Review – Captain Fantastic (2016)

4

Selain mempromosikan perjuangan ayah single-parent , Captain Fantastic juga menjual materi yang mengajak penontonnya untuk berpikir terbuka. Pembelajaran akan beberapa hal tentang ideologi, dan bagaimana jika apa yang kau anut ternyata tidak se-ideal itu.

Ben Cash (Viggo Mortensen) adalah bapak dengan enam anak segala umur dengan si sulung yang berusia sekitar 20 tahunan awal (diperankan oleh George Mackay), dua adik perempuan dengan umur sekitar 18 atau 19 tahunan dan sisanya masih berumur belia. Telah 10 tahun hidup di tengah belantara pasifik barat laut amerika karena sesuatu alasan yang tak dijelaskan diawal. Ben dan semua anaknya menjalani hidup ala naturalis, berburu dan menyayati hewan. Semuanya harus bisa. Melakukan latihan fisik rutin dan Ben mengajari seluruh anaknya cara bertarung, sebagai latihan pertahanan diri, katanya. Memanjat tebing juga termasuk latihannya. Disisi lain, anak-anak Ben teredukasi dengan baik, membaca buku tiap malam, rumah kecil ditengah hutan mereka dipenuhi buku, dan semuanya bisa bermain musik pula. Captain Fantastic, seperti kala kita membaca atau mendengar suatu cerita narasi pada umumnya, memiliki awal dengan pendahuluan yang cukup rapi.

Hingga konflik muncul, memaksa Ben dan anak-anak harus meluncur ke dunia luar, semakin adventurous, dengan bis hijau besar, Ben sekeluarga berpetualang menghadapi ‘hal baru’. Bagaimana rasanya satu dekade hidup di tengah rimba lalu tiba-tiba peradaban perkotaan memanggil ?. Wellit’s an intriguing plot move, isn’t it ?. Captain Fantastic, setelah itu, bertransformasi menjadi road movie.

Tentang premisnya, aku (dan kujamin kau pula), mungkin sedikit terkejut dengan komposisi karakternya yang eksentrik. Viggo Mortensen dan enam orang berperan sebagai saudara kandung (dimainkan oleh Mackay, Annalise Basso, Samantha Isler, Shree Crooks, Nicholas Hamilton, dan Charlie Shotwell ). Memaksa film untuk mengeksplorasi hal ini, hal tentang keluarga, secara internal, minimal. Dan kebetulan, Matt Ross (sutradara yang sebenarnya tidak memiliki cukup pengalaman dalam menulis dan menyunting) mengeksekusinya dengan bagus. Captain Fantastic bisa kau lihat sebagai film dengan elemen family-bond yang memikat dan memenuhi sarat. Dan ini bukanlah film comedy yang mengangkat tema dysfunctional family karena biasanya lebih berhasil, seperti Little Miss Sunshine atau Royal Tenenbaums. Keluarga Ben seluruhnya adalah orang cerdas, cerita tentang Bo yang diam-diam mendapat surat bahwa ia diterima di Universitas manapun, Nai yang selalu bertanya tentang hal baru, si 8 tahun Zaja yang mampu menjelaskan apa itu ‘bill of rights’ secara detil, dan Rellian yang masih tak mengerti mengapa mereka tidak merayakan Natal seperti orang-orang, namun justru merayakan hari Noam Chomsky yang entah apa itu maknanya !. Porsi yang begitu balanced, kadang-kadang Captain Fantastic adalah argumen antara Ben dengan anak-anaknya, kadang juga momen dimana Ben didukung sepenuhnya oleh anak-anaknya. Aku khawatir Matt Ross akan memunculkan konflik antar siblings sebagai senjata drama tambahan, itu tidak terjadi, dan aku senang film ini bisa lebih berkembang tanpa itu.

Film ini mungkin tentang semua yang kujelaskan tadi, Captain Fantastic adalah drama yang panjang, secara mengejutkan plotnya menebal, esensinya meluas dengan baik. Ini mungkin juga komedi, namun dengan rasa gelap (baca : dark comedy), dimana film ini memakai hal-hal tidak umum seperti kematian atau adegan telanjang bulat Mortensen di depan orang tua sebagai bahan candaan. Hmm, Captain Fantastic adalah komedi yang cerdas tepatnya, bumbu Matt Ross yang satirikal, sindiran sana-sini terhadap obesitas orang kota hingga sistem pendidikan modern yang salah kaprah. Captain Fantastic adalah literatur tentang filsafat mungkin, seringkali kau akan mendengar kata-kata tentang kapitalis, liberalis atau nasionalis. Adegan dimana Ben menjelaskan bahwa istrinya adalah seseorang Budhist yang mempraktikkan Budhisme bukan sebagai agama, namun filosofi hidup, dimana justru agama adalah suatu dongeng berbahaya, Kontroversial, namun cara film ini mempromosikan sifat keterbukaan-pikiran, cukup menggugah dari situ, dan mungkin unsur ini akan menjelaskan alasan kenapa Ben Cash sekeluarga harus hidup dihutan.

Sangat kusarankan film ini, paduan akan perasaan sedih dan senang, Ben sebagai karakter Viggo mendera hampir seluruh permainan psikologis yang ada. Bagaimana jika selama ini ia salah, atau justru jika sebenarnya ia tahu ia salah, menghidupi anaknya di hutan tanpa ada pengaruh dunia luar. Apa yang akan ia lakukan jika dunia luar itu ingin mengambil alih anaknya ?, menyesal, tapi bagaimana memperbaiki keadaan, atau haruskah ia mendalami kata-kata yang pernah ia ucapkan sendiri, bahwa ada pertandingan yang tak bisa dimenangkan.

Captain Fantastic memiliki banyak cerita untuk diberikan, banyak pertanyaan untuk dikuak. Dan Viggo tidak mengecewakan satu menit-pun (kecuali ketika adegan dimana ia bernyanyi ‘Sweet Child O’ Mine’ yang suaranya tidak terlalu enak didengar). Underrated dengan mengetahui Viggo agak nganggur belakangan tahun, setelah Two Faces of January, ia tidak membintangi apapun hingga film ini. Well, kita doakan yang terbaik untukmu, Viggo !.

Engineering student but movies way more than manufactures