Review – Cek Toko Sebelah (2016)

3.5

Kesediaan film ini untuk mengantarkan arah cerita yang betul-betul diinginkan penontonnya adalah alasan mengapa filmnya terasa pas dan mudah diterima.

Fine, fine film dari Ernest Prakasa yang sepertinya mau belajar banyak tentang bagaimana film harus naik turun dalam emosi. Entah karena jam terbangnya semakin terasah setelah Ngenest yang muncul setahun sebelumnya, Cek Toko Sebelah harus diakui begitu mantap memberikan kesan.

Naskah dengan kedalaman materi yang baik, dengan komposisi karakter dan komedi yang mencerminkan diversitas. Di sisi lain, kelucuan dituangkan Ernest lewat stereotip kultural tentang orang ndeso , orang cina dan apapun itu tanpa harus menyinggung mereka. Sebaliknya, filmnya dengan mujur terarahkan pada kesan yang toleran.

Ceritanya tidak berat, dan juga tidak terlalu berkonflik, lagi-lagi sama: tentang pilihan yang penuh dengan konsekuensi dan pengorbanan, apa semuanya betul-betul bisa kita lalui tanpa mengecewakan orang, dan bagaimana jika kita sebetulnya tidak nyaman dengan pilihan yang ada. Nah, itu adalah kasus untuk Erwin (Ernest Prakasa), anak kantoran prestatif, pengejar karir, dan saat ini pintu terbuka sangat lebar bagi dirinya untuk promosi menjadi (semacam) manajer cabang di Singapura. Baru saja kabar tersebut menyulut kegembiraannya, Bapaknya, Koh Afuk (Kin Wah Chew) yang sudah berpuluh tahun bekerja di toko miliknya sendiri, memberikan mandat pada Erwin untuk menggantikannya dan melepas semua yang ia miliki saat ini.

Oke itu keputusan sulit, tapi naskah Ernest tak berhenti disitu untuk menawarkan pelik. Ada Dion Wiyoko sebagai Yohan, kakak Erwin, yang tergambarkan memiliki masa lalu tak terlalu bagus, sehingga ia tak dipercaya sang Bapak untuk meneruskan Toko. “Urus hidup kamu sendiri aja gak bener, apalagi urus karyawan”, ucapan Koh Afuk tak bisa lebih sakit. Yohan kemudian, diceritakan harus bergelut dengan emosi, namun lebih banyak tentang kesedihan.

Yohan dan Erwin seperti berkebalikan, tapi yang harus diperhatikan adalah Ernest tak menggambarkan keduanya lebih superior ketimbang yang lain tentang nurani. Masa lalu mereka mungkin berbeda, tetapi karakter yang mereka bawakan sama-sama berada di pihak baik. Kita bersimpati pada keduanya ketika mereka menghadapi kendala-kendala yang ada.

Dan seperti yang kusebut di headline, karena baik Yohan dan Erwin memiliki tempat di hati penontonnya, dengan sangat baik Ernest mengemudikan kisah kehidupan mereka kearah skenario yang mutual, penuh dengan hati dan membuat seluruh keadannya jauh lebih baik. Cek Toko Sebelah terasa nostalgik apalagi kita mau berempati pada karakter Koh Afuk yang juga baik dalam menghidupkan filmnya.

Berbicara tentang hal lain, film ini juga punya. Komedinya bagus, terstruktur dan tepat sasaran. Mereka terkulai dalam gambaran karyawan-karyawan Toko yang dipenuhi dengan komika stand-up comedy, persaingan kecil antara toko Koh Afuk dan toko sebelah, sampai lomba hias toko terbaik sebagai intermezzo. Namun entah mengapa, bagian film tentang Tora Sudiro sebagai Robert sang Developer kurasa berprogres terlalu jauh dan cukup vulgar.

Ringan tetapi moving. Jangan salah, Ernest pun memberikan panggung juga bagi Gisella Anastasia dan Adinia Wirasti yang keduanya berperan sebagai supporting system -pasangan bagi Yohan dan Erwin. Tentang mereka-pun, juga diceritakan dengan porsi yang cukup.

Entah mengapa aku tiba-tiba teringat karakter Asri Welas yang dua kali menyanyikan lirik yang sama dalam bagian luang film ini: “Harta yang paling berharga adalah…..keluarga”. Dan aku baru menyadari bahwa Ernest mampu menghidupkan pesan itu, di film ini, dengan sangat baik.

Engineering student but movies way more than manufactures