Review – Blade Runner 2049 (2017)

4.5

Blade Runner 2049 memumbulkan derajat semesta yang teremban di film pertamanya. Walaupun tidak meledak dipasaran, ini tetap satu sekuel yang sempurna.

Denis Villeneuve mungkin adalah salah satu orang yang paling konkrit dalam mengungkapkan rasa hormat dan kekagumannya terhadap suatu karya seni. Blade Runner 2049 dengan segala kualitas plot serta keseluruhan visual dan desain produksinya yang superlatif, tidak hanya mengemukakan sebuah tribute, tapi ia juga mengeskalasikan derajat franchise original Blade Runner karya Ridley Scott, dan semestanya menjadi sesuatu yang lebih besar lagi.

Difilmnya ini adalah 30 tahun setelah kejadian Rick Deckard (Harrison Ford) yang kabur dengan Rachael (Loren Peta) setelah menyaksikan Roy Batty mati didepan matanya dan mungkin telah mengubah cara pandangnya kemudian. Dan semenjak itu, ekosistem dunia dan perkembangan industri telah berubah. Lebih canggih, dengan penguasa dan pemain besar baru yang berbeda, namun konsep perdamaian masih belum berjalan sebagaimana mimpi film pertamanya.

Oke, sekarang adalah masa depan. Setelah kehancuran Tyrell Corporation, ijin pembuatan replikan dimenangkan kembali dan pabrikannya diakuisisi oleh perusahaan baru Wallace Corporation yang dipimpin oleh Niander Wallace (Jared Leto). Dibawah tangannya, Nexus mengalami perkembangan hingga seri Nexus 8. Nexus ini tentu saja berlebih dibanding yang Nexus 6 yang kita lihat sebelumnya. Kognitifnya bertambah, kekuatan fisiknya bertambah, namun ternyata masih saja, keinginan mereka untuk merdeka juga bertambah karena itu. Oleh sebab itu, Wallace mengembangkan replikan generasi terbaru, Nexus 9, dengan ketahanan melampaui replikan pendahulunya (sekali lagi) namun dimodifikasi sedemikian rupa agar mereka tidak memiliki emosi.

Alasan mereka dibuat?, tentu saja sebagai tindak preventif terhadap pembangkangan yang selama ini terjadi. Namun ada pula tujuan lainnya, ditunjukkan Villeneuve melalui eksistensi karakter utamanya, yaitu Officer K (nantinya akan bernama Joe, diperankan oleh Ryan Gosling). Replikan Nexus 9 yang dipekerjakan oleh Los Angeles Police Department, untuk menghabisi replikan pembangkang. Dia adalah Blade Runner masa kini. Bedanya jika di film pertama Deckard dipresentasikan sebagai manusia, maka K disini adalah replikan, ditugaskan untuk membasmi jenisnya sendiri.

Blade Runner 2049 memiliki perkara yang reflektif kepada film pendahulunya. Perjalanan bertugas K mengingatkan kisah Deckard 30 tahun sebelumnya. Keduanya sama-sama berbenturan dengan dilema dan pertanyaan mengenai jati diri. Luar biasa, Villenueve bisa membangkitkan esensi semirip film pertamanya dengan latar belakang karakter utama yang berbeda.

Tidak hanya esensi dan subteks yang coba diungkapkan filmnya mengenai, sekali lagi, hak menjadi manusia yang merdeka, Villeneuve membuat film ini juga terasa nostalgis dan menawarkan perkembangan dalam waktu yang sama. Teknologi kini telah menciptakan artificial intelligence yang pada film ini menawarkan porsi mengenai kisah love interest. Kecerdasan artifisial dalam bentuk hologram berwujud manusia, dikembangkan dan dikomersilkan agar kau tidak merasa sendirian. Seperti replikan, mereka juga mulai mampu menanamkan perasaannya. Kita melihat Joi (Anna de Armas) yang dengan keterbatasannya mencoba menutup kehampaan K yang notabene tidak memiliki siapa-siapa.

Disini, kita masih akan melihat kota Los Angeles yang bercahaya disela-sela gedung itu, lengkap dengan iklan Coca-Cola dan Atari-nya. Kecuali, Villenueve mencoba mengekspos kota-kota lain yang ternyata menawarkan panorama futuristis yang benar-benar berbeda dan membuat mata kagum. Beberapa kota tergambar memang sudah terbengkalai, menunjukkan suasana dystopia, seperti reruntuhan kota Las Vegas yang mempesona namun tampak sunyi sebagai kota yang tampak selalu tenggelam oleh paparan badai pasir.

Skrip Villeneuve sendiri bukanlah penggubahan terhadap kisah karakter baru. Tampaknya memang seperti itu awalnya, tapi Villeneuve menunjukkan keinginannya untuk merekatkan dua film franchise ini sebagai sesuatu yang depended dalam konteks cerita. Di tahun 2049, Officer K menemukan sebuah kotak berisi tengkorak dari masa lalu yang terpendam dihalaman tempat tinggal Sapper Morton (Dave Bautista), Nexus 8 tua yang tersisa untuk dipensiunkan oleh K. Penemuan itu menggagas misi baru dan rasa kepenasaranan pula bagi K, dia harus menelusuri keberadaan Officer Rick Deckard, yang selama ini telah diburu dan hilang.

Blade Runner 2049 menjelaskan semuanya yang menggantung tentang apa yang akan terjadi setelah Blade Runner pertama berakhir. Ini mungkin masih tentang Deckard dan Rachel, dan kisah baru dari apa yang disebut Morton sebagai ‘peristiwa keajaiban’ bagi umat manusia dan replikan.

Ryan Gosling memberikan akting solid, khususnya secara mimik. Seperti karakter Christian Bale di Equillibrium, disini dia adalah tokoh utama yang tidak memiliki emosi. Setiap kali dicek oleh computer untuk memastikan kestabilan status ketidak-terpengaruhannya secara emosi tiap selesai menjalankan misi. Namun di film ini ada waktunya kebimbangan muncul; jika di Equillibrium Christian Bale getir terhadap luapan empati yang ia terima, disini Ryan Gosling lewat K dihantui oleh memori masa kecil palsu yang telah ditanamkan di nomor seri tubuhnya.

Blade Runner 2049 lewat K memberikan teka-teki tentang pencarian sosok misterius yang menantang secara psikologis dan pikiran. Baik K dan kita sebagai penonton, akan sama-sama menduga kearah yang sama, hanya untuk mengetahui bahwa ternyata skenario kehidupan sungguh penuh tipu daya. Tapi aku suka itu, aku bisa menerima bahwa ini bukanlah tentang K (kau tahu maksudku jika telah menonton filmnya), dan bagaimana K juga bisa menerima itu. Tapi tetap, keberadaannya di film ini membekas. Dalam sejarah perfilman, dia mungkin adalah karakter mediator terbaik yang pernah ditulis.

Kembali lagi mengenai dedikasi Villeneuve, ia bahkan berkolaborasi dengan beberapa filmmaker minor untuk menggarap 3 film pendek: Blade Runner Black Out 2022, Blade Runner 2036: Nexus Dawn dan Blade Runner 2048: Nowhere to Run. Ekslusif untuk menguatkan kontinuitas cerita film awalnya dan juga sebagai media perkenalan dini untuk karakter-karakter di Blade Runner 2049 sendiri nantinya. Bagi yang ingin menonton tiga film pendeknya, YouTube telah memberikan akses.

Well, it’s hands down to say. Blade Runner 2049 adalah mahakarya yang ekstensif. Sekuel yang berhasil. Memang, Villeneuve meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya, tapi ini kreasi yang bukan main-main. Villeneuve adalah seorang penggemar film pertama karya Ridley Scott di serial satu ini, namun sepertinya Scott-lah yang harus berterima kasih pada Villeneuve karena Blade Runner 2049 telah membuat Blade Runner tampak sebagai sebuah warisan yang berharga tanpa ia pernah memintanya.