dead yang juga sedang butuh bantuan, Miguel menyepakati bargain yang akan membuat Hector membantunya untuk mencari great-great grandfather-nya di negeri dimana para moyang hidup, ini adalah perjalanan untuk justifikasi, seperti narasi paling awal, Miguel ingin mencari kebenaran kenapa leluhur sang musisi legenda itu tidak pernah kembali pulang kepada keluarganya.

Konsep Coco mengingatkanku pada Inside Out, menenggelamkan penonton pada dua dunia yang sejatinya sinkron, hingga Up ketika melihat Miguel berbagi petualangan dengan Dante, si anjing sekaligus sidekick-nya. Iya, dari banyak tulisan yang kubaca, Coco memang membayar beberapa homage pada beberapa karya yang sudah ada : The Dancing Skeletons, hingga tarian a la film musikal oleh Miguel di gang kecil yang direferensikan pada adegan The Wizard of Oz, jangan lupakan cameo Buzz Lightyear dan Woody. Bagi yang sudah fasih dengan gaya penceritaan Pixar, mungkin kejutan cerita yang diberikan masih cukup terlihat, namun tetap memesona : Kita sepakat bahwa Coco adalah one of finest classic.

Di akhir adalah rekonsiliasi yang heartwarming dan akan membuatmu tersedu, ini adalah akhir bahagia dan membahagiakan pula, dengan kesan kuat terhadap lagu paling hit Ernesto De La Cruz, “Remember Me”. Keluarga adalah keniscayaan, dan kita saling menguatkan dengan saling menjaga hubungan batin lewat mengingat dan membisikkan doa. Coco menggarisbawahi suatu hal yang menurutku begitu keren untuk dikatakan, jika anggapan umum menyatakan bahwa kematian bagaikan batas tak terelakkan bagi kita semua untuk berbaur seutuh dahulu, kini justru dianulir oleh film ini, kematian hanyalah transisi dari yang kasat menjadi tidak, dan lebih jauh lagi, ia memandangnya dengan optimisme dan kepositifan : Tidak peduli hidup atau mati, sampai kapanpun, Keluarga adalah keluarga, utuh selamanya.